Ketika ditanya tentang nikmat yang patut disyukuri, kebanyakan orang akan menyebut hal-hal besar: kesehatan yang pulih setelah sakit, pekerjaan yang didapat setelah lama mencari, atau rumah yang akhirnya terbeli. Semua itu memang layak disyukuri. Namun, ada banyak nikmat kecil yang menyertai kita setiap hari dan justru sering terlupakan, padahal tanpa nikmat-nikmat kecil itulah hari-hari kita tidak akan berjalan dengan baik.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” Janji ini tidak dibatasi hanya untuk nikmat besar. Setiap nikmat yang disadari dan disyukuri, sekecil apa pun, membuka pintu bagi bertambahnya kebaikan dalam hidup kita.

Mari kita renungkan sejenak nikmat-nikmat kecil itu. Bangun pagi dalam keadaan sehat, dapat bernapas dengan lega, dan tubuh yang masih mampu bergerak adalah nikmat yang tidak ternilai. Air bersih yang mengalir saat berwudu, makanan yang tersaji di meja, dan atap yang melindungi dari panas dan hujan adalah nikmat yang begitu akrab sehingga kita menganggapnya biasa saja.
Baca Juga: Sabar dan Syukur: Dua Sayap Hati di Tengah Kesulitan
Mengapa nikmat kecil mudah terlupakan?
Nikmat kecil mudah terlupakan karena ia datang setiap hari tanpa jeda. Sesuatu yang selalu ada terasa seperti latar belakang kehidupan, bukan seperti hadiah. Kita baru menyadari nilainya ketika ia hilang sesaat: listrik padam semalam membuat kita menghargai cahaya, flu berat membuat kita merindukan napas yang lega, dan kemacetan yang panjang membuat kita menghargai perjalanan yang lancar.
Selain itu, kita sering membandingkan hidup kita dengan orang lain yang tampak memiliki lebih banyak. Perbandingan ini membuat mata kita tertuju pada apa yang belum dimiliki, bukan pada apa yang sudah ada. Padahal, membandingkan ke atas tanpa henti hanya melahirkan rasa kurang, sedangkan menengok ke bawah — kepada mereka yang keadaannya lebih sulit — justru menumbuhkan rasa syukur.
Nikmat kecil yang patut disyukuri setiap hari
Cobalah menyebut nikmat kecil dalam sehari: sapaan hangat dari pasangan atau anak di pagi hari, pesan dari teman lama yang menanyakan kabar, pekerjaan yang masih bisa dijalani, kendaraan yang berfungsi dengan baik, dan malam yang tenang untuk beristirahat. Ada pula nikmat yang tidak berwujud benda: ketenangan hati setelah berdoa, kemampuan untuk tersenyum di tengah kesibukan, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kemarin.
Di tengah keluarga, nikmat kecil itu tampak dalam hal-hal sederhana: anak yang sehat dan ceria, orang tua yang masih bisa ditelepon, dan makan malam bersama meski menunya sederhana. Semua ini adalah karunia yang tidak dapat dibeli dengan uang, tetapi sering kali kalah pamor dibandingkan pencapaian besar yang kita kejar.
Melatih hati untuk mensyukuri yang kecil
Syukur dapat dilatih. Pertama, biasakan mengucapkan alhamdulillah dengan kesadaran, bukan sekadar di bibir, setiap kali menyadari sebuah nikmat. Kedua, luangkan waktu sejenak setiap pagi atau malam untuk menyebut tiga nikmat kecil yang dialami hari itu. Latihan sederhana ini perlahan mengubah cara kita memandang hidup: dari yang serba kurang menjadi yang serba cukup.
Ketiga, sampaikan terima kasih kepada manusia yang menjadi perantara nikmat itu: kepada pasangan, orang tua, teman, atau siapa pun yang telah berbuat baik. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang yang tidak berterima kasih kepada manusia belum bersyukur kepada Allah. Keempat, gunakan nikmat itu dengan baik: kesehatan dipakai untuk beribadah dan bekerja, rezeki dibagikan kepada yang membutuhkan, dan waktu luang diisi dengan hal yang bermanfaat.
Syukur yang tampak dalam perbuatan
Syukur yang utuh tidak berhenti di ucapan. Ia tampak dalam perbuatan: menjaga kesehatan yang Allah titipkan, tidak menyia-nyiakan makanan dan air, menggunakan rezeki untuk hal yang bermanfaat, serta membantu orang lain yang kekurangan. Orang yang bersyukur atas air bersih akan menjaganya dari pemborosan; orang yang bersyukur atas waktu luang akan menggunakannya untuk belajar dan beribadah; orang yang bersyukur atas keluarga akan meluangkan waktu untuk mereka.
Dengan cara ini, syukur menjadi gaya hidup, bukan sekadar perasaan sesaat. Setiap nikmat kecil yang disadari dan digunakan dengan baik akan melahirkan nikmat berikutnya: hati yang tenang, hubungan yang hangat, dan rezeki yang terasa cukup meski tidak berlimpah.
Syukur di tengah kesulitan
Mensyukuri nikmat kecil tidak berarti menutup mata dari kesulitan. Justru di tengah kesulitan, nikmat kecil menjadi penguat: saat rezeki sedang sempit, kesehatan yang masih ada adalah penopang; saat rencana gagal, keluarga yang masih setia mendampingi adalah penghibur. Syukur dan sabar memang berjalan beriringan, seperti dua sayap yang membuat hati tetap bisa terbang meski angin kehidupan bertiup kencang.
Pada akhirnya, hidup yang terasa lapang bukan selalu hidup yang paling berlimpah, melainkan hidup yang paling banyak disyukuri. Mulailah hari ini: sebelum tidur malam ini, sebutkan tiga nikmat kecil yang Anda terima hari ini dan ucapkan alhamdulillah dengan sepenuh hati. Insya Allah, hati akan terasa lebih ringan, dan nikmat-nikmat berikutnya akan terasa lebih mudah dikenali.
Sumber: Quran.com, Surah Ibrahim ayat 7 (“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu”).