Posisi China sebagai pemain terkuat di industri mobil listrik dunia kini sulit dibantah. Merek-merek asal negara itu bahkan disebut mampu menyaingi, bahkan melampaui, penjualan produsen Amerika Serikat yang selama ini menjadi ikon kendaraan listrik. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apa yang membuat China melesat begitu jauh?
Penjelasan itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, dalam Periklindo Electric Vehicle Conference 2026 di Jakarta pada Rabu, 28 Oktober 2026. Menurutnya, keunggulan China lahir dari perpaduan tiga hal: penelitian yang digarap serius, ketersediaan sumber daya manusia yang menjawab kebutuhan pasar, serta kebijakan negara yang berpihak pada riset. Bukan hasil instan, melainkan buah dari pilihan arah yang konsisten selama bertahun-tahun.
Pada awal 2000-an, kendaraan listrik di China masih sangat jarang ditemui. Titik baliknya terjadi ketika pemerintah menetapkan riset kendaraan listrik sebagai agenda nasional. Sejak itu, dukungan tidak hanya diberikan kepada pengguna, tetapi juga kepada kegiatan penelitian di bidang kendaraan listrik. Sementara negara lain mengambil jalur berbeda—Jepang misalnya lebih dulu mengembangkan hybrid dan industri Amerika Serikat sudah lebih maju—China justru memilih fokus yang lebih tajam.
Fokus itu adalah baterai. China mengarahkan risetnya untuk menghasilkan baterai listrik semurah mungkin, karena komponen inilah yang menentukan harga dan daya saing kendaraan listrik. Bersamaan dengan itu, China mengembangkan kendaraan bertenaga relatif rendah sebagai tahap awal, mulai dari sepeda motor hingga mobil kecil, dan memberi insentif untuk penggunaan bus. Strategi bertahap ini membuat pasarnya tumbuh dari bawah, bukan langsung dari segmen premium. Pembaca dapat mengikuti perkembangan seputar kendaraan di arsip otomotif Buletin Islam untuk melihat bagaimana teknologi kendaraan terus berubah.
Pelajaran yang ditekankan Stella justru bukan ajakan meniru mentah-mentah. Setiap negara, termasuk Indonesia, perlu merumuskan strateginya sendiri sesuai kondisi dan kebutuhannya. Jika riset, talenta, dan kebijakan berjalan seiring, industri kendaraan listrik dalam negeri punya peluang untuk tumbuh dengan jalannya sendiri, bukan sekadar menjadi penonton di pasar global.
Baca Juga: Begini Beda Radiator Mobil Listrik dengan Mobil Konvensional | Dua Mobil Hybrid Suzuki Dapatkan Insentif Dari Pemerintah Ertiga Hybrid dan XL7 Hybrid Turun Harga
Sumber: detikOto — Wamen Stella Ungkap Alasan China Bisa Jadi Raja Mobil Listrik Dunia (29 Oktober 2026).
