“Berawal dari ban yang kurang udara lalu menabrak benda keras seperti batu, trotoar, dan lubang akan menyebabkan dinding ban menekuk, tergencet antara pelek dan permukaan jalan secara tiba-tiba, lalu benang di samping ban ada yang putus,” ujar Zulpata belum lama ini. Dalam kondisi benang di samping atau dinding ban ada yang putus, menimbulkan dampak tak adanya penahan pada sisi kiri atau kanan.
Saat ban diisi udara, akan menekan karet pada bagian samping yang jika dilihat dari luar membentuk sebuah benjol. “Ban benjol baru terlihat ketika ban diisi udara kembali. Kalau ada benang samping yang putus, udara menekan bagian tersebut dan dari luar akan terlihat benjol bannya,” kata Zulpata. Seperti diketahui, kurangnya tekanan udara sebenarnya menjadi musuh besar yang mempengaruhi keawetan kondisi ban.
Ban dengan kondisi udara yang yang kurang dapat memberikan efek buruk, seperti mempengaruhi performa mobil karena tarikan yang lebih berat, konsumsi bahan bakar, sampai menyebabkan benjolan bahkan pecah dalam perjalanan.
