Tiga Pergeseran Tradisi Pendidikan Pondok Pesantren Di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Buletin Islam | Diakui atau tidak, kondisi pandemi corona ini membuat dunia pendidikan kaget, termasuk di dalamnya Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia.
Pergeseran Tradisi Pendidikan Pondok Pesantren
Bagaimana tidak, lembaga yang dikenal dengan kajian “kitab kuning” tersebut, memiliki banyak program yang akhirnya harus mengakui kehebatan ciptaan Allah swt. yang tak kasat mata bernama “coronavirus” covid-19.
Banyak pesantren, yang secara terpaksa meliburkan, dan memulangkan ratusan hingga ribuan santri, karena ada maslahah yang lebih penting, yakni mematuhi protokol kesehatan demi memutus rantai dan meminimalisir penyebaran pandemi tersebut di atas.
Meski di awal-awal covid-19 masuk ke Indonesia, yang diprediksikan sebenarnya jauh sebelum bulan Maret, di situ masih banyak pesantren yang mempertahankan santrinya, dengan kegiatan kepesantrenan seperti biasa, dengan harapan wabah bisa segera pulih. Namun, akhirnya terpaksa, sekian kegiatan yang telah direncanakan harus ditunda, dan dibatalkan.

Walhasil, Coroa virus yang melanda sebagaian besar negara-negara di dunia kali ini, memakasa tataran budaya dan sosial masyarakat untuk berubah, bukan tanpa batas waktu, akan tetapi prediksi butuh waktu lama tetap mengemuka. Pasalnya, butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mendapatkan vaksin legal untuk mengentaskan wabah ini.

Bacaan Lainnya

Dan hal tersebut, tentu akan berdampak pada sosial pendidikan, tidak hanya pada tataran proses belajar mengajar, metode pembelajaran, bisa jadi budaya yang selama telah berakar-pinak kuat di dalam pesantren, harus pula secara sadar mengalami inovasi bahkan berevolusi secara tidak langsung.

Berkenaan dengan posisi pesantren yang sejatinya menjadi tonggak pendidikan agama di Indonesia di tengah-tengah pandemi corona, ada sejumlah tradisi pesantren yang diprediksikan akan mengalami perubahan, tanpa mengurangi nilai-nilai religiuitas di dalamnya.

#1 Peningkatan Kesehatan Pesantren

Persoalan kesehatan di lingkungan pesantren pada umumnya, dan di lingkungan santri pada khususnya, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan formal yang lain. hanya karena pesantren identik dengan asrama / komplek dimana santri tinggal, maka persoalan tersebut kerap terabaikan.

Pola hidup santri dikebanyakan pesantren perlu perhatian khusus, sebab jumlah santri yang cukup banyak, dengan komplek yang saling berdesak-desakan, mengakibatkan kondisi kesehatan santri sebenarnya lebih rentan dibandingkan siswa yang sekolah di pendidikan formal.

Terlebih mereka biasanya hidup berdampingan 24 jam selama berbulan-bulan, bahkan juga bertahun-tahun, dengan kondisi sarana prasarana yang kerap kurang diperhatikan, terutama untuk kesehatan.

Sebenarnya sudah banyak upaya pesantren dalam untuk meningkatkan  kesadaran pentingnya kesehatan, namun tidak sedikit yang menemui kendala, terutama saat sarana kesehatan dan SDM di bidang medis mesih minim.

Maka, keberadaan pandemi Corona Covid-19 dengan standart protokol kesehatan yang ditetapkan oleh kementerian kesehatan, bisa jadi pemicu kesadaran pentingnya kesadaran dan memulai pola hidup sehat sedini mungkin.

Sebab, jika  hal tersebut tetap diabaikan, maka potensi penyebaran penyakit atau virus di kalangan santri bisa sangat cepat dan sulit untuk dihindari.

Solusi kesehatan yang mungkin bisa dilakuknan oleh pihak pesantren untuk mencegah terjadinya wabah virus dikalangan pesantren untuk kedepan adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan pemahaman kesadaran pentingnya kesehatan secara berkala
  2. Mengevaluasi program kebersihan pesantren secara teratur
  3. Memastikan asupan gizi santri terpenuhi dengan baik
  4. Menyiapkan instalasi kesehatan, minimal penyediaan tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun, dan air mengalir di setiap titik-titik pesantren, seperti di depan kamar, depan kelas, depan kantor pesantren, atau di gerbang pesantren.
  5. Menyiapkan lokasi khusus santri yang sakit.
  6. Melakukan komunikasi intens dengan pihak kesehatan setempat.

#2 Sikap Terbuka Pada Dunia Teknologi dan Informatika

Selain permasalahan kesehatan yang perlu ditingkatkan, kesadaran pentingnya teknologi informasi bagi sebagian pesantren juga perlu ditingkatkan.

Terutama jika pandemi covid-19 di Indonesia diprediksikan justru lebih lama dari semula bulan juli, diprediksikan akan berakhir pada pertengahan September 2020.

Memanfaatkan perkembangan teknologi informasi ini sebenarnya harus dipersiapkan sejak jauh sebelum adanya wabah terjadi, namun demikian nyatanya masih banyak pesantren yang enggan atau bahkan tidak menggunakannya untuk kebaikan pesantren secara umum.

Teknologi di sini dipahami sebagai media, dan bukan tujuan. Artinya, pesantren dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan proses belajar mengajar, komunikasi aktif antara alumni, wali santri dan orang-orang terkait, serta bisa bisa dijadikan penyebaran dakwah pesantren, tanpa mengurangi nilai-nilai kepesantrenan, seperti nilai kemandirian, nilai kedisiplina dan lain sebagainya.

#3 Proses Belajar Mengajar Berbasis Online

Perubahan tradisi berikutnya yang mungkin akan terjadi, adalah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan nomor dua, hanya saja yang ketiga ini sifatnya lebih kepada implementasi, strategi dan metode pembelajaran di Pesantren.

Pembelajaran jarak jauh menggunakan ragam media, seperti facebook, youtube, Instagram atau sebagainya, sangat mungkin akan wajib dijadikan salah metode pembelajaran di masa yang akan datang, terutama jika pandemi ini akan terus berlanjut.

Maka, selain persiapan sarana-prasarana yang memadai, pihak pesantren perlu memikirkan contain materi, konsep, jadwal hingga ustadz yang akan mengisi pengajaran online (baca; pengajian online) tersebut.
Tujuan utamanya jelas, agar prinsip pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengawal tataran edukasi dan religi para santri dan masyarakat tetap eksis dan berjalan dengan baik.
Tiga hal di atas merupakan prediksi dan bisa jadi manfaat yang didapat pondok pesantren jika pandemi corona covid-19 terus berlanjut, dan menjadi salah satu faktor percepatan industri 0.4 dalam dunia pendidikan khususnya pesantren.
Abdurrohim, M.Pd,I
Penulis adalah staf pengajar di PP Raudlatul Ulum 1, dan IAI Al-Qolam Malang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *