Keutamaan Istighfar: Pintu Ampunan, Kelapangan Rezeki, dan Ketenangan Hati

Keutamaan Istighfar: Pintu Ampunan, Kelapangan Rezeki, dan Ketenangan Hati

Istighfar adalah memohon maghfirah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maghfirah sendiri berarti ampunan untuk dosa sekaligus menutup dosa tersebut, di dunia maupun di akhirat. Amalan ini terlihat sederhana, hanya rangkaian kata yang diucapkan lisan, tetapi kedudukannya sangat agung: ia adalah perintah Allah, kebiasaan Rasulullah, dan pintu yang selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin kembali. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama hamba itu mau beristighfar dengan jujur.

Mengapa kita perlu beristighfar? Alasan pertama adalah karena manusia adalah tempat salah dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baiknya orang-orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertobat” (HR Tirmidzi). Alasan kedua, Allah memerintahkan kita untuk beristighfar. Allah Ta’ala berfirman, “Mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An-Nisa: 106), dan melalui lisan Nabi Nuh ‘alaihissalam, “Mohonlah ampunan kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Ia Maha Pengampun” (QS Nuh: 10). Alasan ketiga, Rasulullah yang merupakan manusia paling sempurna dan paling sedikit salahnya pun rutin beristighfar, bahkan tidak kurang dari 70 kali dalam sehari. Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.” Jika beliau yang maksum saja begitu tekun, betapa lebih pantasnya kita yang penuh kekurangan.

Foto: Mustafa Akın via Pexels

Sebab Diampuninya Dosa dan Dihapusnya Kejelekan

Keutamaan istighfar yang paling utama adalah diampuninya dosa dan dihapusnya kejelekan. Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang melakukan keburukan atau menzalimi dirinya sendiri, lalu memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Janji ini berlaku untuk siapa pun, tanpa memandang seberapa besar dosanya, selama ia kembali dengan jujur dan tidak menunda-nunda. Inilah kabar gembira terbesar bagi orang yang merasa dosanya sudah menumpuk: pintu ampunan tidak pernah ditutup selama nyawa masih di kandung badan.

Baca Juga: Sedekah Subuh: Memulai Hari dengan Memberi dan Menenangkan Hati dan Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Mencegah Hukuman dari Allah

Keutamaan berikutnya merupakan kelanjutan dari yang sebelumnya: istighfar mencegah datangnya hukuman. Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah Allah memberikan azab kepada mereka, selama mereka memohon ampunan” (QS Al-Anfal: 33). Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar adalah perisai: selama lisan dan hati masih sibuk memohon ampun, azab tertahan. Karena itu, para ulama menasihati agar istighfar dijadikan kebiasaan harian, bukan hanya diucapkan saat tertimpa musibah.

Sebab Datangnya Rezeki dan Kelapangan

Selain berhubungan dengan ampunan dan hilangnya azab, istighfar juga memiliki keutamaan duniawi yang sangat nyata: ia menjadi sebab datangnya rezeki dan kelapangan dari kesulitan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang merutinkan istighfar, maka akan Allah jadikan baginya jalan keluar dari segala kesusahan, dari segala kesempitan, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR Abu Dawud). Hadits ini menjelaskan mengapa banyak orang yang sedang sempit rezekinya dianjurkan memperbanyak istighfar: kelapangan sering datang setelah hati dibersihkan dari beban dosa.

Sebab Turunnya Hujan dan Datangnya Pertolongan

Keutamaan lain dari istighfar adalah menjadi sebab turunnya hujan dan datangnya pertolongan. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam, “Mohon ampunanlah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Ia adalah Zat yang Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepada kalian.” Allah juga berfirman, “Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya! Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepada kalian dan menambah kekuatan kepada kekuatan kalian.” Istighfar dengan demikian bukan hanya urusan akhirat, tetapi juga jalan pertolongan untuk urusan dunia.

Bagaimana Cara Beristighfar?

Cara beristighfar sangat mudah dan bisa dilakukan kapan saja. Lafaz yang paling ringkas adalah astaghfirullah (aku memohon ampun kepada Allah), atau astaghfirullah wa atuubu ilaih (aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya). Di antara lafaz yang paling utama adalah doa sayyidul istigfar: “Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta, khalaqtanî, wa ana ‘abduka, wa ana ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’ûdzu bika min syarri mâ shana’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bidzanbî, faghfirlî, fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.” Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu atasku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.” Rutinkan istighfar seusai salat, pada pagi dan petang, serta di saat lapang maupun sempit, dengan hati yang hadir, bukan sekadar lisan yang bergerak.

Kita adalah manusia yang merupakan tempatnya salah dan dosa, dan sepatutnya kita merutinkan istighfar setiap hari. Ia adalah pintu ampunan, penolak azab, sebab datangnya rezeki, dan jalan turunnya pertolongan. Mulailah hari ini, dengan meneladani Rasulullah yang tidak kurang dari 70 kali beristighfar dalam sehari, dan rasakan ketenangan hati yang lahir dari hati yang bersih.

Sumber: Muslim.or.id, “Keutamaan dan Tata Cara Istigfar”, https://muslim.or.id/108633-keutamaan-dan-tata-cara-istigfar.html (29 Agustus 2025, oleh Firdian Ikhwansyah).

Pos terkait