Hikmah bersabar menghadapi ujian adalah salah satu pelajaran terpenting dalam kehidupan seorang Muslim. Setiap manusia pasti diuji — dengan kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan, maupun kegagalan. Ujian datang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menguatkan dan meninggikan derajat hamba yang menjalaninya dengan sabar. Artikel ini membahas hikmah bersabar menghadapi ujian, sebagaimana dijelaskan dalam khutbah yang dimuat NU Online, agar kita dapat menghadapi cobaan dengan ketenangan dan keyakinan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa jika Allah mencintai seseorang, maka Allah akan mengujinya. Hadits itu berbunyi: Idzaa ahabballaahu ‘abdan ibtalaahu, fa in shabara ijtabahu wa in radhiya ishthafaahu — “Jika Allah swt mencintai seseorang maka Ia akan mengujinya. Kalau orang itu sabar, maka Allah swt akan menjadikannya orang mulia (mujtaba). Dan kalau ia ridha, maka Allah swt akan menjadikannya orang pilihan (musthafa).” Hadits ini mengubah cara pandang kita terhadap ujian: cobaan bukan tanda Allah membenci, melainkan tanda Allah memperhatikan dan hendak meninggikan derajat hamba-Nya.
Hikmah Bersabar: Tiga Macam Kesabaran
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dikutip Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa sabar menurut Al-Qur’an hanya ada tiga macam. Pertama, sabar dalam menjalankan kewajiban-kewajiban Allah, seperti shalat, puasa, dan menunaikan amanah. Kedua, sabar dalam menghindar dari larangan Allah, yaitu menahan diri dari perbuatan yang dilarang meski hawa nafsu menginginkannya. Ketiga, sabar terhadap musibah Allah, yaitu menerima dengan lapang dada setiap cobaan yang datang dari-Nya.
Dari ketiga macam kesabaran itu, kesabaran terhadap musibah disebut memiliki derajat yang paling luhur. Alasannya, sabar terhadap musibah adalah bentuk ketundukan yang paling murni: manusia tidak memilih musibahnya, tidak dapat menolaknya, dan hanya dapat menyikapinya dengan iman. Ketika seseorang tetap tenang dan tidak mengeluh saat ditimpa musibah, ia menunjukkan keyakinan yang mendalam bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan kembali kepada-Nya.
Baca Juga: Hikmah Tawakal dalam Bekerja: Berusaha Maksimal, Berserah kepada Allah
Baca Juga: Hikmah Menuntut Ilmu dengan Ikhlas
Sabar Menurut Risalah Qusyairiyah
Dalam Risalah Qusyairiyah, sabar didefinisikan sebagai meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut — tajarr’u al-mararah bi ghairi ta’bis. Definisi ini menggambarkan sabar bukan sekadar menahan diri, melainkan menahan diri dengan sikap yang baik. Orang yang sabar tetap menjaga wajahnya, tutur katanya, dan perlakukannya terhadap orang lain, meski hatinya sedang menanggung beban yang berat.
Definisi ini penting karena banyak orang yang tampak bertahan, tetapi sebenarnya dipenuhi keluhan dan kemarahan. Sabar yang sejati adalah ketika lisan tidak mengeluh, hati tidak berburuk sangka kepada Allah, dan anggota badan tetap menjalankan ketaatan. Inilah ketenangan di tengah cobaan yang dimaksud dalam judul artikel ini: bukan tidak merasakan sakit, melainkan tidak membiarkan sakit itu menguasai sikap dan iman kita.
Teladan Nabi Ibrahim dan Makna Ridha
Salah satu teladan kesabaran yang paling agung adalah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diperintahkan menyembelih putranya, sebagaimana dikisahkan dalam Surah As-Saffat. Nabi Ibrahim sabar terhadap sesuatu yang ia upayakan sendiri — ia tidak hanya menerima musibah yang datang, tetapi juga menjalankan perintah yang sangat berat dengan penuh ketaatan. Kisah ini menunjukkan bahwa sabar tidak selalu bersifat pasif; sabar juga berarti tetap taat ketika perintah Allah terasa berat.
Di atas sabar ada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu ridha. Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, hamba yang ridha terhadap ujian Allah akan dijadikan orang pilihan (musthafa). Ridha berarti menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, tanpa penyesalan dan tanpa pertanyaan “mengapa aku?” Ridha adalah buah dari keyakinan bahwa Allah Maha Bijaksana dan setiap ketetapan-Nya mengandung kebaikan, meski manusia belum mampu melihatnya.
Iman, Sabar, dan Balasan Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Al-iimaanu as-shabru was-samaahah — “Iman adalah keteguhan hati dalam bersabar dan murah hati.” Hadits ini menempatkan sabar sebagai inti dari iman itu sendiri. Seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak mampu bersabar ketika diuji, imannya masih perlu diperkuat. Sebaliknya, kesabaran yang kokoh adalah bukti nyata dari iman yang hidup di dalam hati.
Allah menjanjikan balasan yang besar bagi orang-orang yang sabar. Dalam Surah An-Nahl ayat 96, Allah berfirman bahwa Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Janji ini menjadi penghibur bagi siapa saja yang sedang diuji: setiap kesabaran yang dijalani tidak akan sia-sia, dan Allah akan membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik dari yang pernah dibayangkan.
Sabar menghadapi ujian bukanlah sikap pasrah tanpa usaha. Sabar berarti tetap berusaha mencari jalan keluar, tetap berdoa, dan tetap berikhtiar, sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Inilah ketenangan yang dijanjikan bagi orang yang bersabar: hati yang tenang karena yakin bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melampaui kesanggupannya, dan setiap ujian pasti membawa hikmah bagi yang mau merenungkannya.
Melatih Kesabaran dalam Kehidupan Sehari-hari
Kesabaran bukanlah bakat yang dimiliki sebagian orang saja, melainkan akhlak yang dapat dilatih setiap hari. Latihan itu dimulai dari hal-hal kecil: menahan amarah saat disakiti, tidak tergesa-gesa saat menghadapi kemacetan atau antrean, dan menjaga lisan ketika sedang kecewa. Setiap kali kita berhasil menahan diri dalam hal kecil, hati kita semakin terlatih untuk bersabar dalam ujian yang lebih besar. Membiasakan diri mengingat Allah saat diuji, berdoa memohon keteguhan, serta berkumpul dengan orang-orang saleh yang mengingatkan pada kebaikan, akan memperkuat kesabaran kita dari hari ke hari.
Sumber:
NU Online, Hikmah Sabar dan Keutamaannya, https://islam.nu.or.id/khutbah/hikmah-sabar-dan-keutamaannya-5tVDS, Kamis 5 Februari 2015
