Buletin Islam — Seri 4/7 kali ini mengangkat profil KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Rais Akbar pertama organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Ulama yang dikenal dengan gelar Hadratussyaikh ini tidak hanya dikenal sebagai tokoh keagamaan, tetapi juga sebagai pahlawan nasional yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui Resolusi Jihad 1945.
KH Hasyim Asy’ari lahir pada 14 Februari 1871 di Desa Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan putra dari KH Asy’ari dan Nyai Hj. Halimah, keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat. Sejak muda, Hasyim Asy’ari menempuh pendidikan di berbagai pesantren dan mendalami ilmu agama hingga ke tingkat yang sangat tinggi. Ia dikenal menguasai sembilan kitab hadis utama yang disebut Kutub At-Tis’ah, sehingga ia dijuluki Syaikhu al-Masyayikh, yang berarti gurunya para guru.
Setelah menimba ilmu, KH Hasyim Asy’ari mendirikan dan menjadi pengasuh pertama Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Pesantren ini kemudian berkembang menjadi salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia dan melahirkan banyak ulama serta tokoh bangsa. Dari Tebuireng inilah gagasan besar tentang organisasi ulama mulai dirumuskan, yang kemudian melahirkan Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926 di Surabaya.
Baca Juga: SERI 2/7 — Profil Syaikh Nawawi al-Bantani: Ulama Banten yang Mengajar di Makkah | SERI 3/7 Profil Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Guru Para Ulama Nusantara
Restu dari Syaikhona Kholil dan Berdirinya NU
Berdirinya Nahdlatul Ulama tidak lepas dari restu Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, guru dari KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah. Pada tahun 1924, Syaikhona Kholil mengutus Kiai As’ad Syamsul Arifin untuk menemui KH Hasyim Asy’ari dengan membawa sebuah tongkat dan tasbih, disertai pesan berupa ayat 17 sampai 23 dari Surat Thaha serta kalimat dzikir Yaa Jabbar Yaa Qahhar. Isyarat itu dipahami sebagai restu untuk mendirikan organisasi ulama.
Pada 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama resmi berdiri di Surabaya. KH Hasyim Asy’ari menjadi Rais Akbar pertama, sementara KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri termasuk di antara para pendirinya. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menjaga dan melestarikan tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus menjadi wadah perjuangan para ulama pesantren. Hingga kini, NU tumbuh menjadi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia dengan jutaan anggota di seluruh nusantara.
Resolusi Jihad 1945
Peran KH Hasyim Asy’ari dalam sejarah kemerdekaan Indonesia mencapai puncaknya pada masa revolusi. Pada 22 Oktober 1945, ia mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Fatwa itu menyatakan bahwa mempertahankan tanah air dari penjajah adalah kewajiban dan perjuangan tersebut bernilai jihad fisabilillah.
Seruan itu membakar semangat para santri dan ulama untuk turun ke medan perang. Resolusi Jihad menjadi salah satu pemicu Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, ketika para pejuang dan rakyat mempertahankan kota dari pasukan Sekutu. Peristiwa itu kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Atas jasa-jasanya, KH Hasyim Asy’ari ditetapkan sebagai pahlawan nasional dan tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Karya dan Pemikiran
KH Hasyim Asy’ari meninggalkan banyak karya tulis yang menjadi rujukan penting dalam tradisi keilmuan pesantren. Di antara karyanya adalah Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah, yang menjelaskan prinsip-prinsip ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, serta Muqaddimah Al-Qanun Al-Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, yang menjadi landasan dasar organisasi NU.
Karya lainnya adalah Risalah fi Ta’kidul Akhdzi bi Mazhabil A’immatul Arba’ah, Arba’ina Hadisan, dan Adabul ‘Alim wal Muta’allim, sebuah kitab tentang adab seorang guru dan penuntut ilmu. Melalui karya-karya itu, ia menegaskan pentingnya berpegang pada mazhab empat imam, menghormati tradisi ulama terdahulu, dan menjaga adab dalam menuntut ilmu. Pemikiran inilah yang menjadi ciri khas NU hingga hari ini.
Keluarga dan Wafat
Keluarga KH Hasyim Asy’ari juga melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa. Putranya, KH Abdul Wahid Hasyim, menjadi salah satu perumus Piagam Jakarta dan kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Cucunya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, menjadi Presiden keempat Republik Indonesia. Mata rantai keilmuan dan kepemimpinan itu menunjukkan betapa besar pengaruh keluarga Tebuireng dalam sejarah Indonesia.
KH Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947, bertepatan dengan 7 Ramadan 1366 Hijriah, pada usia 76 tahun. Kabar duka itu datang tidak lama setelah ia menerima berita tentang Agresi Militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947, yang disampaikan oleh Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Kehidupan dan perjuangannya kemudian diabadikan dalam film Sang Kiai yang dirilis pada tahun 2013.
Warisan KH Hasyim Asy’ari hidup hingga hari ini melalui pesantren Tebuireng, Nahdlatul Ulama, dan jutaan santri yang melanjutkan perjuangannya. Ia mengajarkan bahwa ilmu, organisasi, dan perjuangan kemerdekaan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bagi generasi hari ini, sosok Hadratussyaikh menjadi teladan tentang bagaimana seorang ulama dapat memadukan keilmuan yang mendalam dengan kepedulian terhadap nasib bangsa.
Sumber: Wikipedia — Muhammad Hasyim Asy’ari — https://id.wikipedia.org/wiki/Hasyim_Asy%27ari
