Kata kunci “badan penerbangan dan antariksa” menjadi salah satu yang ramai dicari di Google Indonesia pada Sabtu, 7 November 2026. Frasa tersebut dicari lebih dari 500 kali dengan kenaikan 100 persen dalam empat jam. Bersamaan dengan itu, kata kunci “Advan Nasa One” juga masuk daftar tren dengan lebih dari 2.000 pencarian. Bagi banyak orang, singkatan NASA sudah tidak asing lagi, tetapi tidak semua tahu apa sebenarnya lembaga ini dan apa saja yang dikerjakannya. NASA adalah singkatan dari National Aeronautics and Space Administration, atau dalam bahasa Indonesia berarti Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat. Kata aeronautika merujuk pada ilmu penerbangan, sedangkan antariksa merujuk pada ruang angkasa.
NASA dibentuk berdasarkan National Aeronautics and Space Act yang ditandatangani Presiden Dwight D. Eisenhower pada 29 Juli 1958, dan mulai beroperasi pada 1 Oktober 1958. Lembaga ini menggantikan NACA (National Advisory Committee for Aeronautics) yang berdiri sejak 1915. Latar belakang pendiriannya adalah perlombaan antariksa antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Setahun sebelumnya, pada 1957, Uni Soviet meluncurkan Sputnik, satelit buatan pertama di dunia, yang mengejutkan Amerika Serikat.
Apa Saja yang Dikerjakan NASA?
NASA bekerja di tiga bidang besar. Pertama, eksplorasi antariksa berawak: mengirim astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan menjalankan program Artemis untuk kembali ke Bulan. Kedua, ilmu antariksa dan misi robotik: mengoperasikan teleskop antariksa Hubble (1990) dan James Webb (2021), serta mengirim wahana tanpa awak ke berbagai planet. Wahana Voyager 1, yang diluncurkan pada 1977, kini menjadi benda buatan manusia terjauh dari Bumi dan telah memasuki ruang antar bintang. Ketiga, riset penerbangan dan ilmu Bumi: mengembangkan pesawat yang lebih aman dan efisien, serta mengoperasikan satelit yang memantau cuaca, iklim, dan bencana di Bumi. NASA juga mengoperasikan jaringan komunikasi antariksa Deep Space Network, yaitu antena raksasa di California, Spanyol, dan Australia, yang menjadi satu-satunya jalur komunikasi dengan wahana yang menjelajah tata surya.
Misi-misi yang Paling Ikonik
Misi paling terkenal dalam sejarah NASA adalah Apollo 11. Pada 20 Juli 1969, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjadi manusia pertama yang berjalan di permukaan Bulan, sementara Michael Collins menunggu di pesawat yang mengorbit Bulan. Ucapan Armstrong yang terkenal, “Langkah kecil bagi seorang manusia, lompatan besar bagi umat manusia”, menjadi salah satu kalimat paling diingat dalam sejarah. Sebanyak 12 astronaut pernah berjalan di Bulan dalam program Apollo antara 1969 dan 1972. Setelah itu, pesawat ulang-alik Space Shuttle terbang dalam 135 misi antara 1981 dan 2011, antara lain untuk membangun ISS. Stasiun luar angkasa itu telah dihuni manusia secara terus-menerus sejak November 2000. Di Mars, robot penjelajah Curiosity mendarat pada 2012 dan Perseverance mendarat pada 2021, mencari tanda kehidupan masa lalu di planet merah itu.
Baca Juga: Mengapa Lautan Berwarna Biru?
Program Artemis: Kembali ke Bulan
Setelah lebih dari setengah abad sejak Apollo, NASA kini menjalankan program Artemis untuk kembali ke Bulan. Artemis I, yang terbang pada 2022 tanpa awak, menguji pesawat Orion mengelilingi Bulan. Artemis II akan membawa astronaut mengelilingi Bulan, dan Artemis III direncanakan mendaratkan astronaut di dekat kutub selatan Bulan, termasuk perempuan pertama yang menginjak permukaan Bulan. Tujuannya bukan sekadar kunjungan singkat, melainkan membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan dan mempersiapkan perjalanan ke Mars. Pada Sabtu, 7 November 2026, NASA mengadakan konferensi pers tentang kemajuan menuju kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan.
Di Mana Saja Pusat NASA Berada?
Kantor pusat NASA berada di Washington D.C. Pusat-pusat utamanya tersebar di berbagai negara bagian. Kennedy Space Center di Florida menjadi tempat peluncuran roket dan pesawat antariksa. Johnson Space Center di Houston, Texas, menjadi pusat kendali misi berawak. Jet Propulsion Laboratory di California mengembangkan wahana robotik yang menjelajah planet, sedangkan Goddard Space Flight Center di Maryland mengelola satelit dan teleskop antariksa.
Baca Juga: Mengapa Kita Merasa Lapar? Penjelasan Ilmiah yang Mudah Dipahami
Anggaran dan Kerja Sama
Anggaran NASA mencapai sekitar 25 miliar dolar Amerika Serikat per tahun, yang berasal dari pajak warga Amerika Serikat. Lembaga ini mempekerjakan puluhan ribu pegawai negeri dan kontraktor. Sebagian besar dananya dibelanjakan di dalam negeri dan mendukung ribuan perusahaan pemasok. NASA juga bekerja sama dengan badan antariksa lain, seperti Badan Antariksa Eropa (ESA), badan antariksa Jepang (JAXA), dan badan antariksa Kanada (CSA), serta perusahaan swasta seperti SpaceX dan Boeing yang mengangkut astronaut dan kargo ke ISS.
Apa Manfaat NASA bagi Kehidupan Sehari-hari?
Teknologi yang dikembangkan untuk antariksa sering kali menemukan manfaat di Bumi. Bahan peredam benturan yang awalnya dibuat untuk kursi pesawat kini dipakai pada sepatu dan helm. Sistem pemurnian air yang dirancang untuk astronaut membantu menyediakan air bersih. Kamera dan sensor yang dikembangkan untuk wahana antariksa turut mendorong kemajuan kamera digital. Satelit NASA juga membantu prakiraan cuaca, pemetaan bencana, dan pemantauan perubahan iklim, serta menginspirasi anak muda untuk belajar sains dan teknologi.
Penutup
NASA bukan sekadar lembaga yang meluncurkan roket. Ia adalah lembaga riset yang menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tentang alam semesta dan Bumi, dari asal-usul bintang hingga kesehatan iklim planet kita. Itulah sebabnya namanya terus dicari dan dibicarakan, dari ruang kelas hingga daftar tren pencarian seperti hari ini.
Sumber: NASA, https://www.nasa.gov, diakses 7 November 2026; NASA, program Artemis dan misi berawak; data tren pencarian: Google Trends Indonesia, 7 November 2026.
