Bagi pekerja harian, pedagang, ojek daring, pekerja lepas, atau pelaku usaha kecil, penghasilan yang datang tidak selalu sama setiap hari. Ada hari yang ramai dan ada hari yang sepi, ada pekan yang longgar dan ada pekan yang seret. Kondisi ini sering membuat menabung terasa sulit, bukan karena tidak ada niat, melainkan karena tidak ada patokan yang tetap. Padahal, menabung dari penghasilan yang tidak menentu tetap bisa dilakukan, asalkan caranya disesuaikan dengan karakter penghasilan itu sendiri.
Kuncinya adalah mengubah cara pandang: menabung bukan soal menyisihkan sisa uang di akhir bulan, melainkan soal menyisihkan sebagian dari setiap pemasukan yang datang, sekecil apa pun. Dengan sistem yang sederhana dan konsisten, tabungan bisa tumbuh sedikit demi sedikit, bahkan dari penghasilan harian yang naik turun. Berikut lima cara yang bisa diterapkan, dengan rujukan dari penjelasan IDN Times tentang menabung saat penghasilan tidak tetap.

1. Gunakan persentase, bukan nominal tetap
Kesalahan umum adalah menetapkan nominal tabungan yang sama setiap bulan, padahal penghasilan tidak selalu sama. Ketika penghasilan turun, nominal tetap itu terasa berat dan akhirnya tabungan berhenti sama sekali. Cara yang lebih realistis adalah menggunakan persentase, misalnya menyisihkan 10 persen dari setiap pemasukan yang diterima, berapa pun jumlahnya. Saat penghasilan besar, tabungan ikut besar; saat penghasilan kecil, tabungan tetap berjalan meski nominalnya mengecil. Yang terpenting adalah kebiasaan menabung tidak putus, bukan besarnya angka dalam satu bulan tertentu.
2. Dahulukan kebutuhan dasar dan dana darurat
Saat menerima penghasilan, langkah pertama adalah memisahkan dana untuk kebutuhan dasar, seperti makan, transportasi, dan kewajiban yang tidak bisa ditunda. Setelah itu, prioritaskan dana darurat sebagai penyangga ketika pemasukan sedang seret atau ketika ada kebutuhan mendesak. Dana darurat tidak harus langsung besar; ia bisa dibangun bertahap dari persentase kecil yang disisihkan secara teratur. Dengan cara ini, Anda tidak perlu berutang atau menguras tabungan utama setiap kali penghasilan harian menurun.
3. Pisahkan rekening tabungan dari rekening harian
Menyimpan tabungan di rekening yang sama dengan dana operasional sehari-hari berisiko membuat tabungan ikut terpakai tanpa disadari. Uang yang seharusnya ditabung menjadi tercampur dengan uang belanja, uang transportasi, dan kebutuhan harian lainnya. Karena itu, buatlah rekening terpisah khusus untuk tabungan, atau setidaknya wadah terpisah yang tidak mudah diambil. Rekening terpisah juga membantu Anda memantau perkembangan tabungan dengan lebih jelas, sehingga semangat menabung lebih mudah terjaga karena hasilnya terlihat.
Baca Juga: Modal Bukan Segalanya: Disiplin Keuangan yang Membuat UMKM Bertahan.
4. Tentukan anggaran minimum bulanan
Penghasilan yang tidak tetap menuntut Anda mengetahui batas minimum kebutuhan bulanan secara jelas. Hitung berapa biaya paling dasar yang harus terpenuhi setiap bulan, dari kebutuhan pokok sampai kewajiban tetap. Angka minimum ini menjadi patokan untuk mengendalikan gaya hidup: ketika penghasilan sedang tinggi, jangan langsung menaikkan gaya hidup ke level tertinggi, karena bulan berikutnya belum tentu sama ramainya. Anggaran minimum membantu Anda membedakan mana kebutuhan yang wajib, mana yang bisa ditunda, dan mana yang sekadar keinginan sesaat.
5. Sapu setiap pemasukan harian dan evaluasi setiap pekan
Cara kelima ini melengkapi empat cara sebelumnya dengan ritme harian yang praktis. Setiap kali menerima penghasilan harian, segera sisihkan persentasenya ke rekening tabungan sebelum uang itu tercampur dengan belanja lain. Kemudian, luangkan waktu singkat setiap pekan untuk mengevaluasi: berapa total pemasukan pekan ini, berapa yang sudah ditabung, dan apa yang perlu diperbaiki pekan depan. Evaluasi pekanan membuat Anda cepat menyadari jika ada kebocoran, sekaligus memberi rasa pencapaian ketika target persentase tercapai, meski nominalnya tidak besar.
Menabung dari penghasilan harian yang tidak menentu memang memerlukan perencanaan yang cermat dan kedisiplinan yang konsisten, sebagaimana ditekankan dalam sumber rujukan artikel ini. Namun, ia bukan hal yang mustahil. Mulailah dari persentase yang ringan, misalnya 5 atau 10 persen, lalu naikkan secara bertahap ketika Anda sudah nyaman dengan ritmenya. Jangan menunggu penghasilan menjadi tetap untuk mulai menabung, karena justru kebiasaan menabunglah yang akan membuat keuangan Anda lebih stabil di tengah ketidakpastian.
Yang tidak kalah penting adalah menjaga sikap terhadap tabungan itu sendiri. Tabungan bukan uang yang “tidak boleh disentuh sama sekali”, melainkan cadangan yang memberi rasa aman. Jika suatu saat Anda terpaksa menggunakannya untuk kebutuhan darurat, itu bukan kegagalan, melainkan bukti bahwa tabungan tersebut bekerja sesuai fungsinya. Setelah keadaan membaik, bangun kembali tabungan itu dengan ritme yang sama. Dengan cara ini, menabung menjadi kebiasaan yang berkelanjutan, bukan proyek sesaat yang mudah berhenti di tengah jalan.
Satu hal lagi yang sering membantu pekerja harian adalah memisahkan uang tunai untuk kebutuhan esok hari sebelum tidur. Dengan begitu, pagi berikutnya tidak dimulai dengan kebingungan, dan tabungan yang sudah disisihkan tidak tergoda untuk dipakai karena uang belanja sudah tersedia. Kebiasaan sederhana ini membuat sistem persentase, rekening terpisah, dan anggaran minimum bekerja lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari, karena setiap rupiah memiliki tempatnya masing-masing sejak awal.
Sumber: IDN Times — “4 Cara Menabung saat Penghasilan Tidak Tetap, Bukan Halangan”, 3 Maret 2026, https://www.idntimes.com/business/finance/cara-menabung-penghasilan-tidak-tetap-c1c2-01-wzhj4-2fqxlc.