Menjaga Lisan di Tengah Perbedaan Pendapat

Perbedaan pendapat adalah bagian yang wajar dari kehidupan bersama. Di keluarga, di tempat kerja, di ruang rapat, hingga di kolom komentar media sosial, orang bisa melihat persoalan yang sama dari sudut yang berbeda karena pengalaman, informasi, dan kepentingan mereka tidak selalu sama. Masalahnya jarang terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara kita menyampaikannya. Ketika lisan tidak dijaga, perbedaan yang seharusnya bisa didiskusikan justru berubah menjadi pertengkaran, luka perasaan, dan jarak yang sulit diperbaiki.

Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 mengingatkan orang-orang beriman agar suatu kaum tidak mengolok-olok kaum yang lain, karena bisa jadi mereka yang diolok-olok justru lebih baik. Pesan ini relevan untuk perdebatan sehari-hari: merendahkan lawan bicara, memberi julukan buruk, atau menyerang pribadi seseorang tidak membuat argumen kita menjadi lebih benar. Justru sikap seperti itu menutup pintu dialog, karena orang yang merasa direndahkan akan lebih sibuk membela harga dirinya daripada mendengarkan isi pembicaraan.

Sekelompok orang berbincang dalam suasana diskusi di dalam ruangan. Foto: Henri Mathieu-Saint-Laurent via Pexels.
Sekelompok orang berbincang dalam suasana diskusi di dalam ruangan. Foto: Henri Mathieu-Saint-Laurent via Pexels.

Menjaga lisan dimulai dari jeda sebelum berbicara. Ketika mendengar pendapat yang tidak kita setujui, godaan pertama biasanya adalah membalas dengan cepat, apalagi bila kita merasa pendapat itu keliru atau menyinggung. Jeda sejenak memberi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah yang akan saya ucapkan benar, perlu, dan disampaikan dengan cara yang baik? Pertanyaan sederhana ini sering kali cukup untuk mengubah kalimat yang tajam menjadi kalimat yang lebih jernih. Kita tidak harus setuju dengan semua pendapat, tetapi kita bisa tidak setuju tanpa harus melukai.

Langkah berikutnya adalah membedakan antara gagasan dan orangnya. Mengkritik suatu pendapat berbeda dengan menghakimi karakter seseorang. Kalimat seperti saya belum sependapat dengan usulan itu karena ada risiko yang perlu dipertimbangkan jauh lebih membuka ruang diskusi daripada kalimat yang menyerang pribadi. Menggunakan bahasa yang tertuju pada persoalan, data, dan dampak dari suatu pilihan membantu lawan bicara tetap fokus pada masalah, bukan pada pembelaan diri. Dengan cara ini, perbedaan pendapat bisa menjadi bahan untuk menemukan solusi yang lebih baik, bukan ajang untuk menentukan siapa yang menang.

Baca Juga: Adab Menjaga Lisan Saat Marah: Diam Sejenak, Bicara dengan Tenang dan Adab Berbicara di Media Sosial: Menjaga Lisan di Ruang Digital yang Cepat Panas

Mendengarkan adalah bagian lain dari menjaga lisan yang sering dilupakan. Banyak perdebatan menjadi panas bukan karena tidak ada jawaban, melainkan karena masing-masing pihak merasa tidak didengar. Mendengarkan sampai lawan bicara selesai, lalu mengulang kembali inti pendapatnya dengan bahasa sendiri sebelum menanggapi, menunjukkan bahwa kita menghargai proses berpikirnya. Sikap ini juga membantu kita menemukan titik kesepakatan yang mungkin tersembunyi di balik perbedaan kata-kata. Sering kali, setelah didengarkan dengan baik, seseorang menjadi lebih terbuka untuk mempertimbangkan sudut pandang lain.

Di ruang digital, menjaga lisan menjadi lebih menantang karena pesan tertulis tidak membawa nada suara dan ekspresi wajah. Kalimat yang dimaksud bercanda bisa terbaca sinis, dan komentar singkat bisa terasa menghakimi. Sebelum mengirim pesan dalam perdebatan daring, ada baiknya membaca ulang tulisan kita seolah-olah kita adalah penerimanya. Jika kalimat itu terasa menyakitkan bila ditujukan kepada kita, kemungkinan besar ia juga akan terasa menyakitkan bagi orang lain. Menunda balasan ketika emosi sedang tinggi, memilih kata yang lebih netral, dan menghindari penyebaran potongan percakapan di luar konteks adalah bentuk kehati-hatian yang sederhana tetapi berdampak besar.

Latihan menjaga lisan bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, ketika rapat berjalan alot, kita bisa membiasakan diri untuk menyebutkan satu hal yang kita setujui dari pendapat lawan bicara sebelum menyampaikan keberatan, sehingga lawan bicara tidak merasa seluruh pemikirannya ditolak. Dalam keluarga, kita bisa mengganti kalimat menyalahkan dengan kalimat yang mengungkapkan kebutuhan, seperti saya merasa khawatir bila rencana ini dijalankan tanpa persiapan, bukan kamu selalu salah mengambil keputusan. Dalam percakapan dengan teman, kita bisa bertanya lebih dahulu tentang alasan di balik pendapatnya, bukan langsung menyimpulkan maksudnya. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini melatih lisan agar lebih terukur, sekaligus melatih hati agar tidak mudah tersulut oleh perbedaan.

Jika kita terlanjur mengucapkan kata yang melukai, langkah terbaik adalah mengakui dan meminta maaf tanpa berbelit. Permintaan maaf yang tulus tidak menghapus perbedaan pendapat, tetapi memulihkan rasa hormat yang sempat terganggu dan membuka kembali ruang dialog. Sebaliknya, membela kata yang keliru dengan alasan pembenaran justru memperpanjang luka. Mengakui kekeliruan adalah tanda kedewasaan, bukan kekalahan, dan sering kali justru membuat lawan bicara lebih menghargai kita.

Menjaga lisan bukan berarti menghindari perbedaan atau selalu mengalah demi kerukunan semu. Pendapat yang keliru tetap boleh diluruskan, dan kebenaran tetap boleh disampaikan, tetapi dengan adab yang menjaga martabat semua pihak. Perbedaan pendapat yang dikelola dengan baik justru bisa memperkaya pemahaman, karena kita belajar melihat persoalan dari sisi yang sebelumnya tidak kita perhatikan. Ketika lisan dijaga, hubungan tetap terjaga, dan diskusi bisa berakhir dengan kesepakatan, kesepahaman, atau setidaknya rasa hormat, meskipun kesimpulan akhirnya tidak sama.

Sumber: Quran.com — Surah Al-Hujurat Ayat 11, https://quran.com/al-hujurat/11

Pos terkait