Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Hari Jumat kembali mempertemukan kita di rumah Allah, di tengah kesibukan yang sering membuat hati terasa penuh dan langkah terasa berat. Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan kembali sosok Nabi Yahya, seorang nabi yang sejak muda dikenal lembut hatinya, teguh pendiriannya, dan penuh bakti kepada kedua orang tuanya.
Kisah beliau bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin bagi generasi muda hari ini yang hidup di tengah arus informasi yang deras, godaan yang mudah dijangkau, dan tekanan untuk selalu tampil menonjol. Pertanyaannya bukan lagi apakah tantangan itu ada, melainkan bagaimana seorang anak muda menjaga dirinya tetap lurus ketika banyak jalan pintas ditawarkan di depan mata.
Khutbah I
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi kita nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan berkumpul di hari yang penuh berkah ini. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Jamaah yang dimuliakan Allah, Nabi Yahya tumbuh dalam keluarga yang saleh. Sejak kecil beliau dibiasakan dekat dengan kebaikan, hingga ketika dewasa beliau menjadi pribadi yang tidak mudah goyah oleh pujian maupun ancaman. Keteladanan pertama yang bisa kita petik adalah kesungguhan dalam memegang kebenaran. Beliau tidak menjual prinsip demi kenyamanan sesaat.
Kedua, beliau menjaga kesucian diri. Di usia muda, ketika hawa nafsu sering kali paling kuat, Nabi Yahya justru dikenal sebagai sosok yang menjaga kehormatan dan menjauhi perbuatan yang merusak diri. Ini pelajaran penting: masa muda bukan alasan untuk menunda kebaikan, melainkan justru waktu terbaik untuk membiasakan diri pada hal-hal yang baik.
Ketiga, beliau berbakti kepada orang tua. Kasih sayang dan hormat kepada ayah dan ibu bukan sekadar sopan santun, melainkan ibadah yang membuka pintu keberkahan. Anak muda yang ingin kuat di luar rumah, pertama-tama harus belajar lembut dan setia di dalam rumah.
Keempat, beliau rendah hati. Kelembutan hatinya membuat beliau mudah menerima nasihat dan tidak merasa paling benar. Kelima, beliau sabar menghadapi ujian, termasuk ketika kebenaran yang beliau sampaikan tidak disukai banyak orang. Keenam, beliau menjadikan takwa sebagai pegangan, bukan popularitas. Itulah yang membuat langkahnya tetap tenang meski situasi di sekitarnya tidak bersahabat.
Marilah kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita masih berani berkata jujur ketika kejujuran itu tidak menguntungkan? Apakah kita masih menjaga diri ketika tidak ada yang melihat? Apakah kita masih menghormati orang tua ketika kita merasa sudah mandiri? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini sering kali lebih menentukan masa depan daripada sekadar prestasi dan pengakuan.
Barakallahu lii wa lakum fil Qur’anil ‘azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wa dzikril hakim.
Khutbah II
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, dan salawat semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jamaah yang dirahmati Allah, meneladani Nabi Yahya bukan berarti meniru setiap keadaan hidup beliau secara harfiah, melainkan meneladani sikapnya: teguh pada kebenaran, bersih dalam pergaulan, bakti kepada orang tua, rendah hati, sabar, dan bertakwa.
Semoga Allah membimbing generasi muda kita agar menjadi pribadi yang kuat imannya, jernih pikirannya, dan bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa kaum muslimin dan muslimat. Berikanlah kami keteguhan hati dan akhir kehidupan yang baik.
Sumber: Tema ini diadaptasi dari khutbah NU Online berjudul “Khutbah Jumat: 6 Teladan Nabi Yahya bagi Generasi Muda” di https://islam.nu.or.id/khutbah/khutbah-jumat-6-teladan-nabi-yahya-bagi-generasi-muda-1ApPk
