Mengapa Kita Melihat Kilat Sebelum Mendengar Guntur? Penjelasan Sederhana

Saat hujan badai, ada pemandangan yang sudah akrab bagi kita semua: langit menyala sesaat oleh kilat, lalu beberapa detik kemudian barulah terdengar suara guntur yang menggelegar. Mengapa keduanya tidak datang bersamaan, padahal kilat dan guntur berasal dari peristiwa yang sama? Jawabannya terletak pada perbedaan kecepatan cahaya dan suara — dua hal yang bergerak dengan kecepatan yang sangat jauh berbeda.

Untuk memahaminya, kita perlu tahu dulu apa itu kilat dan apa itu guntur. Kilat adalah loncatan listrik raksasa di dalam awan atau antara awan dan tanah. Guntur adalah suara yang ditimbulkan oleh kilat itu sendiri. Keduanya lahir pada saat yang sama, tetapi sampai ke indra kita pada waktu yang berbeda — dan itulah sebabnya kita selalu melihat dulu, baru mendengar kemudian.

Kilat menyambar dramatis di langit malam di atas pepohonan pinus
Foto: Sven Pieren via Pexels — kilat menyambar dramatis di langit malam di atas pepohonan pinus.

Apa yang terjadi saat kilat menyambar?

Di dalam awan badai, partikel es dan air saling bertabrakan dan memisahkan muatan listrik: bagian atas awan cenderung bermuatan positif, bagian bawahnya bermuatan negatif. Ketika perbedaan muatan menjadi terlalu besar, terjadilah pelepasan listrik yang dahsyat — itulah kilat. Saluran kilat memanas hingga suhu yang luar biasa, sekitar 20.000 hingga 30.000 Kelvin, jauh lebih panas daripada permukaan Matahari.

Pemanasan yang mendadak ini membuat udara di sekitar saluran kilat memuai dengan sangat cepat. Pemuaian yang cepat itu menciptakan gelombang kejut di udara — dan gelombang kejut inilah yang kita dengar sebagai guntur. Dengan kata lain, guntur adalah suara dari udara yang “meledak” karena dipanaskan kilat dalam sekejap.

Baca Juga: Mengapa Pelangi Muncul Setelah Hujan? Penjelasan Sederhana untuk Keluarga

Mengapa cahaya tiba lebih dulu?

Cahaya bergerak dengan kecepatan sekitar 300.000 kilometer per detik — begitu cepat sehingga untuk jarak beberapa kilometer, kilat praktis terlihat seketika. Suara bergerak jauh lebih lambat: di udara kering pada suhu sekitar 20°C, kecepatan suara hanya sekitar 343 meter per detik, atau sekitar 1.235 kilometer per jam. Karena selisih kecepatan yang sangat besar inilah, kilat selalu terlihat lebih dulu, dan guntur menyusul kemudian.

Selisih waktu antara kilat dan guntur bahkan bisa dipakai untuk memperkirakan jarak badai. Karena suara menempuh sekitar satu kilometer dalam tiga detik, Anda cukup menghitung detik antara kilat terlihat dan guntur terdengar, lalu membaginya dengan tiga. Bila jedanya 9 detik, badai itu kira-kira 3 kilometer jauhnya; bila jedanya hanya 3 detik, badai itu hanya sekitar 1 kilometer dari Anda — dan itu sudah sangat dekat.

Mengapa kilat tampak bercabang dan berkelok?

Kilat jarang berupa garis lurus. Salurannya bercabang dan berkelok karena listrik mencari jalan yang paling mudah menembus udara, dan udara di dalam awan tidak seragam: ada bagian yang lebih lembap, lebih panas, atau lebih mudah ditembus daripada bagian lain. Cabang-cabang yang terlihat di langit adalah jalur-jalur percobaan yang dibuat kilat sebelum sambungan utama terbentuk. Setiap cabang memanaskan udara di jalurnya, sehingga suara yang dihasilkan pun berasal dari banyak titik sekaligus — salah satu alasan mengapa guntur terdengar bergulung, bukan sekali dentum.

Selain itu, kilat yang sangat jauh terkadang terlihat tetapi gunturnya tidak terdengar sama sekali. Suara melemah seiring jarak dan dapat terhalang angin, bukit, atau bangunan, sehingga badai yang jaraknya puluhan kilometer mungkin hanya tampak sebagai kilatan diam di cakrawala. Inilah yang sering disebut “kilat panas” dalam percakapan sehari-hari, padahal sebenarnya ia adalah guntur yang terlalu jauh untuk terdengar.

Mengapa bunyi guntur berbeda-beda?

Tidak semua guntur terdengar sama. Kilat yang sangat dekat menghasilkan bunyi “retak” yang tajam dan keras, sementara kilat yang jauh terdengar sebagai gemuruh panjang dan rendah. Perbedaan ini terjadi karena kilat bukanlah satu titik suara, melainkan saluran yang panjang dan bercabang: suara dari bagian saluran yang berbeda tiba di telinga kita pada waktu yang berbeda, sehingga terdengar bergulung atau menggemuruh. Bentuk awan, arah angin, dan pantulan dari bukit atau bangunan juga memengaruhi bunyi yang kita dengar.

Tetap waspada saat badai petir

Meski guntur hanya suara, kilat yang menghasilkannya sangat berbahaya. Saat mendengar guntur, segeralah masuk ke dalam bangunan yang tertutup atau ke dalam mobil dengan jendela tertutup. Hindari berteduh di bawah pohon yang berdiri sendiri, menjauhi air dan benda logam, serta menunda aktivitas di luar ruangan hingga badai benar-benar berlalu. Kilat dapat menyambar dari jarak yang cukup jauh dari pusat badai, sehingga mendengar guntur saja sudah cukup menjadi alasan untuk mencari tempat aman.

Jadi, kilat terlihat lebih dulu bukan karena kilat terjadi lebih awal, melainkan karena cahaya bergerak jauh lebih cepat daripada suara. Keduanya lahir bersamaan dari satu peristiwa yang sama: pelepasan listrik yang memanaskan udara hingga puluhan ribu derajat dan membuatnya memuai menjadi gelombang suara. Lain kali Anda melihat kilat, hitunglah detiknya — Anda sedang mengukur jarak badai dengan cara yang sudah dipakai orang selama berabad-abad.

Sumber: Wikipedia bahasa Inggris, Thunder (terakhir disunting 30 Oktober 2026).

Pos terkait