Di antara ibadah sunnah yang paling mudah diamalkan secara rutin adalah puasa Senin Kamis. Puasa ini dikerjakan dua kali dalam sepekan, pada hari Senin dan hari Kamis, dan menjadi rutinitas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya. Karena itu, banyak umat Islam yang menjadikannya sebagai amalan mingguan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Puasa Senin Kamis termasuk puasa sunnah, sehingga siapa yang mengerjakannya mendapatkan pahala, dan siapa yang meninggalkannya tidak berdosa. Namun di balik kesunnahannya, terdapat keutamaan-keutamaan besar yang layak diketahui. Berikut keutamaan, waktu, dan tata cara puasa Senin Kamis, lengkap dengan lafal niatnya, yang dirangkum dari penjelasan NU Online.
Apa Itu Puasa Senin Kamis?
Puasa Senin Kamis adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari Senin dan hari Kamis dalam satu minggu. Artinya, jika dalam satu bulan seseorang berpuasa Senin Kamis secara rutin, ia berpuasa sebanyak delapan kali. Para ulama sepakat bahwa hukum puasa ini adalah sunnah, dan durasinya sama seperti puasa pada umumnya, yaitu dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Keutamaan Puasa Senin Kamis
Pertama, puasa Senin Kamis adalah puasa yang selalu dijaga oleh Rasulullah. Siti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjaga puasa Senin dan Kamis (HR Tirmidzi dan Ahmad). Mengamalkan puasa ini berarti meneladani rutinitas ibadah beliau.
Kedua, hari Senin dan Kamis adalah hari disetorkannya amal manusia. Rasulullah bersabda bahwa amal perbuatan manusia akan disampaikan pada setiap hari Senin dan Kamis, dan beliau ingin amalannya disampaikan dalam keadaan berpuasa. Berpuasa pada kedua hari itu menjadi cara agar amal kita disetorkan dalam keadaan terbaik.
Baca Juga: Sedekah Subuh: Memulai Hari dengan Memberi dan Menenangkan Hati dan Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid.
Ketiga, pada hari Senin dan Kamis Allah membuka pintu-pintu surga. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, dan semua dosa hamba yang tidak menyekutukan Allah akan diampuni, kecuali dosa orang yang sedang bermusuhan dengan saudaranya hingga keduanya berdamai. Keutamaan ini menjadi pengingat untuk menjaga hubungan baik dengan sesama.
Keempat, hari Senin adalah hari kelahiran dan kewafatan Rasulullah, sekaligus hari diturunkannya wahyu kepada beliau. Ketika ditanya tentang puasa hari Senin, Nabi menjawab bahwa pada hari itu beliau dilahirkan dan pada hari itu pula beliau diutus atau diturunkan wahyu kepadanya. Berpuasa pada hari Senin menjadi bentuk syukur atas kelahiran dan pengutusan beliau.
Waktu dan Hari yang Perlu Diperhatikan
Waktu pelaksanaan puasa Senin Kamis bisa kapan saja, kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari tasyrik. Perlu dicatat pula, bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa Senin Kamis dan kebetulan memasuki bulan Ramadhan, ia tidak perlu mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali bila itu memang kebiasaannya. Jika hari Senin atau Kamis bertepatan dengan hari yang diharamkan, puasa tidak dilakukan pada hari tersebut.
Lafal Niat Puasa Senin Kamis
Sebagaimana puasa pada umumnya, waktu niat puasa Senin Kamis adalah pada malam hari, sejak terbenam matahari hingga terbit fajar. Berikut lafal niatnya:
Niat puasa Senin: نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى — Latin: Nawaitu shauma yaumil itsnaini lillâhi ta‘âlâ — Artinya: “Aku berniat puasa sunah hari Senin karena Allah ta‘âlâ.”
Niat puasa Kamis: نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ الخَمِيْسِ لِلّٰهِ تَعَالَى — Latin: Nawaitu shauma yaumil khamîsi lillâhi ta‘âlâ — Artinya: “Aku berniat puasa sunah hari Kamis karena Allah ta‘âlâ.”
Karena puasa Senin Kamis merupakan puasa sunnah, bagi orang yang lupa berniat pada malam hari, ia masih dapat berniat pada siang hari selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa. Niat siang hari untuk puasa Senin: نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى (Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati yaumil itsnaini lillâhi ta‘âlâ), yang artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Senin ini karena Allah ta‘âlâ.” Niat siang hari untuk puasa Kamis: نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ الخَمِيْسِ لِلّٰهِ تَعَالَى (Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati yaumil khamîsi lillâhi ta‘âlâ), yang artinya: “Aku berniat puasa sunnah hari Kamis ini karena Allah ta‘âlâ.”
Tips Memulai Puasa Senin Kamis
Bagi yang baru memulai, mulailah dengan satu hari dalam sepekan, misalnya hari Senin, lalu tambah hari Kamis setelah terbiasa. Jangan lupa sahur, meski hanya dengan segelas air dan sebutir kurma, karena sahur mengandung keberkahan. Berbukalah tepat waktu, dan manfaatkan hari puasa untuk memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, dan menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik. Konsistensi lebih utama daripada jumlah: puasa dua kali sepekan yang dijaga bertahun-tahun jauh lebih berharga daripada puasa banyak yang hanya sesekali.
Puasa Senin Kamis adalah amalan ringan dengan keutamaan yang besar: meneladani Rasulullah, menyetorkan amal dalam keadaan berpuasa, meraih ampunan di hari dibukanya pintu surga, dan mensyukuri kelahiran serta pengutusan beliau. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya secara istiqamah. Wallahu a’lam.
Sumber: NU Online — Tata Cara Puasa Senin-Kamis: Niat, Waktu, dan Keutamaannya — https://islam.nu.or.id/puasa/tata-cara-puasa-senin-kamis-niat-waktu-dan-keutamaannya-Z4hw0 (20 Juli 2021, diakses 5 November 2026)
