Bagi setiap Muslim, menunaikan ibadah haji adalah cita-cita yang mulia sekaligus rukun Islam yang kelima. Namun, di balik kerinduan menuju Tanah Suci, ada kenyataan yang perlu dihadapi dengan perencanaan matang: biaya haji tidaklah kecil, dan masa tunggu keberangkatan bisa mencapai bertahun-tahun. Karena itu, menyiapkan dana haji tidak bisa dilakukan secara mendadak menjelang keberangkatan. Ia membutuhkan strategi yang dimulai sejak dini, disusun selangkah demi selangkah, dan dievaluasi secara berkala.
Kabar baiknya, menyiapkan dana haji tidak harus dimulai dengan jumlah besar. Dengan memahami struktur biayanya, menentukan prioritas, dan memanfaatkan waktu tunggu yang panjang, keluarga mana pun dapat menyusun rencana yang realistis. Berikut tujuh cara menyiapkan dana haji sejak dini, yang disarikan dari panduan keuangan yang mengutip Media Keuangan Kementerian Keuangan.

1. Pahami Dua Tahap Biaya Haji
Langkah pertama adalah memahami bahwa biaya haji dibayar dalam dua tahap. Tahap pertama adalah setoran awal, yang dibayarkan untuk mendapatkan nomor porsi dan resmi masuk dalam antrean keberangkatan. Tahap kedua adalah pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayarkan menjelang keberangkatan. Dengan memahami dua tahap ini, keluarga tidak perlu merasa terbebani oleh total biaya sekaligus, melainkan dapat fokus menyelesaikan satu tahap demi satu tahap.
2. Kejar Setoran Awal Terlebih Dahulu
Karena setoran awal menentukan posisi antrean, mengejar setoran awal menjadi prioritas utama. Sebagai gambaran, untuk mencapai target setoran awal sebesar Rp25 juta, seseorang dapat menyisihkan Rp1 juta setiap bulan selama sekitar dua tahun. Dana tambahan seperti tunjangan hari raya (THR) atau bonus tahunan juga dapat dialokasikan untuk mempercepat pencapaian target ini. Semakin cepat setoran awal terkumpul, semakin cepat pula nomor porsi diperoleh, dan masa tunggu pun mulai berjalan.
3. Buka Rekening Tabungan Haji Terpisah
Agar dana haji tidak tercampur dengan kebutuhan sehari-hari, bukalah rekening tabungan haji yang terpisah dari rekening utama. Tetapkan nominal setoran rutin yang sesuai kemampuan, sekecil apa pun, dan jadikan ia sebagai pos wajib dalam anggaran bulanan. Untuk mengembangkan dana, pilihlah instrumen yang sesuai dengan prinsip syariah, seperti Surat Berharga Syariah Negara. Logam mulia juga dapat menjadi pelengkap tabungan, dengan catatan harganya berfluktuasi sehingga perlu dipantau secara berkala.
Baca Juga: 5 Cara Mengatur Gaji Bulanan agar Tidak Habis di Tengah Bulan dan 5 Cara Mengelola Gaji Pertama dengan Bijak.
4. Manfaatkan Waktu Tunggu untuk Menyiapkan Pelunasan
Masa tunggu yang bertahun-tahun sering dianggap sebagai hambatan, padahal ia adalah kesempatan. Selama menunggu, keluarga dapat menyiapkan dana pelunasan secara bertahap dengan menetapkan target berdasarkan perkiraan tahun keberangkatan. Evaluasi tabungan setiap tahun untuk memastikan rencana masih sesuai jalur, dan antisipasi kemungkinan kenaikan biaya di masa depan. Dengan cara ini, ketika panggilan keberangkatan tiba, dana pelunasan sudah tersedia tanpa harus berutang.
5. Siapkan Dana di Luar Komponen Resmi
Selain biaya resmi, ada kebutuhan lain yang perlu disiapkan secara terpisah: kebutuhan pribadi selama di Tanah Suci, oleh-oleh untuk keluarga, serta dana cadangan kesehatan tambahan. Dana ini sebaiknya dipisahkan dari tabungan pelunasan agar tidak mengganggu pos utama. Memisahkan dana sejak awal membuat keluarga lebih tenang, karena setiap kebutuhan sudah memiliki alokasinya masing-masing.
6. Perbarui Perkiraan Biaya Setiap Tahun
Biaya haji tidak statis. Ia berubah dari tahun ke tahun karena dipengaruhi nilai tukar rupiah, biaya penerbangan, dan komponen-komponen lainnya. Karena itu, jangan hanya memakai angka yang berlaku saat pertama kali menabung. Perbaruilah perkiraan biaya setiap tahun mengikuti informasi resmi terbaru, lalu sesuaikan target tabungan bila diperlukan. Kebiasaan memperbarui angka ini mencegah kejutan di akhir masa tunggu.
7. Gambaran Perhitungan Biaya Haji
Sebagai gambaran, Kementerian Haji mengusulkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2027 sebesar Rp107,3 juta per jemaah. Perlu dicatat bahwa angka ini masih usulan dan belum final. Dari total tersebut, sekitar 40 persen dibayar jemaah sebagai Bipih, sedangkan sekitar 60 persen sisanya ditanggung dari dana kelolaan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Dengan perkiraan itu, Bipih yang perlu disiapkan jemaah berada di kisaran Rp42,9 juta, di luar dana pribadi dan cadangan. Gambaran ini membantu keluarga menetapkan target tabungan yang lebih konkret, sambil tetap mengikuti pengumuman resmi setiap tahunnya.
Terakhir, libatkan seluruh keluarga dalam rencana menabung haji. Ketika pasangan dan anak-anak memahami tujuan tabungan ini, mereka akan lebih mudah mendukung penghematan yang diperlukan, misalnya dengan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu atau memilih rekreasi yang lebih sederhana. Menabung bersama juga menanamkan nilai perencanaan keuangan pada anak sejak dini. Di atas semua perhitungan, jagalah niat: haji adalah ibadah yang pahalanya sangat besar, dan setiap rupiah yang disisihkan dengan ikhlas insya Allah bernilai di sisi Allah, terlepas dari berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Baitullah.
Menyiapkan dana haji sejak dini pada akhirnya adalah soal kedisiplinan, bukan soal besarnya penghasilan. Mulailah dari setoran awal, pisahkan tabungan, manfaatkan masa tunggu, dan perbarui perhitungan setiap tahun. Dengan rencana yang konsisten, cita-cita menuju Baitullah dapat diperjuangkan selangkah demi selangkah, tanpa membebani keuangan keluarga secara tiba-tiba.
Sumber
Sumber: Kompas TV, “6 Tips Menyiapkan Dana Haji sejak Dini, Setoran Awal Jadi Prioritas”, https://www.kompas.tv/ekonomi/687692/6-tips-menyiapkan-dana-haji-sejak-dini-setoran-awal-jadi-prioritas, 27 Agustus 2026, Switzy Sabandar, diakses 5 November 2026.



