Iman adalah anugerah yang paling berharga, sekaligus amanah yang perlu dijaga setiap hari. Ia bisa menguat ketika seseorang rajin beribadah, belajar, dan bergaul dengan orang-orang baik, tetapi ia juga bisa melemah ketika hati terlalu sibuk dengan dunia, lalai dari zikir, atau dikelilingi pengaruh yang buruk. Karena itu, para ulama mengajarkan agar seorang muslim tidak hanya berusaha dengan amal, tetapi juga memohon kepada Allah agar diteguhkan di atas iman dan agama-Nya. Doa menjadi pengikat antara usaha dan tawakal.
Artikel ini menyajikan dua doa utama untuk memohon keteguhan iman: doa dari Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 8 dan doa yang sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi. Keduanya dilengkapi teks Arab, transliterasi Latin, dan terjemahan bahasa Indonesia, disertai penjelasan ringkas tentang makna dan waktu membacanya, agar mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Doa dari Al-Qur’an: Ali Imran Ayat 8
Doa pertama berasal dari Surah Ali Imran ayat 8. Ayat ini diucapkan oleh orang-orang yang mendalam ilmunya, yang memohon agar hati mereka tidak menyimpang setelah Allah memberi petunjuk. Doa ini mengajarkan kesadaran bahwa hidayah adalah pemberian Allah, sehingga manusia yang telah mendapat petunjuk pun tetap perlu memohon agar dijaga dari kesesatan.
Teks Arab
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Latin
Rabbanā lā tuzigh qulūbanā ba’da idz hadaitanā wa hab lanā min ladunka raḥmah, innaka antal-Wahhāb.
Artinya
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami (kepada kesesatan) setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS Ali Imran: 8)
Tiga permohonan terkandung dalam ayat ini. Pertama, permohonan agar hati tidak condong kepada kesesatan setelah mendapat hidayah. Kedua, permohonan rahmat dari sisi Allah, karena rahmat itulah yang membuat seseorang mampu istiqamah. Ketiga, penegasan bahwa Allah adalah Al-Wahhab, Maha Pemberi, sehingga tidak ada permohonan yang terlalu besar untuk dipanjatkan kepada-Nya. Doa ini dapat dibaca setelah salat, dalam sujud, atau pada waktu-waktu mustajab lainnya.
Doa yang Sering Dibaca Rasulullah
Doa kedua adalah doa yang diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Ketika ditanya doa apa yang paling sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berada di sisinya, beliau menjawab dengan doa memohon keteguhan hati di atas agama Allah. Riwayat ini terdapat dalam Sunan at-Tirmidzi nomor 3522 dengan derajat hasan, dan menjadi dalil betapa pentingnya doa ini dalam kehidupan Nabi sendiri.
Baca Juga: Doa Sebelum Belajar Lengkap: Arab, Latin, Artinya, dan Adab Menuntut Ilmu | Doa Memohon Ilmu yang Bermanfaat: Arab, Latin, dan Artinya
Teks Arab
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Latin
Yā Muqallibal-qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
Artinya
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Dalam riwayat tersebut, Rasulullah menjelaskan alasan doa ini sering beliau baca: tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah; siapa yang Allah kehendaki, Dia teguhkan, dan siapa yang Allah kehendaki, Dia condongkan. Penjelasan ini menumbuhkan sikap rendah hati: sebesar apa pun amal seseorang, ia tetap membutuhkan pertolongan Allah agar tetap teguh.
Mengapa Iman Perlu Terus Dijaga?
Iman dalam Islam dipahami sebagai keyakinan, ucapan, dan perbuatan yang saling menguatkan. Ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Karena itu, menjaga iman bukan pekerjaan sekali jadi, melainkan perawatan harian. Seseorang yang rajin membaca Al-Qur’an, menjaga salat lima waktu, berzikir, dan menuntut ilmu akan lebih mudah merasakan ketenangan dan kejelasan arah hidup. Sebaliknya, ketika ibadah mulai ditinggalkan, hati mudah gelisah dan mudah terpengaruh oleh ajakan yang menjauhkan dari agama.
Keteguhan iman juga tampak dalam sikap sehari-hari: jujur dalam bekerja, sabar menghadapi ujian, lembut kepada keluarga, dan adil kepada sesama. Iman yang teguh tidak hanya membuat seseorang khusyuk dalam ibadah, tetapi juga membuatnya dapat dipercaya dalam pergaulan. Karena itu, doa memohon keteguhan iman sebaiknya dibarengi dengan usaha nyata: memilih lingkungan yang baik, menjaga pergaulan, dan membiasakan amal-amal kecil yang konsisten, seperti membaca Al-Qur’an setiap hari meski hanya beberapa ayat.
Kapan dan Bagaimana Membaca Doa Ini?
Kedua doa di atas dapat dibaca kapan saja, tetapi ada waktu-waktu yang sangat dianjurkan, antara lain setelah salat fardu, pada sepertiga malam terakhir, ketika berzikir pagi dan petang, serta saat hati terasa goyah menghadapi godaan atau ujian. Tidak ada jumlah bacaan khusus yang diwajibkan; yang utama adalah membacanya dengan memahami arti, menghadirkan hati, dan mengiringinya dengan usaha memperbaiki diri.
Bagi orang tua, doa ini juga dapat diajarkan kepada anak-anak sejak dini, misalnya dibaca bersama setelah salat Magrib atau sebelum tidur. Bagi remaja dan pekerja yang sibuk, doa singkat “Ya Muqallibal-qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik” sangat praktis karena pendek dan mudah dihafal, sehingga dapat dibaca di sela-sela aktivitas, di perjalanan, atau sebelum memulai pekerjaan. Membiasakan doa ini akan melatih hati untuk selalu kembali kepada Allah dalam setiap keadaan.
Penutup
Memohon keteguhan iman adalah doa yang diajarkan Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah. Ia mengingatkan bahwa hidayah adalah anugerah yang harus dijaga, bukan sekadar dimiliki. Dengan membiasakan dua doa di atas, disertai amal saleh yang konsisten dan lingkungan yang mendukung, semoga Allah meneguhkan hati kita di atas agama-Nya hingga akhir hayat, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang istiqamah. Aamiin.
Sumber:
- Quran.com, Surah Ali ‘Imran Ayat 8, diakses 4 November 2026
- Sunnah.com, Jami’ at-Tirmidhi 3522 — Chapters on Supplication, diakses 4 November 2026