Buletin Islam | Lion Air Group membantah isu bahwa Batik Air, salah satu maskapai di bawah naungan mereka menyediakan penerbangan ke Afghanistan untuk mengevakuasi warga negara Indonesia yang ada disana.
“Mengenai hal tersebut, bahwa Batik Air tidak terbang ke Afghanistan,” kata Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group.
Kabar ini pertama kali menjadi perbincangan setelah Indoflyer mengunggah tangkapan layar situs pemantau penerbangan, flightradar24.
Dalam tangkapan layar itu, terpampang keterangan satu pesawat Batik Air dijadwalkan terbang dari Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Kabul, Afghanistan, pada 19 Agustus, pukul 01.40.
Baca Juga:
Taliban, Mulai Dari Taklukkan Afghanistan Hingga Kuasai Istana Kepresidenan
3 Hari Berkuasa, Kelompok Taliban Wajibkan Para Wanita Untuk Berkerudung
“A320neo Batik Air PK-BDF akan terbang ke Kabul Afganistan 19 Agustus 2021 untuk menjemput WNI yang ada di sana,” tulis Indoflyer di Twitter.
Namun, ketika dicoba untuk kembali mengakses situs flightradar24 pada Kamis (19/8) pagi, status penerbangan tersebut berubah dari awalnya “Scheduled” menjadi “Unknown”.
Situasi di Afghanistan sendiri saat ini sedang tak menentu. Pada Selasa (17/8), pasukan keamanan Amerika Serikat menghentikan semua penerbangan militer dan sipil di bandara Kabul setelah ribuan warga memenuhi landasan pacu.
“Tidak ada penerbangan yang datang atau pergi, militer atau sipil, karena kerumunan besar masih berada di landasan,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan AS, John Kirby, seperti dikutip dari AFP.
Video yang beredar menunjukkan ribuan warga Afghanistan membanjiri landasan pacu Bandara Kabul. Banyak warga nekat menaiki roda, sayap, hingga atap pesawat demi bisa mendapatkan kursi terbang keluar Afghanistan.
Di tengah ketidakpastian ini, Indonesia belum melakukan evakuasi WNI dari Afghanistan. Kementerian Luar Negeri hanya menyatakan bahwa mereka masih terus memantau situasi dan sudah menyusun rencana evakuasi jika keadaan makin buruk.
“Kondisi terkini WNI di Afghanistan terus diobservasi dan komunikasi dengan mereka terus berlangsung. Perencanaan dan simulasi untuk evakuasi terus dilakukan,” ujar Teuku Faizasyah, juru bicara Kemlu, sehari setelah Taliban menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan.
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI, Judha Nugraha, juga menyatakan bahwa misi diplomatik di Kabul masih akan beroperasi.
“Misi diplomatik Indonesia di Kabul masih beroperasi. Belum terdapat rencana pemerintah untuk menutup misi tersebut. Misi akan dioperasikan oleh staf esensial, yang terdiri dari unsur diplomat maupun unsur keamanan,” kata Judha.
Ia menyatakan bahwa hingga saat ini terdapat 15 WNI yang telah melaporkan keberadaannya di Afghanistan, terdiri dari ekspatriat, pegawai Badan PBB, hingga ada yang menikah dengan warga setempat. Judha menegaskan seluruh WNI tersebut dalam kondisi baik dan aman.
“Kemlu RI dan KBRI Kabul terus memantau perkembangan eskalasi keamanan di Afghanistan. Keselamatan dan kesehatan WNI termasuk staf KBRI menjadi prioritas utama,” kata Judha.
