Hal ini bisa berdampak buruk dalam jangka waktu tertentu. Shockbreaker bisa mati, karena dipaksa bekerja diluar batas wajar.
“Kan ada jarak aman travel shockbreaker, nah itu jadi tidak sesuai karena ada tambahan anting. Bantingan keras, ayunan terbatas, ujung-ujungnya suspensi bermasalah,” kata dia.
Travel suspensi belakang, padahal menentukan ayunan per lembut atau keras. Jika jarak main per panjang, maka bantingan terasa lembut. Sebaliknya, suspensi belakang yang di tinggikan, bantingan otomatis jadi keras.
“Walau cuma 2-5 cm, suspensi tidak bisa mengayun seperti standar. Apalagi kalau muatan berat, shockbreaker cuma jadi tumpuan,” tutur Nurhadi.
