Doa untuk keselamatan perjalanan adalah bekal penting bagi setiap Muslim yang hendak bepergian, baik perjalanan dekat maupun jauh. Bepergian merupakan bagian dari kehidupan: untuk bekerja, menuntut ilmu, bersilaturahmi, atau beribadah. Islam mengajarkan agar seorang musafir memohon perlindungan dan kemudahan kepada Allah sebelum berangkat, karena hanya Allah yang Maha Menjaga. Doa naik kendaraan dan doa safar yang diajarkan Rasulullah SAW menjadi amalan yang ringan diucapkan namun besar maknanya bagi keselamatan perjalanan.
Doa naik kendaraan diambil dari Surah Az-Zukhruf ayat 13-14. Bacaan Arabnya: سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. Latin: “Subhaanalladzi sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun.” Artinya: “Maha suci Allah yang telah menundukkan (kendaraan) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” Doa ini mengingatkan bahwa kendaraan yang kita naiki adalah karunia Allah yang patut disyukuri, dan bahwa perjalanan kita pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Doa Keselamatan Perjalanan (Doa Safar)
Untuk perjalanan jauh, Rasulullah SAW mengajarkan doa safar yang lebih lengkap. Doa ini diawali dengan takbir tiga kali, lalu membaca doa naik kendaraan, kemudian membaca: “Allaahumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal-birra wat-taqwaa, wa minal ‘amali maa tardhaa. Allaahumma hawwin ‘alaynaa safaranaa haadzaa, wath-wi ‘annaa bu’dah. Allaahumma antas-shaahibu fis-safari, wal khaliifatu fil ahli. Allaahumma innii a’uudzu bika min wa’tsaa-is-safari, wa ka-aabatil manzhari, wa suu-il munqalabi fil maali wal ahli.”
Artinya: “Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, dan kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengganti dalam keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, dari pemandangan yang menyedihkan, dan dari keburukan saat kembali, baik pada harta maupun keluarga.” Doa ini memohon tiga hal sekaligus: kebaikan dan ketakwaan selama perjalanan, kemudahan perjalanan, serta perlindungan dari segala keburukan.
Baca Juga: Doa Syukur atas Rezeki: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya
Baca Juga: Doa Setelah Wudhu: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya
Adab Bepergian dalam Islam
Selain membaca doa, Islam juga mengajarkan adab bepergian yang baik. Di antaranya adalah melakukan salat istikharah sebelum berangkat, meminta izin kepada orang tua, meminta wasiat dan doa dari orang-orang saleh, serta saling mendoakan dengan keluarga yang ditinggalkan. Dianjurkan pula untuk berangkat pada hari Kamis, mengangkat seorang pemimpin perjalanan bila bepergian berkelompok, tidak bepergian sendirian, dan mencari teman perjalanan yang baik.
Selama perjalanan, seorang musafir dianjurkan untuk tidak bercerai-berai saat singgah, memperhatikan kesiapan kendaraan, dan bersegera kembali setelah urusannya selesai. Sebaiknya hindari pulang secara tiba-tiba di malam hari, dan ketika tiba di kampung halaman, disunnahkan salat dua rakaat di masjid sebelum pulang ke rumah. Saat berjumpa dengan keluarga setelah perjalanan, berpelukan menjadi tanda kasih sayang dan syukur atas keselamatan yang diberikan Allah.
Keutamaan Doa Orang yang Bepergian
Doa seorang musafir memiliki keutamaan yang istimewa dalam Islam. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ada tiga doa yang tidak diragukan terkabulnya, yaitu doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang terzalimi. Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi. Artinya, saat seseorang sedang dalam perjalanan, doanya memiliki peluang besar untuk dikabulkan Allah. Karena itu, seorang musafir dianjurkan untuk memperbanyak doa, bukan hanya untuk keselamatannya sendiri, tetapi juga untuk keluarga, orang tua, dan kaum Muslimin lainnya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan dzikir selama perjalanan, seperti bertakbir ketika melewati jalan yang menanjak dan bertasbih ketika melewati jalan yang menurun. Dzikir-dzikir ringan seperti ini membuat perjalanan menjadi ibadah yang berpahala, bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bagi pengemudi, dzikir dapat dilakukan dalam hati agar konsentrasi tetap terjaga. Dengan hati yang selalu mengingat Allah, perjalanan menjadi lebih tenang dan penuh keberkahan.
Makna Doa Safar bagi Seorang Musafir
Doa safar mengandung makna tawakal yang mendalam. Seorang musafir mengakui bahwa dirinya tidak mampu menguasai kendaraannya tanpa pertolongan Allah, dan bahwa Allah adalah teman dalam perjalanan sekaligus pengganti yang menjaga keluarga yang ditinggalkan. Kesadaran ini membuat hati menjadi tenang, karena perjalanan tidak lagi dipikul sendiri, melainkan diserahkan kepada Allah yang Maha Menjaga.
Doa safar juga mengingatkan bahwa perjalanan adalah bagian kecil dari perjalanan besar menuju akhirat. Kalimat “sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami” mengajarkan bahwa setiap perjalanan duniawi akan berakhir, dan yang kekal adalah kembali kepada Allah. Dengan memahami makna ini, seorang musafir akan lebih berhati-hati dalam bersikap selama perjalanan, menjaga salatnya, dan memanfaatkan perjalanan untuk kebaikan. Semoga Allah melindungi setiap langkah perjalanan kita dan mengembalikan kita kepada keluarga dalam keadaan selamat.
Sumber:
detikHikmah, Doa Berkendara Lengkap: Arab, Latin dan Artinya agar Selamat di Perjalanan, https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-8442592/doa-berkendara-lengkap-arab-latin-dan-artinya-agar-selamat-di-perjalanan, 14 April 2026
