Buletin Islam — KH Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Artikel ini adalah seri kelima dari rangkaian “7 Profil Ulama Nusantara”, setelah Sunan Kalijaga, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, dan KH Hasyim Asy’ari. Sosoknya dikenal sebagai pembaharu Islam yang menekankan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta memadukan dakwah dengan pendidikan dan pelayanan sosial.
KH Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwis pada 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah anak keempat dari tujuh bersaudara, putra KH Abu Bakar, khatib Masjid Besar Yogyakarta, dan Siti Aminah, putri KH Ibrahim yang pernah menjabat penghulu di Kesultanan Yogyakarta. Lingkungan Kauman yang religius membentuknya sejak kecil, dan ia belajar agama pertama kali dari ayahnya sendiri. Nama Ahmad Dahlan kemudian diberikan oleh Sayyid Bakri Syatha, seorang ulama besar di Makkah, ketika ia menunaikan ibadah haji.
Perjalanan ilmu Ahmad Dahlan tidak berhenti di Yogyakarta. Setelah belajar kepada sejumlah ulama di tanah air, ia berangkat ke Makkah pada tahun 1890 dan belajar di sana selama beberapa tahun. Di Makkah, ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan bersahabat dengan Syekh Muhammad Jamil Jambek. Ia juga mengenal pemikiran pembaharu Islam seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin al-Afghani. Pada tahun 1903, ia kembali ke Makkah untuk kedua kalinya dan memperdalam ilmu agama. Ketika pulang ke Yogyakarta pada tahun 1905, ia membawa semangat pembaruan yang kemudian mengubah wajah dakwah Islam di tanah air.
Baca Juga: Seri 4/7: Profil KH Hasyim Asy’ari, Pendiri Nahdlatul Ulama | Seri 3/7: Profil Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Guru Para Ulama Nusantara
Mendirikan Muhammadiyah
Pada 18 November 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta. Organisasi ini lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi umat Islam yang masih banyak terikat pada takhayul, bid’ah, dan khurafat, serta tertinggal dalam pendidikan. Muhammadiyah mengajak umat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang rasional dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Dua tahun kemudian, pada 22 Agustus 1914, Muhammadiyah memperoleh pengesahan sebagai badan hukum dari pemerintah Hindia Belanda melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Nomor 81.
Sebagai ketua pertama Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan memimpin organisasi ini dari tahun 1912 hingga wafatnya pada tahun 1923. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah berkembang pesat dan membuka cabang di berbagai daerah. Organisasi ini tidak hanya berdakwah melalui pengajian, tetapi juga mendirikan sekolah, madrasah, klinik, rumah sakit, dan panti asuhan. Bagi KH Ahmad Dahlan, dakwah harus diwujudkan dalam amal nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, bukan sekadar ceramah di atas mimbar.
Dakwah yang Merangkul Semua Kalangan
Cara berdakwah KH Ahmad Dahlan dikenal terbuka dan merangkul semua kalangan. Ia berdialog dengan Pater Frans van Lith, seorang misionaris Katolik, dan pernah mengajar agama Islam di sekolah-sekolah Belanda. Ia juga berdakwah kepada masyarakat Tionghoa di kawasan Kraton Yogyakarta. Baginya, Islam harus disampaikan dengan hikmah dan teladan, bukan dengan paksaan. Untuk menghidupi keluarganya, ia bekerja sebagai pedagang batik, sebuah pekerjaan yang memungkinkannya bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang.
Selain itu, KH Ahmad Dahlan juga mengajar di sekolah guru OSVIA di Magelang, Jawa Tengah. Pengalamannya mengajar di lembaga pendidikan pemerintah memberinya wawasan tentang pentingnya pendidikan modern bagi umat Islam. Ia mendorong umat Islam untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum di samping ilmu agama, agar tidak tertinggal dari perkembangan zaman. Semangat inilah yang kemudian menjadi ciri khas Muhammadiyah hingga hari ini.
Keluarga dan Aisyiyah
KH Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah, yang kemudian dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Bersama istrinya, ia dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah, dan Dandanah. Siti Walidah bukan sekadar pendamping, melainkan mitra dakwah yang aktif. Ia mendirikan Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, yang fokus pada pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Aisyiyah menjadi bukti bahwa gerakan pembaruan KH Ahmad Dahlan memberi ruang bagi perempuan untuk berkiprah.
Wafat dan Warisan
KH Ahmad Dahlan wafat pada 23 Februari 1923 di Yogyakarta dalam usia 54 tahun, dan dimakamkan di pemakaman Karangkajen, Yogyakarta. Setelah wafatnya, kepemimpinan Muhammadiyah dilanjutkan oleh KH Ibrahim. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 657 Tahun 1961 tertanggal 27 Desember 1961. Kisah hidupnya juga diangkat ke layar lebar melalui film “Sang Pencerah” pada tahun 2010.
Warisan KH Ahmad Dahlan masih terasa hingga hari ini. Muhammadiyah tumbuh menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan jaringan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lembaga sosial di seluruh penjuru negeri. Semangatnya yang memadukan iman, ilmu, dan amal menjadi teladan bagi generasi berikutnya: bahwa perubahan umat dimulai dari pendidikan, dakwah yang santun, dan kerja nyata untuk masyarakat.
Sumber: Wikipedia — Ahmad Dahlan — https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan
