Kota-Kota Islam Bersejarah di Dunia: Jejak Peradaban yang Masih Hidup

Peradaban Islam pernah melahirkan kota-kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Dari Baghdad hingga Córdoba, dari Kairouan hingga Fez, kota-kota ini bukan hanya tempat tinggal jutaan manusia, melainkan juga laboratorium gagasan: tempat buku diterjemahkan, ilmu dikembangkan, dan seni dirayakan. Sebagian jejak itu masih berdiri hingga hari ini, menjadi saksi bahwa kejayaan peradaban dapat diwariskan lewat ilmu dan karya.

Periode yang sering disebut Zaman Keemasan Islam berlangsung kira-kira dari abad ke-8 hingga abad ke-14 Masehi. Pada masa ini, kegiatan intelektual dan budaya berkembang pesat di berbagai pusat kota di Asia Barat, Afrika Utara, Al-Andalus, Asia Tengah, dan Afrika Timur. Kota-kota berikut adalah di antara pusat-pusat terpentingnya, dan kisah masing-masing masih dapat dirasakan hingga kini.

Menara batu bersejarah di Damaskus dengan latar langit cerah
Foto: metin cengiz / Pexels — menara bersejarah di Damaskus, salah satu kota tertua yang menjadi pusat peradaban Islam.

Yang menyatukan kota-kota ini bukan hanya masjid dan istananya, melainkan semangat yang sama: menghargai ilmu. Para penguasa membiayai penerjemahan karya-karya Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab, para ulama dan ilmuwan berkumpul di perpustakaan dan madrasah, dan para pedagang membawa gagasan melintasi benua. Warisan inilah yang membuat kota-kota tersebut tetap relevan untuk dikenang.

Baghdad: Kota Seribu Ilmuwan

Baghdad menjadi pusat Zaman Keemasan Islam pada masa Khalifah Abbasiyah Harun ar-Rasyid (786–809), dengan berdirinya Baitul Hikmah atau House of Wisdom. Lembaga ini menarik para ilmuwan dari seluruh dunia Islam untuk menerjemahkan pengetahuan klasik dunia ke dalam bahasa Arab. Pada masa itu Baghdad adalah salah satu kota terbesar di dunia, dan perpustakaan serta kegiatan penerjemahannya menjadi jantung peradaban. Kejayaan itu berakhir secara simbolis ketika Baghdad dihancurkan dalam pengepungan Mongol pada 1258, tetapi karya-karya yang lahir dari kota ini — dalam matematika, kedokteran, astronomi, dan filsafat — terus hidup dalam peradaban dunia.

Córdoba: Permata Al-Andalus

Di ujung barat dunia Islam, Córdoba menjadi ibu kota Umayyah di Al-Andalus dan berkembang menjadi kota terbesar di Eropa pada masanya, melampaui Konstantinopel. Kota ini menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran terkemuka, melahirkan banyak ilmuwan dan sastrawan. Pembangunan Masjid Agung Córdoba dimulai pada 785 dan menandai awal arsitektur Islam di Spanyol dan Afrika Utara. Hingga kini, lengkungan-lengkungan masjidnya yang megah masih memikat jutaan pengunjung setiap tahun dan mengingatkan pada masa ketika Andalusia menjadi jembatan ilmu antara dunia Islam dan Eropa.

Baca Juga: Doa Berbuka Puasa Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya

Kairouan: Leluhur Masjid-Masjid Barat

Kairouan di Tunisia menyimpan Masjid Agung Kairouan, yang didirikan pada 670 dan disebut sebagai leluhur semua masjid di dunia Islam bagian barat, kecuali Turki dan Balkan. Masjid ini adalah salah satu contoh masjid agung awal yang paling terpelihara dan paling penting, dengan menara persegi tiga tingkat, halaman luas, dan ruang shalat hypostyle yang ditopang tiang-tiang. Kairouan menjadi pusat penyebaran Islam dan ilmu ke Afrika Utara, dan kota tuanya hingga kini masih menjadi tujuan ziarah dan wisata sejarah.

Kairo: Kota Seribu Menara dan Al-Azhar

Kairo, ibu kota Mesir, menyimpan warisan Dinasti Fatimiyah yang masih hidup hingga kini, terutama Universitas Al-Azhar dan Masjid Al-Azhar. Pengajaran terorganisasi di Masjid Al-Azhar dimulai pada 978, dan lembaga ini kemudian menjadi salah satu universitas tertua yang masih beroperasi di dunia. Kairo juga dikenal sebagai kota dengan ratusan masjid bersejarah, pasar tua, dan rumah sakit wakaf yang pada masanya melayani pasien tanpa memandang kemampuan membayar. Hingga kini, Al-Azhar tetap menjadi rujukan keilmuan Islam bagi jutaan muslim di seluruh dunia.

Fez: Universitas Tertua di Dunia

Fez di Maroko menyimpan kebanggaan tersendiri: Universitas Al-Qarawiyyin yang didirikan pada 859 Masehi dan tercatat dalam Guinness Book of Records sebagai universitas pemberi gelar tertua di dunia. Didirikan oleh Fatimah al-Fihri, universitas ini telah menjadi pusat pembelajaran selama lebih dari sebelas abad. Kota tua Fez dengan gang-gang sempitnya, pasar tradisionalnya, dan madrasah-madrasahnya masih memancarkan suasana kota ilmu abad pertengahan, dan hingga kini tetap menjadi pusat spiritual dan intelektual Maroko.

Damaskus: Kota Tertua yang Terus Hidup

Damaskus di Suriah, salah satu kota tertua yang terus dihuni di dunia, juga tercatat sebagai pusat penting Zaman Keemasan Islam. Pada abad ke-14, astronom Ibnu asy-Syathir bekerja di Damaskus dan mengembangkan model astronomi yang memperbaiki kekurangan model Ptolemaeus. Pada abad ke-15, kota ini memiliki enam rumah sakit, bukti bahwa pelayanan kesehatan telah menjadi bagian dari peradaban kotanya. Menara-menara tua Damaskus yang masih berdiri hingga kini menjadi pengingat bahwa kota ini telah menyaksikan naik-turun banyak peradaban dan tetap bertahan.

Kota-kota ini mengajarkan satu pelajaran yang sama: peradaban dibangun oleh ilmu yang dihargai dan dibagikan. Baghdad menerjemahkan warisan dunia, Córdoba menjadi jembatan ke Eropa, Kairouan menyebarkan Islam ke Afrika Utara, Kairo menjaga tradisi keilmuan, dan Fez memelihara universitas tertua di dunia. Jejak mereka masih hidup — bukan hanya pada batu dan menara, tetapi pada ilmu yang terus kita pelajari hingga hari ini.

Bagi pembaca masa kini, mengenang kota-kota ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa kejayaan peradaban tidak diwariskan lewat harta semata, melainkan lewat perpustakaan, madrasah, rumah sakit, dan masjid yang melayani ilmu dan kemanusiaan. Semoga semangat itu terus hidup dalam keluarga dan masyarakat kita: menghargai ilmu, merawat warisan, dan membangun peradaban yang bermanfaat bagi sesama.

Sumber

Pos terkait