Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan: Dari Sumpah Pemuda hingga Era Digital

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan: Dari Sumpah Pemuda hingga Era Digital

Dari Sabang sampai Merauke, dari ratusan bahasa daerah yang berbeda, ada satu bahasa yang mempersatukan seluruh bangsa Indonesia: Bahasa Indonesia. Bahasa ini dipakai di sekolah, di kantor pemerintahan, di media massa, dan dalam pergaulan sehari-hari antardaerah. Namun, peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tidak terjadi begitu saja; ia lahir dari sejarah panjang perjuangan dan kesadaran nasional.

Dalam ikrar Sumpah Pemuda, salah satu butirnya adalah pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bagian yang tak terpisahkan dari tanah air dan bangsa Indonesia. Pengakuan itu menjadi tonggak penting, karena untuk pertama kalinya para pemuda dari berbagai daerah sepakat memakai satu bahasa bersama. Berikut kisah dan makna Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, dari akarnya sebagai bahasa Melayu hingga perannya di era digital.

Foto: Tommy Kurniawan via Pexels

Akar Bahasa Indonesia: Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca

Bahasa Indonesia pada dasarnya berkembang dari bahasa Melayu, yang sejak lama menjadi bahasa perhubungan atau lingua franca di antara beragam etnis, bangsa, dan latar belakang sosial yang hidup di kepulauan Nusantara. Istilah lingua franca sendiri berasal dari bahasa Latin dan berarti bahasa penghubung antarkomunitas yang berbeda bahasa di wilayah geografis yang cukup luas. Karena sudah dipakai luas dalam perdagangan dan pergaulan, bahasa Melayu menjadi pilihan yang paling masuk akal untuk dipersatukan menjadi bahasa nasional.

Sastra dan Pers Pergerakan Menyebarkan Bahasa Indonesia

Pada awal abad ke-20, Bahasa Indonesia menyebar semakin luas berkat peran percetakan, kesusastraan, dan pers nasional. Kesusastraan populer yang diterbitkan penerbit-penerbit Tionghoa peranakan turut menyebarkan bahasa ini ke berbagai lapisan masyarakat. Para tokoh pergerakan nasional pun menggunakan sastra sebagai sarana perjuangan dan penyadaran, sehingga dari Bahasa Indonesia terbentuk kesadaran nasional di kalangan anak muda terpelajar pada masa itu.

Baca Juga: Peran Poskamling dalam Menjaga Keamanan Lingkungan dan Peran Perpustakaan Desa dalam Menumbuhkan Minat Baca.

Empat Sifat Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan

Sejak awal pembentukannya, Bahasa Indonesia menunjukkan sifat-sifat yang menjadikannya layak sebagai bahasa persatuan. Pertama, bersifat inklusif dan terbuka: berbagai bahasa daerah dan bahasa asing menjadi sumber serapan kosakatanya, sehingga bahasa ini terus tumbuh. Kedua, bersifat pluralis: menerima perbedaan dan keragaman sebagai kekayaan bangsa, bukan sebagai ancaman.

Ketiga, bersifat demokratis dan egaliter: semua orang dari berbagai status sosial dan latar belakang dapat menggunakannya secara setara, tanpa hierarki bahasa yang kaku. Keempat, bersifat pemersatu bangsa: kehadirannya dapat diterima di semua daerah dan wilayah, dari kota besar hingga pelosok desa. Keempat sifat inilah yang membuat Bahasa Indonesia mampu mempersatukan bangsa yang sangat beragam.

Dari Masa Penjajahan hingga Bahasa Negara

Pada masa penjajahan Jepang, derajat Bahasa Indonesia dinaikkan sebagai bahasa resmi dalam birokrasi dan pendidikan, sehingga penggunaannya semakin meluas. Setelah kemerdekaan, Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara dalam Undang-Undang Dasar, dan dipakai sebagai bahasa pengantar pendidikan, pemerintahan, dan hukum. Bahasa Indonesia pun tidak hanya menjadi alat ekspresi nasionalisme, tetapi juga aspirasi tentang Indonesia: dalam dunia kolonial yang hirarkis, bahasa ini menjadi ekspresi kebebasan dan persamaan di antara sesama manusia.

Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah: Saling Melengkapi

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tidak dimaksudkan untuk menggantikan bahasa daerah. Justru sebaliknya, bahasa daerah adalah sumber kekayaan yang memperkaya Bahasa Indonesia melalui serapan kosakata dan ungkapan. Seorang anak yang fasih berbahasa daerah sekaligus Bahasa Indonesia memiliki dua jendela untuk memahami dunia: satu untuk akar budayanya, dan satu lagi untuk pergaulan nasional. Karena itu, melestarikan bahasa daerah dan menguasai Bahasa Indonesia adalah dua tugas yang berjalan beriringan, bukan saling bertentangan.

Bahasa Indonesia di Era Digital

Di era digital, peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan justru semakin penting. Media sosial, platform video, dan aplikasi pesan mempertemukan warga dari berbagai daerah setiap hari, dan Bahasa Indonesia menjadi bahasa bersama mereka. Tantangannya kini adalah menjaga bahasa ini tetap baik dan benar, sekaligus tetap hidup dan kreatif, tanpa menggeser bahasa daerah yang juga merupakan kekayaan bangsa.

Cara Kita Merawat Bahasa Persatuan

Merawat Bahasa Indonesia dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Gunakan bahasa yang baik dan benar dalam surat resmi dan dokumen, tetapi tetap luwes dalam pergaulan sehari-hari. Biasakan anak-anak membaca buku berbahasa Indonesia sejak dini, dan perkenalkan mereka pada karya sastra Indonesia. Di ruang digital, hindari menyebarkan ujaran kebencian dan kabar bohong yang justru merusak persatuan yang dibangun bahasa ini. Bahasa yang dipakai dengan santun akan memperkuat rasa kebersamaan, bukan sebaliknya.

Menjaga Bahasa Indonesia berarti merawat persatuan itu sendiri. Setiap kali kita memakainya dengan baik, menghargai bahasa daerah, dan mengajarkannya kepada generasi muda, kita sedang meneruskan ikrar Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan rumah bersama bagi seluruh bangsa Indonesia.

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen — Bahasa sebagai Pemersatu Bangsa — https://badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/artikel-detail/854/bahasa-sebagai-pemersatu-bangsa (23 Januari 2022, diakses 5 November 2026)

Pos terkait