Khutbah Jumat: Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Jamaah shalat berjamaah di masjid
Jamaah shalat berjamaah di masjid. Foto ilustrasi umum: Raihan Ali / Pexels.

Artinya: Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya. Selanjutnya, wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, karena sungguh beruntunglah orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS Al-Hujurat [49]: 10).

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, persatuan adalah nikmat yang sering kali baru terasa nilainya ketika ia mulai retak. Bangsa kita dianugerahi keberagaman yang luar biasa: beragam suku, bahasa, budaya, dan adat istiadat, yang hidup berdampingan dari Sabang sampai Merauke. Perbedaan itu bukanlah kecelakaan sejarah, melainkan ketetapan Allah atas ciptaan-Nya. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara, sehingga perbedaan apa pun tidak boleh memutus ikatan persaudaraan tersebut. Persaudaraan seiman justru menjadi perekat yang melampaui batas suku, daerah, dan golongan.

Persaudaraan yang dimaksud ayat ini menuntut sikap nyata. Ketika dua saudara berselisih, perintahnya bukan membiarkan apalagi mengadu domba, melainkan mendamaikan. Takwa disebut bersamaan dengan perintah mendamaikan, karena hanya hati yang bertakwa yang mampu menahan ego, menahan lisan dari ucapan yang memanaskan, dan mendahulukan kemaslahatan bersama di atas kepentingan kelompok. Orang yang bertakwa menyadari bahwa setiap ucapan dan tindakannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sehingga ia berhati-hati sebelum menyebarkan kabar dan sebelum mengambil sikap dalam perselisihan.

Di zaman sekarang, ancaman terhadap persatuan sering datang lewat hal-hal yang tampak sepele: kabar yang belum jelas kebenarannya yang langsung dibagikan, komentar yang merendahkan kelompok lain, hingga fanatisme golongan yang membuat seseorang merasa paling benar sendiri. Media sosial mempercepat penyebaran semua itu. Satu unggahan yang memanaskan suasana bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan menit, padahal kebenarannya belum tentu teruji. Karena itu, menjaga persatuan pada hari ini juga berarti menjaga lisan dan jari-jari kita: tidak menyebarkan kabar sebelum memeriksa kebenarannya, tidak mengomentari sesuatu yang belum dipahami, dan tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk saling membenci.

Bagaimana cara praktis menjaga persatuan di tengah perbedaan? Pertama, biasakan tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran kabar sebelum mempercayai dan membagikannya. Kedua, hormati perbedaan yang masih dalam koridor yang dibenarkan, terutama perbedaan pendapat dalam hal-hal furu’ yang sejak dulu memang sudah ada di kalangan ulama. Ketiga, dahulukan musyawarah dan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok. Keempat, hidupkan kembali gotong royong di lingkungan kita: kerja bakti, ronda malam, membantu tetangga yang kesulitan, dan menghadiri majelis bersama. Persatuan yang dirawat lewat kebersamaan sehari-hari akan jauh lebih kokoh daripada persatuan yang hanya diucapkan di atas mimbar.

Baca Juga: Gotong Royong di Lingkungan Kita: Modal Sosial yang Menjaga Kerukunan Warga dan Peran Karang Taruna bagi Pemuda dan Lingkungan Desa

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: Segala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, dan syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai pengagungan terhadap keagungan-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru kepada keridaan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya. Selanjutnya, wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai Muslim. Ya Allah, ampunilah kaum Muslimin dan Muslimat, kaum Mukminin dan Mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.

Jamaah yang dirahmati Allah, marilah kita tutup khutbah ini dengan tekad: menjaga persatuan adalah ibadah. Ia dijaga dengan lisan yang santun, dengan sikap yang adil, dan dengan doa yang tulus untuk bangsa dan sesama. Kita memohon kepada Allah agar negeri ini senantiasa aman, rukun, dan diberkahi; agar para pemimpin diberi petunjuk untuk berlaku adil; agar para ulama dan guru diberi keikhlasan; dan agar kita semua wafat dalam keadaan beriman dan bersatu dalam kebaikan. Semoga Allah menjadikan Jumat ini sebagai awal yang lebih baik bagi persatuan kita, di keluarga, di lingkungan, dan di negeri tercinta ini.

Sumber:

Pos terkait