Pasar tradisional kini tidak lagi jauh dari dunia digital. Banyak pedagang mulai menawarkan dagangannya lewat pesan singkat dan media sosial, selain tetap melayani pembeli yang datang langsung ke lapak. Perubahan ini terjadi karena pembeli semakin terbiasa memesan dari rumah, terutama untuk kebutuhan harian.
Dalam kabar nasional tentang ekonomi rakyat, pedagang pasar dinilai perlu pendampingan agar bisa beradaptasi. Kemampuan mengambil foto dagangan yang jelas, menuliskan harga dengan jujur, dan membalas pesan dengan ramah menjadi modal baru yang sama pentingnya dengan kualitas barang.
Meski begitu, jualan daring tidak menggantikan pasar itu sendiri. Suasana tawar-menawar, kesempatan memilih langsung, dan hubungan akrab antara pedagang dan pelanggan tetap menjadi daya tarik pasar tradisional. Kombinasi keduanya—lapak fisik dan etalase daring—justru memperluas jangkauan pedagang.
Ke depan, dukungan dari pengelola pasar dan komunitas lokal sangat membantu, misalnya pelatihan singkat, bantuan jaringan internet, dan sistem antar yang terjangkau. Bila pedagang kecil mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan ciri khasnya, pasar tradisional akan tetap hidup dan relevan.
Baca Juga: Refleksi Isra’ Mi’raj; Sebagai Media Peneguhan Aswaja
Sumber: Kompas.com, “Pedagang Pasar Tradisional Mulai Jualan Daring”
