Khutbah Jumat: Tawakal setelah Berusaha, Berserah Diri kepada Allah

Khutbah Jumat: Tawakal setelah Berusaha, Berserah Diri kepada Allah

Buletin Islam — Setiap manusia menginginkan hidup yang tenang dan rezeki yang lapang. Namun tidak semua usaha membuahkan hasil seperti yang diharapkan: ada petani yang bekerja keras tetapi panennya gagal, ada pedagang yang jujur tetapi dagangannya sepi, dan ada orang tua yang mendidik anaknya dengan baik tetapi hasilnya belum terlihat.

Dalam keadaan seperti itulah tawakal menemukan tempatnya. Tawakal bukan sikap menyerah sebelum berusaha, melainkan berserah diri kepada Allah setelah mengerahkan seluruh ikhtiar. Khutbah Jumat kali ini mengajak kita memahami tawakal yang benar dan menjadikannya penenang hati dalam setiap urusan.

Ilustrasi: seorang pria berlutut berdoa di dalam masjid. Foto: Mert Erim / Pexels.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah, karena sungguh orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang beruntung.

Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Ayat ini adalah janji yang sangat menenangkan: siapa yang bertawakal kepada Allah, Allah sendiri yang akan mencukupinya. Bukan manusia, bukan jabatan, bukan pula harta yang menjadi sandaran, melainkan Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Orang yang bertawakal tidak pernah merasa sendiri, karena ia tahu Allah mengatur urusannya dengan sebaik-baik pengaturan.

Tawakal yang benar selalu didahului oleh usaha. Rasulullah pernah menasihati seorang sahabat yang membiarkan untanya tanpa diikat dengan alasan bertawakal: ikatlah untamu, lalu bertawakallah. Pesan ini jelas: tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Seorang petani tetap menanam dan merawat tanamannya, seorang pedagang tetap membuka tokonya dengan jujur, dan seorang pelajar tetap belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah semua ikhtiar dikerahkan, barulah hasilnya diserahkan kepada Allah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Putus Asa Mencari Rezeki Halal Saat Ekonomi Sulit

Rasulullah mengibaratkan orang yang bertawakal dengan seekor burung: ia keluar dari sarangnya di pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. Burung itu tidak diam di sarang menunggu rezeki datang; ia terbang, mencari, dan berusaha. Namun ia tidak pernah cemas berlebihan, karena yakin rezekinya telah dijamin Allah. Demikianlah seharusnya seorang mukmin: berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi hatinya tenang karena bersandar kepada Allah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Ilmu dan Akhlak, Bekal Membangun Generasi

Tanda orang yang bertawakal dengan benar dapat dirasakan dalam hatinya: ia tidak mudah gelisah ketika rencana tidak berjalan, tidak dengki ketika orang lain mendapat nikmat, dan tidak berputus asa ketika pintu seolah tertutup. Ia yakin bahwa apa yang ditakdirkan untuknya tidak akan pernah meleset darinya. Keyakinan inilah yang melahirkan ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan harta apa pun.

Marilah kita melatih tawakal dalam kehidupan sehari-hari: berusaha sebaik-baiknya, berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan lapang dada. Jika hasilnya sesuai harapan, kita bersyukur. Jika belum sesuai harapan, kita bersabar dan tetap berbaik sangka kepada Allah, sebab Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya. Wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah. Ketahuilah, Allah berfirman: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan. (QS. Al-Ahzab: 56)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah kita menutup khutbah ini dengan memperkuat tekad: ikatlah “unta” kita — kerahkan ikhtiar yang terbaik — lalu bertawakallah kepada Allah. Jangan biarkan kecemasan menguasai hati, karena Allah telah berjanji mencukupi orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. Niscaya Allah membukakan jalan keluar dari arah yang tidak kita sangka dan memberi rezeki dari arah yang tidak kita duga.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, ridhailah para khalifah yang mendapat petunjuk dan seluruh sahabat. Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.

Sumber:
Kementerian Agama RI – Al-Qur’an dan Terjemahnya – https://quran.kemenag.go.id/
Sunnah.com – Jami’ at-Tirmidhi, Kitab Zuhud – https://sunnah.com/tirmidhi
NU Online – Khutbah Jumat – https://nu.or.id/

Pos terkait