Buletin Islam | Memuat teks naskah materi khutbah jumat singkat dengan tema Agama melarang Putus Asa, cocok untuk besok 27 Agustus 2021.
Meskipun bangsa Indonesia saat ini sedang dilanda konsisi Pandemi Covid-19, kita harus tetap semangat dan tidak boleh putus asa dari pertolongan Allah swt.
Berkaitan dengan hal di atas, berikut ini kami bagikan Naskah Khutbah Jumat Singkat dengan Tema Kita dilarang Putus Asa. Simak berikut teks khutbah jumat tema larangan sifat putus asa.
Materi Khutbah Tema Putus Asa Dilarang Agama-27 Agustus 2021
Akhir-akhir ini kita melihat banyak sekali korban jiwa yang disebabkan oleh Covid-19 yang sedang melanda dunia.
Baca Juga : Contoh Naskah Khutbah Jumat-Hikmah Pandemi Covid-19-Besok 27 Agustus 2021
Baca Juga : Naskah Khutbah Jumat Singkat Tema Mengungkap 5 Hikmah Di Balik Pandemi Corona
Hal tersebut tentu membuat kita menjadi sedih, depresi bahkan mungkin putus asa, Sementara agama melarang sikap putus asa tersebut.
Materi Khutbah di bawah ini bisa anda sampaikan pada mimbar-mimbar khutbah, khususnya untuk Bulan Muharram.
Selain singkat dan padat, naskah Khutbah Jumat-nya juga dilengkapi dengan dalil-dalil al-Quran dan Hadits.
Teks Khutbah bisa anda unduh pada link yang kami sediakan di akhir tulisan.
Materi Khutbah Singkat yang dimaksud, bisa anda baca pada halaman berikutnya
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ، رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (البقرة : 286)
Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh Tidak ada seorang pun yang bisa luput dari musibah, termasuk para Nabi dan Rasul-Nya; dan tidak ada jenis musibah apapun namanya yang bisa menimpa, melainkan dengan izin Allah (QS at-Taghabun: 11).
Dunia saat ini sedang berduka karena terjangkit wabah Corona. Sebagai dampaknya, musibah global pun telah menimpa kita, baik di bidang kesehatan, ekonomi, sosial dan politik bahkan keagamaan.
Ketika musibah datang menghampiri, kerapkali membuat kita terkejut (shock), tidak nyaman, serasa terluka dan sakit menyayat hati.
Demikian pula konteks situasi/kondisi dan sikap seseorang dalam menghadapinya. Lantaran terkena Covid 19 atau penyakit lain, orang jadi kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, hilang pekerjaan, terjadi KDRT dan bahkan kabar kematian pun datang bertubi-tubi.
Untuk itu Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156). (البقرة: 155 – 156)
Artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.” (QS al-Baqarah: 156).
Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, sesungguhnya orang-orang yang ditimpa musibah hendaknya merasa yakin bahwa kebaikan, keburukan dan segala sesuatu itu berasal dari Allah, lalu berkata: “Diri kami ini adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Untuk-Nya kami persembahkan puji syukur atas segala karunia dan kami harus bersabar jika mendapatkan ujian atau diberi pahala dan balasan.”
Kalimat istirja’ yang sering kita baca dan juga membanjiri jagad sosial media, mengingatkan kepada kita bahwa musibah itu terjadi dengan taqdir-Nya.
Mengisyaratkan kepada shâhibul musîbah agar ikhlas menerimanya. Pepatah Arab mengatakan:
بِالْمُصِيْبَةِ يُكْرَمُ الْمَرْءُ وَيُهَانُ
Artinya, “Dengan musibah orang bisa menjadi mulia dan bisa menjadi hina.”
Musibah yang diterima secara positif akan mendatangkan peluang, ibrah, hikmah dan anugerah.
Sebaliknya bila musibah disikapi secara negatif, maka akan menjadi penghalang dari rahmat, sehingga bertindak negatif dan mengutuk ujian yang dapat mengundang azab dari Allah ta’âlâ.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ يُرِدِ للهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ (رواه البخاري)
Artinya, “Orang yang Allah inginkan kebaikan atasnya maka akan diberinya musibah.” (HR al-Bukhari).
Untuk itu hendaknya kita tidak berputus asa dalam menghadapi musibah agar semakin mendapatkan kebaikan-kebaikan dari Allah ta’âlâ.
Bagi orang beriman, musibah tidak boleh dilihat sebagai peristiwa negative, Melainkan harus dipandang sebagai ajang melatih diri untuk sabar dan tabah.
Manusia diuji untuk tidak mudah berputus asa, karena Allah telah berjanji akan mengangkat derajat orang yang menghadapi musibah dengan penuh kepasrahan, dan akan mengganti apa yang hilang atau lepas dari tangan mereka dengan anugerah yang lebih baik.
Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh Allah telah berfirman:
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ، وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا (الإسراء: 83)
Artinya, “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.” (QS al-Isrâ’: 83).
Sesungguhnya perasaan bangga dan putus asa merupakan tabiat manusia. Apabila mereka diberikan nikmat kesehatan dan kelapangan, mereka tidak mau berzikir dan berdoa kepada Allah, bahkan menjauh dari Allah dengan sombong dan berbangga diri.
Namun jika ditimpa kesusahan seperti sakit dan kemiskinan, mereka putus asa dari rahmat Allah.
Padahal Allah memberikan solusi untuk mengatasi putus asa dengan membaca Al-Qur’an, dzikir, bersikap sabar, banyak berdoa, meningkatkan rasa syukur kepadaNya.
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ (الحجر: 56)
Artinya, “Ibrahim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya kecuali orang-orang sesat’.” (QS al-Hijr: 56).
Yakinlah, bahwa tidak ada beban musibah apapun yang tidak bisa dilewati. Allah akan memberikan beban sesuai dengan kekuatan masing-masing
Untuk itu, sudah semestinya manusia tidak patah semangat, dan terus berusaha mencari solusi dari setiap masalah yang dihadapi.
Meskipun terasa sulit, jika selalu percaya dan yakin atas kekuasaan Allah, maka hati akan terasa lebih tenang.
Yakinlah badai pasti berlalu, jangan putus asa, musibah pasti akan berakhir.
Semoga musibah yang mendera ini menjadi ladang amal dan kebaikan di kemudian hari. Amin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ