Jawa Timur menyimpan lapisan sejarah yang sangat kaya: dari kejayaan kerajaan Hindu-Buddha, jejak dakwah para wali, hingga perjuangan kemerdekaan dan masa kolonial. Bagi keluarga yang ingin berwisata sambil belajar, provinsi ini menawarkan banyak situs yang mudah dijangkau dan sarat cerita. Berikut lima destinasi wisata sejarah di Jawa Timur yang layak masuk daftar kunjungan Anda.
Wisata sejarah berbeda dengan sekadar jalan-jalan. Di setiap situs, kita diajak memahami bagaimana orang-orang terdahulu hidup, berjuang, dan membangun peradaban. Karena itu, kunjungan semacam ini paling berkesan bila dilakukan perlahan: membaca keterangan yang tersedia, bertanya kepada pemandu, dan memberi waktu bagi anak-anak untuk bertanya dan mengamati.

Kelima destinasi berikut dipilih karena mewakili zaman yang berbeda: era Majapahit, masa perjuangan kemerdekaan, masa kolonial Belanda, dan masa awal penyebaran Islam di tanah Jawa. Semuanya berada di Jawa Timur dan telah lama dikenal sebagai tujuan wisata edukasi.
Baca Juga: 5 Tips Berwisata ke Pantai dengan Aman dan Nyaman
1. Candi Penataran, Blitar
Candi Penataran di Kabupaten Blitar adalah kompleks candi Hindu-Siwa yang disebut sebagai yang terbesar dan termegah di Jawa Timur. Pembangunan candi ini berlangsung pada masa Kerajaan Majapahit, dan situs ini masih digunakan hingga sekitar tahun 1415. Dalam kitab Nagarakretagama, candi ini disebut dengan nama Palah. Relief-reliefnya yang kaya, termasuk kisah-kisah dari wiracarita, menjadikan kunjungan ke Penataran seperti membaca buku sejarah yang dipahat di batu. Sejak 1995, kompleks ini tercatat dalam daftar tentatif Warisan Dunia UNESCO.
2. Situs Trowulan, Mojokerto
Di Kabupaten Mojokerto terbentang Situs Trowulan, kawasan arkeologi seluas sekitar seratus kilometer persegi yang diyakini sebagai lokasi ibu kota Kerajaan Majapahit, Wilwatikta. Di sini pengunjung dapat melihat peninggalan seperti Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Gapura Wringin Lawang, dan Kolam Segaran, serta mengunjungi Museum Trowulan yang menyimpan berbagai artefak Majapahit. Trowulan juga tercatat dalam daftar tentatif Warisan Dunia UNESCO sejak 2009. Berkunjung ke sini membantu kita membayangkan betapa besar dan tertatanya sebuah kerajaan Nusantara pada masa jayanya.
3. Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember, Surabaya
Tugu Pahlawan di Surabaya adalah monumen setinggi 41,15 meter yang dibangun untuk mengenang Pertempuran 10 November 1945. Bentuknya yang melengkung sepuluh ruas dan terbagi sebelas bagian melambangkan tanggal 10 bulan 11 tahun 1945. Di bawah tanah, pada kedalaman tujuh meter, terdapat Museum Sepuluh Nopember yang menyimpan diorama, foto, dan benda-benda perjuangan. Bagi keluarga, tempat ini adalah pengingat yang kuat tentang harga kemerdekaan dan keberanian para pejuang, termasuk Bung Tomo dan para santri serta pemuda Surabaya.
4. Benteng Van den Bosch, Ngawi
Benteng Van den Bosch di Ngawi, yang juga dikenal dengan sebutan Benteng Pendem, adalah benteng peninggalan Belanda yang pembangunannya selesai pada tahun 1845. Benteng ini berukuran sekitar 165 kali 80 meter di atas lahan seluas kurang lebih 15 hektare, dan terletak di dekat pertemuan Sungai Bengawan Madiun dan Bengawan Solo. Dahulu benteng ini difungsikan sebagai pertahanan sekaligus pusat pemerintahan kolonial di wilayah Madiun, dan kini sebagian ruangnya difungsikan sebagai museum. Lorong-lorong dan temboknya yang kokoh memberi gambaran nyata tentang masa kolonial di Jawa Timur.
5. Kawasan Masjid Ampel dan Makam Sunan Ampel, Surabaya
Kawasan Ampel di Surabaya adalah pusat sejarah penyebaran Islam di Jawa Timur. Masjid Agung Ampel adalah masjid kuno di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, yang didirikan pada masa Sunan Ampel, salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Di dekat masjid terdapat Kompleks Pemakaman Sunan Ampel yang hingga kini diziarahi banyak peziarah. Kawasan di sekitarnya juga terkenal dengan perkampungan Arab dan kuliner khasnya, sehingga kunjungan ke sini sekaligus menjadi wisata budaya yang hidup.
Tips berwisata sejarah bersama keluarga
Agar kunjungan lebih bermakna, datanglah pada pagi hari saat udara masih sejuk dan situs belum terlalu ramai. Gunakan pemandu bila tersedia, karena penjelasan mereka sering kali membuka cerita yang tidak tertulis di papan informasi. Ajarkan anak untuk tidak memanjat, mencoret, atau merusak bangunan kuno, dan jagalah kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Di situs keagamaan seperti kawasan Ampel, berpakaianlah sopan dan hormati jamaah yang sedang beribadah.
Siapkan pula bekal yang cukup, terutama air minum dan topi, karena sebagian situs berada di area terbuka. Bila membawa anak kecil, susun rute dari yang terdekat dan jangan memaksakan mengunjungi terlalu banyak tempat dalam sehari. Wisata sejarah yang baik bukan tentang banyaknya tempat yang dicentang, melainkan tentang cerita yang tertinggal di ingatan setelah pulang.
Dari candi-candi Majapahit hingga monumen perjuangan dan masjid para wali, Jawa Timur mengajarkan bahwa sejarah bangsa ini tidak hanya ada di buku pelajaran. Ia berdiri di tengah sawah, di pusat kota, dan di gang-gang tua yang masih hidup. Luangkan waktu untuk mengunjunginya, dan ajak keluarga untuk ikut merasakan kebanggaan atas warisan yang kita miliki bersama.
Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, Candi Penataran; Situs Trowulan; Tugu Pahlawan; Benteng Van den Bosch; Masjid Ampel.