Ada penyakit hati yang sering datang tanpa disadari: sombong. Ia tidak selalu tampil sebagai keangkuhan yang terang-terangan. Kadang ia menyelinap lewat perasaan bahwa diri kita lebih baik, lebih saleh, lebih pintar, atau lebih pantas dihormati daripada orang lain. Padahal, perasaan seperti itu justru merusak ketenangan hati yang selama ini dicari.
Islam memberi perhatian besar pada penyakit ini. Dalam nasihat Luqman kepada putranya yang diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18).
Ayat ini menggambarkan sombong lewat dua perilaku yang mudah dikenali: memalingkan wajah dari manusia — sikap meremehkan dan enggan menghargai orang lain — serta berjalan dengan angkuh di muka bumi. Keduanya berakar pada perasaan yang sama: merasa diri lebih tinggi daripada orang lain. Artikel ini mengajak kita mengenali kesombongan sejak dini dan merawat rendah hati sebagai penawarnya.
1. Mengenal Sombong dari Perilaku Sehari-hari
Sombong jarang muncul dalam bentuk yang dramatis. Dalam kehidupan sehari-hari, ia tampak pada hal-hal kecil: enggan mendengarkan pendapat orang lain, merasa pendapat sendirilah yang selalu benar, meremehkan orang yang pekerjaannya dianggap rendah, atau sulit menerima teguran. Seseorang yang sombong juga cenderung membanggakan pencapaiannya dan mengungkit kebaikannya kepada orang lain.
Yang membuat sombong berbahaya adalah sifatnya yang menipu. Orang yang sombong sering tidak merasa sombong; ia merasa hanya sedang “jujur” atau “percaya diri”. Padahal, kepercayaan diri yang sehat tidak membutuhkan perendahan orang lain. Di sinilah pentingnya muhasabah: memeriksa hati secara berkala, bukan hanya memeriksa amal lahiriah.
2. Mengapa Sombong Merusak Ketenangan
Sombong merusak ketenangan karena ia membuat seseorang terus membandingkan diri dengan orang lain. Hati yang sombong tidak pernah puas: selalu ada orang yang dianggap saingan, selalu ada pencapaian orang lain yang terasa mengancam. Akibatnya, kebahagiaan menjadi bergantung pada pengakuan orang lain, dan setiap pujian untuk orang lain terasa seperti pengurangan bagi diri sendiri.
Sebaliknya, rendah hati membebaskan. Orang yang rendah hati tidak perlu membuktikan dirinya lebih baik dari siapa pun. Ia dapat bergembira atas keberhasilan orang lain tanpa merasa kalah, menerima nasihat tanpa merasa direndahkan, dan meminta maaf tanpa merasa kehilangan harga diri. Inilah sebabnya rendah hati terasa menenangkan: ia memutus rantai perbandingan yang tidak ada habisnya.
Baca Juga: Hikmah Menghormati Orang Tua: Bakti yang Tak Lekang oleh Waktu dan Menjaga Hati dari Iri: Belajar Bahagia atas Nikmat Orang Lain
3. Mengingat Asal dan Akhir Diri
Salah satu obat kesombongan yang paling manjur adalah mengingat hakikat diri. Manusia berasal dari sesuatu yang hina, lahir tanpa membawa apa-apa, dan akan kembali kepada tanah tanpa membawa jabatan, harta, maupun gelar. Semua kelebihan yang kita miliki — ilmu, harta, rupa, kedudukan — adalah titipan yang dapat diambil kapan saja.
Kesadaran ini bukan untuk merendahkan diri secara berlebihan, melainkan untuk menempatkan diri secara proporsional. Orang yang sadar bahwa segala kelebihan adalah titipan akan lebih mudah bersyukur dan lebih sulit merasa bahwa ia berhak merendahkan orang lain. Syukur dan sombong sulit hidup berdampingan dalam satu hati.
4. Latihan Rendah Hati dalam Kehidupan Sehari-hari
Rendah hati dapat dilatih lewat kebiasaan-kebiasaan kecil. Pertama, biasakan mendengarkan hingga selesai sebelum menanggapi, terutama ketika pendapat orang lain berbeda. Kedua, ucapkan terima kasih atas bantuan sekecil apa pun, dan akui jasa orang lain secara tulus. Ketiga, bergaullah dengan berbagai kalangan tanpa membeda-bedakan perlakuan berdasarkan status.
Keempat, terimalah nasihat dengan lapang, bahkan ketika penyampaiannya tidak sempurna. Kelima, jangan mengungkit kebaikan yang pernah diberikan; kebaikan yang diungkit akan kehilangan keikhlasannya. Keenam, biasakan mendoakan orang lain, termasuk orang yang keberhasilannya membuat kita iri — doa yang tulus adalah cara ampuh melunakkan hati yang mengeras oleh kesombongan.
5. Waspada Sombong dalam Ibadah dan Ilmu
Kesombongan juga dapat menyusup ke dalam ibadah dan ilmu, dan bentuk inilah yang paling halus sekaligus paling berbahaya. Seseorang yang rajin beribadah bisa tergelincir ketika mulai merasa lebih saleh daripada orang lain, memandang rendah mereka yang ibadahnya belum sebaik dirinya, atau menganggap dirinya pasti selamat sementara orang lain pasti celaka. Padahal, diterimanya amal adalah urusan Allah, bukan sesuatu yang dapat dipastikan oleh pelakunya sendiri.
Demikian pula dengan ilmu: semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin besar pula ujian kesombongannya. Ilmu yang benar seharusnya membuat pemiliknya semakin sadar akan keterbatasannya, bukan semakin gemar merendahkan orang yang belum tahu. Karena itu, para penuntut ilmu diingatkan untuk menjaga niat: belajar untuk diamalkan dan diajarkan dengan lemah lembut, bukan untuk berdebat dan merasa menang.
Penutup
Menjaga hati dari sombong adalah pekerjaan seumur hidup. Ia tidak selesai dengan sekali muhasabah, karena setiap pencapaian baru dapat menumbuhkan bibit kesombongan yang baru. Karena itu, jadikan rendah hati sebagai latihan harian: dalam berbicara, dalam bergaul, dan dalam menilai orang lain.
Hati yang rendah hati adalah hati yang tenang. Ia tidak lelah membandingkan, tidak gelisah mengejar pengakuan, dan tidak rapuh oleh pujian maupun celaan. Semoga Allah menjaga hati kita dari kesombongan dan menghiasinya dengan kerendahan hati yang menenangkan.
Sumber:
- Quran.com, Surah Luqman Ayat 18.
