Ketika mendengar bunyi gong yang bergema pelan, disusul denting saron dan ketukan kendang yang teratur, sebagian besar orang Indonesia langsung mengenalinya: itulah gamelan. Gamelan adalah ansambel musik tradisional yang berasal dari Jawa, Indonesia, dan telah menjadi salah satu identitas budaya Indonesia yang paling dikenal di dunia. Sejak tahun 2021, seluruh instrumen gamelan secara resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, sebuah pengakuan yang menegaskan bahwa gamelan bukan sekadar alat musik, melainkan kekayaan peradaban yang harus dilestarikan bersama.
Berbeda dengan orkestra barat yang mengandalkan tangga nada diatonis, gamelan memiliki tangga nada pentatonis dalam sistem laras slendro dan pelog. Artinya, dalam satu oktaf hanya terdapat lima nada, dan kombinasi nada-nada itulah yang melahirkan warna bunyi gamelan yang khas: hangat, tenang, namun penuh daya. Perpaduan bunyi yang dihasilkan bukan sekadar musik untuk didengarkan, melainkan juga bagian dari upacara, pertunjukan tari, wayang, dan kehidupan masyarakat Jawa dan Bali selama berabad-abad.
Seorang penabuh memainkan gamelan di Sumedang, Jawa Barat. Foto: Ruyat Supriazi via Pexels.
Nama “gamelan” sendiri berasal dari bahasa Jawa “gamêl” yang berarti memukul atau menabuh, karena sebagian besar instrumennya memang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan palu atau pemukul. Istilah “karawitan”, yang mengacu pada musik gamelan klasik dan praktik pertunjukannya, berasal dari kata “rawit” yang berarti rumit atau dikerjakan dengan baik. Kata ini berakar dari bahasa Sanskerta dan mengacu pada rasa kehalusan serta keanggunan yang diidealkan dalam musik Jawa. Dalam bahasa Jawa halus (krama), gamelan disebut “gangsa”, yang dibentuk dari kata “tiga” dan “sedasa” (tiga dan sepuluh), merujuk pada bahan pembuat instrumen gamelan, yaitu perpaduan tiga bagian tembaga dan sepuluh bagian timah.
Seperangkat gamelan terdiri dari banyak instrumen yang masing-masing memiliki peran tersendiri. Instrumen yang paling umum adalah metalofon, antara lain gangsa, gender, bonang, gong, saron, dan slenthem, yang dimainkan oleh para wiyaga menggunakan palu. Ada pula kendang, yaitu membranofon yang dimainkan dengan tangan dan berfungsi mengontrol tempo serta irama lagu dan transisi dari satu bagian ke bagian lainnya. Instrumen lain meliputi kemanak (idiofon), gambang (xilofon), seruling (aerofon), rebab (kordofon), serta kelompok vokal yang dikenal sebagai sinden untuk penyanyi wanita dan gerong untuk penyanyi pria. Semua instrumen itu dipadukan dalam satu kesatuan bunyi yang saling mengisi.
Baca Juga: Mengenal Reog Ponorogo: Seni Tradisional dari Jawa Timur yang Mendunia
Baca Juga: Menonton Pertunjukan Wayang: Hiburan Tradisional yang Mendidik
Seperangkat gamelan dikelompokkan menjadi dua, yakni gangsa pakurmatan dan gangsa ageng. Gangsa pakurmatan dimainkan untuk mengiringi upacara adat, penobatan, dan peringatan kenaikan takhta, serta sebagai pengiring wayang. Sementara itu, gangsa ageng dimainkan sebagai pengiring tari dan wayang. Pembagian ini menunjukkan bahwa gamelan tidak sekadar hiburan, melainkan memiliki fungsi ritual dan sosial yang jelas dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Sejarah gamelan sangat panjang dan terjalin erat dengan peradaban Nusantara. Gambar paling awal dari himpunan alat musik gamelan ditemukan pada relief dinding Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 di Magelang, Jawa Tengah. Dalam mitologi Jawa, gamelan yang awalnya bernama Gamelan Lokananta adalah gamelan tak berwujud yang berbunyi di angkasa pada masa Batara Guru memerintah, sekitar tahun 167 Saka atau 230 Masehi. Gamelan kemudian berkembang menjadi bentuk seperangkat peranti musik yang lengkap pada masa Kerajaan Majapahit, lalu menyebar ke berbagai daerah seperti Madura, Bali, Sunda, dan Lombok.
Gamelan juga memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Di Lamongan, Jawa Timur, terdapat gamelan kuno dari abad ke-15 yang disebut Gamelan Singo Mengkok, warisan dari Sunan Drajat, salah satu Wali Sanga. Gamelan ini digunakan untuk menyebarkan agama Islam di Paciran, Lamongan, dan dimainkan oleh para sahabat Sunan Drajat untuk mengiringi tembang Pangkur. Pada masa penyebaran Islam, Sunan Bonang menggubah gamelan yang saat itu sangat kental dengan estetika Hindu, memberi nuansa baru yang transendental dan mendorong kecintaan pada kehidupan, serta menambahkan instrumen bonang ke dalam satu set gamelan. Di lingkungan kraton, gamelan tertua yang diketahui adalah Gamelan Munggang dan Gamelan Kodok Ngorek yang berasal dari abad ke-12.
Ragam gamelan di Indonesia sangat banyak, dibedakan berdasarkan wilayah dan fungsinya. Gamelan Jawa meliputi gamelan untuk mengiringi Reog Ponorogo, Jaranan Thek, pertunjukan di lingkungan Karaton Kasunanan Surakarta dan Karaton Kasultanan Yogyakarta, wayang kulit, hingga kesenian khas Banyuwangi. Gamelan Sunda dikenal dengan degung, yang menggunakan subset instrumen gamelan dengan laras pelog tertentu dan biasanya diiringi sorakan khas Sunda. Gamelan Bali memiliki ciri tersendiri dengan perubahan tempo yang cepat dan dinamika yang kuat, seperti pada Gamelan Gong Kebyar, sedangkan Gamelan Selonding yang berasal dari abad ke-9 dianggap sakral dan digunakan untuk keperluan upacara keagamaan. Selain itu, ada pula Gamelan Sasak di Lombok, Gamelan Saronen di Madura, serta Gamelan Kutai, Gamelan Banjar, Gamelan Palembang, dan Gamelan Melayu.
Pada era kini, gamelan telah menjadi bagian dari musik dunia. Banyak universitas di luar Indonesia yang mempelajari gamelan, antara lain Cambridge University di Inggris, University of Minnesota, University of Michigan, dan University of Hawai’i di Amerika Serikat, serta The University of Sydney dan The University of Melbourne di Australia. Di kampus-kampus tersebut, gamelan dipelajari sebagai mata kuliah maupun kegiatan unit kesenian mahasiswa, sehingga generasi muda di berbagai belahan dunia pun mengenal bunyi gong, saron, dan bonang.
Di Indonesia sendiri, cara paling mudah untuk mengenal gamelan adalah dengan datang langsung ke pertunjukannya. Banyak sanggar seni, museum, dan pusat kebudayaan di Yogyakarta, Surakarta, dan Bali yang secara rutin menggelar pertunjukan gamelan, baik sebagai pengiring tari maupun wayang. Mengunjungi pertunjukan seperti itu bukan hanya hiburan, melainkan juga cara untuk memahami bahwa gamelan adalah warisan hidup: ia terus dimainkan, diajarkan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Gamelan mengajarkan bahwa keindahan dapat lahir dari kebersamaan. Tidak ada satu instrumen pun yang mendominasi; gong, saron, bonang, kendang, dan rebab saling mendengarkan dan saling melengkapi. Semoga generasi muda Indonesia terus merawat warisan ini, agar denting gamelan tetap terdengar di masa depan, dari pendopo kraton di Jawa hingga panggung-panggung dunia.
Sumber:
Wikipedia bahasa Indonesia – Gamelan: https://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan
