Covid-19 Kian Kukuhkan Karakter Nusantara

  • Whatsapp
Buletin Islam | Tidak dapat dipungkiri merebaknya wabah Corona baru-baru ini benar-benar bersifat global. Bukan hanya satu negara yang terdampak, namun nyaris seluruh bangsa merasakan pedihnya pandemi yang melanda. Bahkan kenyataan bahwa negara-negara besar sekalipun hampir-hampir tak berdaya menghadapi penyakit yang jelas-jelas meminta nyawa manusia. Di sini, teori konspirasi mulai mendangkal. Tetapi di luar teori yang dilontarkan sebagian orang itu, wabah Corona benar-benar fakta di depan mata kita.
Covid-19 Kian Kukuhkan Karakter Nusantara
Hal yang pasti, akibat Covid 19 banyak sektor yang terdampak. Bukan saja dunia pendidikan, tatanan sosial, ritual keagamaan tetapi juga termasuk ekonomi. Lebih-lebih ekonomi masyarakat menengah ke bawah, kini mulai oleng.

Tidak sedikit ekonomi masyarakat kelas bawah yang harus tertatih dan terseok-seok. Pedagang kaki lima yang mengandalkan kerumunan anak sekolah sebagai ladang pencarian, misalnya. Semenjak lembaga pendidikan beralih model dengan pembelajaran online, menjadikan para pedagang tersebut kehilangan lumbung nafkahnya.

Bacaan Lainnya

Belum lagi, banyaknya PHK massal di berbagai perusahaan, membuat karyawan menjerit. Apalagi daya beli warga yang terlihat lesu menambah roda perekonomian tambah melamban.

Terlepas dari sikap pemerintah yang menyerukan pembatasan-pembatasan, khususnya di daerah zona merah, merupakan langkah dan dimaksudkan sebagai ikhtiar memenggal mata rantai virus, tetapi disadari atau tidak kebijakan itu mulai menyapu tunas-tunas kekuatan UKM/UMKM dalam sektor riil perekonomian bangsa.

Walaupun terdapat sekelompok pihak yang mengobarkan semangat supaya masyarakat kembali memperkuat ketahanan pangan, namun Coronavirus yang mewabah telah mengagetkan psikologi massa sehingga upaya-upaya pemberdayaan potensi alam masih mengkerut.

Menguatnya Gotong Royong

Munculnya wabah ini memang menjadi pukulan berat bagi sebagian besar warga tidak mampu, namun dibalik musibah itu secara tidak disadari telah merainkarnasi sensitivitas masyarakat. Keterpurukan ekonomi segenap lapisan rakyat jelata ternyata sanggup menggugah rasa simpati dan kepedulian banyak kalangan.

Berkat Covid 19, tidak sedikit pihak yang mulai menggalang dana dengan berbagai cara untuk selanjutnya dibagikan kepada anggota keluarga yang terdampak langsung. Sebagaimana diketahui secara umum, belakangan ini gerakan pengumpulan pundi-pundi marak dilakukan baik atas nama pribadi, maupun komunitas, organisasi keagamaan, sosial atau politik.

Seperti banyak dimaklumi dari ragam pemberitaan, pengumpulan dana tidak saja dikomando secara kolektif, tetapi banyak dipandegani secara personal. Para artis, misalnya, yang mekomandani gerakan sosial ini guna ikut serta berperan meringankan beban kaum dhuafa. Sebut saja tamsilnya, sang raja dangdut Rhoma Irama yang berhasil menghimpun sekian ratus juta atau sang mainstro pelantun lagu-lagu Jawa, Didi Kempot yang konon katanya mampu menyerap sekian miliar.

Selain kucuran dana pemerintah yang dinilai tidak memuat kebutuhan seluruh rakyat, biaya negara yang digelontorkan bukan hanya buat korban Covid 19, tetapi harus dibagi pada sektor-sektor lain yang juga penting keberlangsungannya. Sebab itulah, munculnya kesadaran masyarakat menolong orang-orang yang kian terjepit akibat kondisi ini merupakan salah satu angin segar bagi bangsa agar tetap eksis.

Fenomena ini sebenarnya bukan perilaku asing bangsa Indonesia. Jika menilik sejarahnya, sikap saling tolong menolong sudah menjadi karakter masyarakat nusantara sejak lama. Rupanya adat istiadat ketimuran yang disinyalir mulai mengering, kini semakin mengkristal kembali. Maka tidak heran, bila pada sisi ini banyak orang luar negeri yang tercengang menyaksikan betapa agungnya tradisi warga bangsa Indonesia yang jarang dimiliki negara lain. Bahkan kenyataan ini membuat harapan dan optimisme sebagian besar masyarakat benar-benar kokoh melewati keterkungkungan bangsa dari kelamnya wabah yang mengglobal ini.
~~~
Semoga berkah

HM Muhammad Madarik Yahya
Dewan Pengasuh PPRU 2 Putukrejo dan staf pengajar IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *