Saat azan Magrib berkumandang di bulan Ramadan, jutaan keluarga muslim di seluruh dunia serentak membatalkan puasanya. Momen itu disebut iftar, yaitu santapan berbuka puasa pada waktu Magrib. Meski inti ibadahnya sama, cara setiap negeri merayakannya berbeda-beda: hidangannya, bunyi penandanya, hingga kebiasaan berbaginya. Pada tahun 2023, UNESCO bahkan menetapkan iftar sebagai Warisan Budaya Takbenda, sebagai pengakuan atas peran iftar dalam mempererat keluarga, mendorong kedermawanan, dan melestarikan warisan budaya.
Di tengah segala perbedaan itu, ada benang merah yang menyatukan: berbuka biasanya diawali dengan kurma, mengikuti sunnah Nabi SAW, dan memberi makan orang yang berpuasa dipandang sebagai amal yang sangat utama. Dari benang merah inilah lahir berbagai tradisi berbagi yang indah di banyak negara.

Mari kita berkeliling ke beberapa negeri muslim dan melihat bagaimana mereka berbuka dan berbagi.
Baca Juga: Doa Berbuka Puasa Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Indonesia: takjil, kolak, dan bunyi bedug
Di Indonesia, berbuka disebut “buka puasa” atau “takjil”. Setelah waktu Asar, pasar-pasar tradisional mulai ramai menjual aneka takjil: kolak, es kelapa muda, es buah, es campur, hingga cendol atau dawet. Banyak dari hidangan ini hanya mudah dijumpai selama Ramadan. Waktu Magrib secara tradisional ditandai dengan bunyi bedug, genderang besar dari masjid, sebelum jamaah melanjutkan shalat Isya dan Tarawih yang sering diawali ceramah singkat.
Malaysia: bazar Ramadan dan bubur lambuk
Di Malaysia, berbuka dikenal sebagai “berbuka puasa”. Sepanjang Ramadan, bazar Ramadan bermunculan di mana-mana, menjual minuman bandung, air tebu, susu kedelai bercampur cincau, nasi lemak, laksa, ayam percik, nasi ayam, satai, dan popiah. Salah satu tradisi berbagi yang khas adalah pembagian bubur lambuk, sejenis bubur nasi, setelah shalat Asar. Setelah Tarawih, banyak jamaah menikmati santapan ringan di halaman masjid yang disebut moreh.
Turki: iftariye, meriam Ramadan, dan lampu kandil
Di Turki dan Siprus Utara, hidangan berbuka memainkan peran besar. Menu iftar di restoran biasanya diawali dengan iftariye, yaitu hidangan pembuka berisi kurma, zaitun, keju, pastırma, sujuk, roti khusus Ramadan yang disebut Ramazan pidesi, dan aneka pastri börek. Makanan penutup yang lazim disajikan adalah güllaç. Saat matahari terbenam, meriam Ramadan tradisional ditembakkan sebagai penanda berbuka, sementara lampu-lampu yang disebut kandil dinyalakan di menara-menara masjid dari senja hingga fajar. Di Lapangan Sultanahmet, Istanbul, berbagai kegiatan Ramadan digelar, dan banyak orang mengadakan jamuan iftar untuk fakir miskin, pelajar, tamu, dan pendatang.
Maroko: harira, sfouf, dan chebakia
Di Maroko, hidangan yang secara tradisional diasosiasikan dengan berbuka adalah kurma, harira (sup yang kaya rasa), sfouf atau sellou, serta chebakia, kue manis berbentuk anyaman yang dicelup madu. Hidangan-hidangan ini menjadi penanda bahwa Ramadan telah tiba di meja makan keluarga Maroko.
Iran: iftar raksasa di Makam Imam Reza
Di Iran, salah satu jamuan iftar terbesar di dunia berlangsung di Makam Imam Reza di kota Mashhad, yang dihadiri sekitar 12 ribu orang setiap malamnya. Tradisi di tempat suci ini telah berjalan selama 332 tahun. Hidangan pembuka yang umum di Iran antara lain teh dengan zulbia dan bamiyeh serta manisan lain, kurma, halva, fereni, ash reshteh, halim, roti, dan keju paneer bersama sayuran hijau dan herba segar.
Brunei: sungkai, beduk, dan dentuman meriam
Di Brunei Darussalam, iftar secara lokal disebut sungkai. Tradisi ini biasanya digelar di masjid wilayah atau desa, di mana penduduk setempat menyiapkan hidangan prasmanan yang terbuka bagi siapa pun yang hendak berbuka bersama. Tanda dimulainya sungkai adalah bunyi beduk, sejenis genderang, dan di ibu kota Bandar Seri Begawan, beberapa meriam turut ditembakkan di kawasan pusat bisnis sebagai penanda. Selama Ramadan pula, pasar-pasar tamu menjual aneka kuliner lokal yang hanya ramai pada bulan ini.
Berbagi yang melampaui batas negara
Semangat berbagi iftar tidak mengenal batas geografis. Di Amerika Serikat dan Kanada, jamuan iftar sering digelar di masjid, rumah, dan pusat komunitas Islam, dan Pentagon pun meneruskan tradisi mengadakan iftar bagi anggota muslim angkatan bersenjata Amerika Serikat. Di mana pun umat Islam berada, meja berbuka menjadi ruang persaudaraan yang terbuka bagi siapa saja.
Bagi kita di Indonesia, pelajarannya jelas: tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Sebungkus takjil untuk tetangga, undangan buka bersama di masjid, atau sekadar menyapa pengendara yang berbuka di jalan sudah cukup untuk menghidupkan semangat iftar. Berbagi yang kecil tetapi tulus sering kali lebih berkesan daripada jamuan besar yang dilakukan tanpa kehangatan.
Ragam yang menyatukan
Dari Indonesia hingga Turki, dari Maroko hingga Brunei, bentuknya memang berbeda: ada yang menandai berbuka dengan bedug, ada yang dengan meriam; ada yang berbuka dengan kolak, ada yang dengan harira. Namun, pesannya sama: Ramadan adalah bulan berbagi. Memberi makan orang yang berpuasa, membuka pintu rumah dan masjid bagi siapa pun, serta merayakan kebersamaan setelah seharian menahan diri adalah nilai yang dipegang bersama oleh umat Islam di mana pun berada.
Semoga ragam tradisi ini menginspirasi kita untuk menghidupkan semangat yang sama di lingkungan sendiri: berbuka bersama keluarga, berbagi takjil dengan tetangga, dan menjadikan meja berbuka sebagai tempat bertemunya hati, bukan sekadar perut yang kenyang.
Sumber: Wikipedia bahasa Inggris, Iftar (terakhir disunting 27 Oktober 2026; merujuk pada penetapan UNESCO 2023 atas iftar sebagai Warisan Budaya Takbenda).