Hikmah Rendah Hati: Kunci Kemuliaan Seorang Mukmin

Hikmah Rendah Hati: Kunci Kemuliaan Seorang Mukmin

Buletin Islam — Rendah hati adalah salah satu akhlak mulia yang paling ditekankan dalam Islam. Orang yang rendah hati tidak merasa dirinya lebih baik dari orang lain, tidak sombong dengan harta, ilmu, atau kedudukannya, dan selalu menyadari bahwa segala kelebihan yang dimilikinya berasal dari Allah. Sikap yang dalam bahasa Arab disebut tawaduk ini menjadi kunci kemuliaan seorang mukmin, baik di hadapan Allah maupun di tengah manusia.

Hakikat rendah hati sering kali disalahpahami. Sebagian orang mengira rendah hati berarti merendahkan diri di hadapan manusia atau merasa kecil dan tidak berharga. Padahal, menurut para ulama, rendah hati yang sesungguhnya ditujukan kepada Allah, bukan kepada manusia. Seseorang bersikap rendah hati karena menyadari kebesaran Allah dan kelemahan dirinya sebagai hamba, bukan karena ingin dipuji atau dihormati oleh manusia.

Foto: Zülfü Demir via Pexels

Allah menegaskan ukuran kemuliaan manusia dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13. Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan tidak diukur dari keturunan, kekayaan, atau jabatan, melainkan dari ketakwaan seseorang kepada Allah.

Baca Juga: Hikmah Senyuman: Sedekah Paling Ringan yang Bisa Mengubah Hari Seseorang | Hikmah Berbagi Ilmu: Kebaikan yang Terus Mengalir

Rendah Hati dalam Al-Qur’an

Salah satu gambaran paling indah tentang orang yang rendah hati terdapat dalam surat Al-Furqan ayat 63. Allah menggambarkan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih sebagai orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Mufasir besar Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab At-Tafsirul Munir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah berjalan dengan tenang, penuh kewibawaan, tanpa kesombongan dan tanpa sikap merendahkan orang lain.

Ayat ini menunjukkan bahwa rendah hati bukan hanya sikap batin, tetapi juga tercermin dalam cara seseorang bersikap dan bergaul. Orang yang rendah hati tidak berjalan dengan angkuh, tidak berbicara dengan nada merendahkan, dan tidak memperlakukan orang lain seolah-olah dirinya lebih tinggi. Kerendahan hati tampak dalam tutur kata, gerak-gerik, dan cara ia memandang sesama manusia.

Makna Tawaduk menurut Para Ulama

Al-Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ulama besar, menjelaskan bahwa tawaduk adalah tunduk pada kebenaran dan menerimanya dari siapa pun, baik dari orang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya, maupun dari orang yang tidak disukai. Orang yang rendah hati tidak menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu datang dari seseorang yang ia anggap lebih rendah darinya.

Pemahaman ini penting, karena banyak orang yang sulit menerima nasihat atau kritik dari orang lain. Kesombongan sering kali membuat seseorang menutup telinga terhadap kebenaran. Sebaliknya, orang yang rendah hati mau mendengarkan, mau belajar, dan mau memperbaiki diri, dari siapa pun kebenaran itu datang.

Ulama lain, seperti Abu Yazid Al-Bustami, menegaskan bahwa rendah hati adalah sikap seorang hamba yang menyadari posisinya di hadapan Allah. Sementara itu, Ibnu ‘Athaillah mengingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak akan pernah didapatkan oleh orang yang sombong, karena kesombongan menutup pintu hati dari kebenaran dan dari rahmat Allah. Al-Munawi pun menjelaskan bahwa tawaduk pada hakikatnya diperuntukkan kepada Allah, dan sikap rendah hati kepada manusia adalah buah dari kerendahan hati kepada Allah.

Balasan bagi Orang yang Rendah Hati

Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang rendah hati. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, beliau bersabda, “Siapa pun yang tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” Dalam bahasa Arab, hadis itu berbunyi: وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ. Hadis ini menegaskan bahwa kerendahan hati yang ikhlas karena Allah tidak akan merendahkan kedudukan seseorang, justru Allah yang akan mengangkat derajatnya.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa balasan bagi orang yang rendah hati karena Allah ada dua kemungkinan. Pertama, Allah mengangkat derajatnya di dunia, sehingga ia dihormati dan dicintai oleh manusia. Kedua, Allah mengangkat derajatnya di akhirat dengan pahala yang besar. Kedua kemungkinan ini menunjukkan bahwa rendah hati adalah jalan menuju kemuliaan, bukan jalan menuju kehinaan.

Cara Melatih Rendah Hati dalam Kehidupan Sehari-hari

Rendah hati dapat dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, biasakan menerima kebenaran dari siapa pun, termasuk dari orang yang lebih muda atau dari orang yang kita anggap lebih rendah. Kedua, jangan meremehkan orang lain, karena kita tidak pernah tahu derajat seseorang di sisi Allah. Ketiga, bersyukurlah atas segala nikmat yang dimiliki dan sadarilah bahwa semua itu adalah pemberian Allah, bukan semata-mata hasil usaha kita sendiri.

Keempat, biasakan mengucapkan terima kasih dan meminta maaf dengan tulus. Orang yang sombong sulit meminta maaf, karena ia merasa selalu benar. Sebaliknya, orang yang rendah hati tidak malu mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. Kelima, perbanyaklah mengingat kebesaran Allah dan kelemahan diri sendiri, agar hati senantiasa terjaga dari kesombongan.

Rendah hati adalah kunci kemuliaan seorang mukmin. Ia tidak membuat seseorang kehilangan harga diri, justru mengangkat derajatnya di sisi Allah dan di hadapan manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13, yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang rendah hati dan bertakwa.

Sumber: NU Online — Hakikat Rendah Hati: Ditujukan pada Allah, Bukan Manusia — https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/hakikat-rendah-hati-ditujukan-pada-allah-bukan-manusia-kMpHu

Pos terkait