Foto: Hidangan sehat, via Unsplash.
Makan adalah nikmat yang sering kita terima setiap hari, tetapi mudah luput dari syukur. Dalam Islam, setiap aktivitas, termasuk makan, diawali dan diakhiri dengan doa. Doa bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan pengingat bahwa rezeki datang dari Allah, dan bahwa tubuh yang sehat adalah amanah yang harus dijaga.
Sebelum makan, seorang muslim dianjurkan membaca basmalah dan doa memohon keberkahan. Doa yang masyhur dibaca sebelum makan adalah sebagai berikut.
Doa sebelum makan (Arab): اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Transliterasi Latin: Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa adzaaban naar.
Terjemahan Indonesia: Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.
Doa ini singkat, tetapi maknanya luas. Kita memohon agar makanan yang dimakan menjadi berkah, yakni bermanfaat bagi tubuh, tidak berlebihan, dan tidak melalaikan dari ketaatan. Kita juga memohon perlindungan dari api neraka, sebagai pengingat bahwa kenikmatan dunia harus diiringi kesadaran akan akhirat.
Baca Juga: Baznas Salurkan 4.520 Paket Bahan Pokok Rp26 Miliar untuk Warga Palestina | Pulang dari Assisi, Menag Bawa Tawaran Kerja Sama dari Inggris, Australia, Pakistan hingga Vatikan
Setelah selesai makan, kita dianjurkan membaca hamdalah dan doa syukur. Doa sesudah makan yang masyhur adalah sebagai berikut.
Doa sesudah makan (Arab): الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ
Transliterasi Latin: Alhamdulillahil ladzii ath’amanaa wa saqaanaa wa ja’alanaa muslimiin.
Terjemahan Indonesia: Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami orang-orang muslim.
Doa sesudah makan mengajarkan tiga syukur sekaligus: syukur atas makanan, syukur atas minuman, dan syukur atas nikmat Islam. Banyak orang di dunia yang kesulitan mendapatkan makanan dan minuman bersih, sehingga kemampuan kita untuk makan dengan tenang adalah nikmat yang patut disyukuri dengan sungguh-sungguh.
Adab makan juga melengkapi doa. Makanlah dengan tangan kanan, dari makanan yang terdekat, tidak mencela makanan, dan berhenti sebelum terlalu kenyang. Adab ini menjaga kesehatan, menjaga sopan santun, dan menjaga agar kenikmatan tidak berubah menjadi pemborosan. Anak-anak yang dibiasakan berdoa sebelum dan sesudah makan akan tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap suapan adalah pemberian, bukan sekadar kebiasaan.
Dalam keluarga, doa makan bisa menjadi rutinitas yang merekatkan. Orang tua membacakan doa dengan suara yang jelas, anak menirukan, lalu semua makan bersama dengan tenang. Momen sederhana ini menanamkan nilai syukur sejak dini, jauh lebih kuat daripada nasihat panjang tanpa contoh.
Pada akhirnya, doa sebelum dan sesudah makan adalah latihan syukur harian yang paling mudah. Ia tidak membutuhkan waktu lama, tetapi mengubah cara kita memandang rezeki. Makanan yang diberkahi bukan hanya yang banyak dan lezat, melainkan yang dimakan dengan nama Allah, disyukuri setelahnya, dan dipakai untuk kekuatan beribadah dan berbuat baik.
Sumber: