Buletin Islam — Banyak orang merasa gaji yang diterima selalu habis sebelum akhir bulan, padahal penghasilannya tidak kecil. Masalahnya sering kali bukan pada besarnya gaji, melainkan pada tidak adanya rencana dalam mengelolanya. Tanpa anggaran, uang akan mengalir begitu saja untuk hal-hal yang sebenarnya tidak mendesak. Membuat anggaran belanja bulanan adalah langkah sederhana yang dapat membantu gaji bertahan hingga akhir bulan, bahkan menyisakan dana untuk ditabung.
Anggaran adalah rencana tertulis tentang bagaimana penghasilan akan digunakan dalam satu periode tertentu, misalnya satu bulan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendefinisikan anggaran sebagai rencana keuangan yang disusun untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran agar tujuan keuangan dapat tercapai. Dengan kata lain, anggaran bukan sekadar catatan, melainkan alat untuk mengendalikan uang, bukan dikendalikan oleh uang. Berikut ini langkah-langkah membuat anggaran belanja bulanan yang realistis dan mudah dievaluasi.
Langkah pertama adalah memulai dari penghasilan bersih, yaitu uang yang benar-benar diterima setelah dipotong pajak, iuran BPJS, dan potongan lainnya. Banyak orang membuat anggaran berdasarkan gaji kotor, sehingga rencana yang dibuat tidak sesuai dengan kenyataan. Catatlah penghasilan bersih dari semua sumber, baik gaji pokok, tunjangan, maupun penghasilan tambahan, agar anggaran yang disusun didasarkan pada angka yang nyata.
Baca Juga: 7 Cara Menyiapkan Dana Pensiun Sejak Muda, Lengkap dengan Perhitungannya | Deposito vs Tabungan: Mana yang Lebih Cocok untuk Dana Darurat?
Gunakan Riwayat Pengeluaran Nyata
Langkah kedua adalah menggunakan riwayat pengeluaran nyata sebagai dasar penyusunan anggaran. Lihatlah mutasi rekening dan catatan pengeluaran selama dua atau tiga bulan terakhir. Dari data tersebut, kita dapat mengetahui ke mana saja uang selama ini pergi. Sering kali kita terkejut melihat besarnya pengeluaran untuk hal-hal kecil yang tidak disadari, seperti jajan, langganan aplikasi, atau ongkos ojek online.
Langkah ketiga adalah memisahkan pengeluaran ke dalam kelompok yang jelas: kebutuhan wajib, kewajiban, tujuan, dan pengeluaran fleksibel. Kebutuhan wajib meliputi makan, transportasi, dan tagihan rutin seperti listrik dan air. Kewajiban meliputi cicilan dan utang yang harus dibayar. Tujuan meliputi tabungan, dana darurat, dan investasi. Adapun pengeluaran fleksibel meliputi hiburan, makan di luar, dan belanja yang tidak mendesak. Pemisahan ini membantu kita melihat prioritas dengan lebih jernih.
Jangan Lupakan Biaya Tidak Rutin
Langkah keempat adalah menghitung biaya tidak rutin dan menyiapkan sinking fund, yaitu dana yang disisihkan sedikit demi sedikit untuk pengeluaran yang sudah dapat diprediksi tetapi tidak terjadi setiap bulan. Contohnya adalah pajak kendaraan, biaya servis motor atau mobil, perlengkapan sekolah anak, hingga perayaan hari besar. Tanpa sinking fund, pengeluaran seperti ini sering kali mengacaukan anggaran bulan berjalan.
Langkah kelima adalah menyadari bahwa tidak ada satu persentase yang cocok untuk semua orang. Banyak panduan keuangan menyarankan pembagian tertentu, misalnya 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan. Namun, angka ini hanyalah patokan awal. Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda: ada yang tinggal di kota besar dengan biaya hidup tinggi, ada pula yang masih tinggal bersama orang tua. Sesuaikan persentase dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Otomatisasi dan Evaluasi Rutin
Langkah keenam adalah mengotomatisasi prioritas. Begitu gaji diterima, segera pisahkan dana untuk tabungan dan dana darurat sebelum digunakan untuk hal lain. Cara ini dikenal dengan prinsip bayar diri sendiri terlebih dahulu. Dengan memindahkan dana tabungan secara otomatis ke rekening terpisah, kita tidak tergoda untuk menghabiskannya. Kebiasaan ini jauh lebih efektif daripada menabung dari sisa uang belanja.
Langkah ketujuh adalah melakukan evaluasi secara mingguan dan bulanan. Anggaran yang baik bukanlah anggaran yang kaku, melainkan anggaran yang terus disesuaikan dengan kenyataan. Setiap akhir pekan, luangkan waktu beberapa menit untuk memeriksa apakah pengeluaran masih sesuai rencana. Setiap akhir bulan, bandingkan rencana dengan realisasi, lalu perbaiki anggaran bulan berikutnya. Evaluasi rutin inilah yang membuat anggaran semakin akurat dari waktu ke waktu.
Membuat anggaran belanja bulanan tidak membutuhkan keahlian khusus, hanya kejujuran dan kedisiplinan. Mulailah dari penghasilan bersih, gunakan data pengeluaran nyata, pisahkan pengeluaran berdasarkan prioritas, siapkan dana untuk biaya tidak rutin, dan evaluasi secara berkala. Dengan anggaran yang realistis, gaji tidak lagi cepat habis, dan kita dapat membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat. Semoga bermanfaat.
Sumber: Simpul Nusa — Membuat Anggaran Bulanan yang Realistis dan Mudah Dievaluasi — https://www.simpulnusa.id/2026/10/cara-membuat-anggaran-bulanan.html
