Cara menyiapkan dana pendidikan anak lewat reksa dana perlu dipahami sejak dini karena biaya pendidikan terus naik dari tahun ke tahun. Menurut data yang dikutip Ajaib, biaya pendidikan di Indonesia naik rata-rata 10 hingga 15 persen per tahun, jauh di atas laju inflasi umum yang berkisar 3 hingga 5 persen. Artinya, biaya sekolah dan kuliah yang terasa terjangkau hari ini bisa menjadi jauh lebih mahal dalam sepuluh tahun mendatang. Karena itu, orang tua perlu menyiapkan dana pendidikan secara terencana, dan reksa dana adalah salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan untuk tujuan jangka panjang ini.
Reksa dana adalah wadah yang menghimpun dana dari banyak investor, lalu dikelola oleh manajer investasi ke dalam berbagai instrumen seperti deposito, obligasi, dan saham. Bagi orang tua yang sibuk dan belum berpengalaman berinvestasi, reksa dana menawarkan kemudahan karena dananya dikelola secara profesional dan dapat dimulai dengan nominal yang relatif kecil. Namun, reksa dana tetap memiliki risiko, dan hasilnya tidak dijamin. Artikel ini bersifat edukasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual produk tertentu.

Cara Menyiapkan Dana Pendidikan Anak lewat Reksa Dana
Langkah pertama adalah menghitung perkiraan kebutuhan dana pendidikan. Sebagai gambaran, biaya masuk SD swasta dapat mencapai Rp20 hingga Rp30 juta dengan SPP Rp1 hingga Rp2 juta per bulan. Biaya masuk SMA unggulan dapat mencapai Rp50 hingga Rp70 juta, sedangkan biaya kuliah S1 di perguruan tinggi negeri berkisar Rp10 hingga Rp20 juta per semester dan di perguruan tinggi swasta Rp30 hingga Rp50 juta per semester. Angka-angka ini adalah perkiraan yang dikutip dari Ajaib dan dapat berbeda-beda tergantung kota dan sekolah yang dipilih. Hitung total kebutuhan hingga anak menyelesaikan pendidikan, lalu bagi dengan jangka waktu yang tersedia.
Langkah kedua adalah menyesuaikan jenis reksa dana dengan jangka waktu kebutuhan. Untuk kebutuhan kurang dari tiga tahun, reksa dana pasar uang umumnya dipilih karena risikonya relatif rendah dengan perkiraan imbal hasil sekitar 4 hingga 6 persen per tahun. Untuk jangka waktu tiga hingga lima tahun, reksa dana pendapatan tetap dapat dipertimbangkan dengan perkiraan imbal hasil sekitar 6 hingga 8 persen per tahun. Untuk kebutuhan di atas lima tahun, seperti dana kuliah anak yang masih balita, reksa dana campuran atau reksa dana saham dapat dipertimbangkan dengan perkiraan imbal hasil sekitar 8 hingga 12 persen per tahun. Perlu diingat bahwa angka-angka ini adalah perkiraan, bukan janji keuntungan, dan nilai investasi bisa naik maupun turun.
Langkah ketiga adalah berinvestasi secara rutin dengan metode dollar cost averaging, yaitu menyisihkan dana dalam jumlah tetap setiap bulan tanpa memedulikan naik turunnya pasar. Cara ini membantu orang tua disiplin menabung dan mengurangi risiko membeli di harga tinggi. Manfaatkan fitur auto-debit agar dana investasi terpotong otomatis setiap bulan dari rekening, sehingga persiapan dana pendidikan tidak tertunda karena lupa atau tergoda memakai uangnya untuk keperluan lain.
Baca Juga: Reksa Dana Pasar Uang vs Deposito: Mana yang Lebih Cocok untuk Dana Darurat
Baca Juga: Cara Menghindari Investasi Bodong: Ciri-ciri dan Cara Cek Legalitas di OJK
Reksa Dana Syariah dan Pemilihan Manajer Investasi
Bagi orang tua Muslim, tersedia pula reksa dana syariah yang dikelola sesuai prinsip syariah, dengan portofolio yang diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah dan tidak mengandung unsur riba, gharar, maupun investasi pada perusahaan yang bertentangan dengan syariah. Reksa dana syariah tersedia dalam berbagai jenis, mulai dari pasar uang syariah hingga saham syariah, sehingga dapat disesuaikan dengan jangka waktu kebutuhan pendidikan anak.
Dalam memilih reksa dana, perhatikan manajer investasi yang mengelola dana tersebut. Pastikan manajer investasi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pelajari prospektus reksa dana untuk memahami kebijakan investasi, risiko, dan biaya yang dikenakan. Bandingkan kinerja historis dan konsistensi manajer investasi, tetapi ingat bahwa kinerja masa lalu bukan jaminan kinerja di masa depan. Jangan tergiur janji imbal hasil yang tidak masuk akal, karena hal itu justru menjadi ciri investasi bodong.
Risiko yang Perlu Dipahami
Reksa dana bukan tabungan dan tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Nilai unit penyertaan dapat naik maupun turun mengikuti kondisi pasar, sehingga dana yang terkumpul bisa lebih rendah dari target bila pasar sedang melemah. Karena itu, dana pendidikan sebaiknya tidak ditempatkan seluruhnya pada instrumen berisiko tinggi, dan jangan menggunakan dana darurat untuk berinvestasi. Sisihkan dana darurat terlebih dahulu, baru alokasikan dana untuk pendidikan anak.
Sebagai gambaran, simulasi yang dikutip Ajaib menunjukkan bahwa investasi Rp1 juta per bulan selama sepuluh tahun dengan asumsi imbal hasil 8 persen per tahun dapat berkembang menjadi sekitar Rp205 juta. Simulasi ini hanya ilustrasi dengan asumsi tertentu, bukan janji keuntungan. Evaluasi portofolio secara berkala, setidaknya setiap enam hingga dua belas bulan, dan sesuaikan jenis reksa dana dengan sisa jangka waktu: semakin dekat kebutuhan dana, semakin besar porsi yang sebaiknya dipindahkan ke instrumen yang lebih stabil seperti reksa dana pasar uang.
Sumber:
Ajaib, Reksa Dana untuk Pendidikan Anak, https://ajaib.co.id/belajar/reksa-dana/reksa-dana-untuk-pendidikan-anak, 12 November 2025






