Gaji baru saja masuk, tetapi di akhir bulan dompet kembali menipis. Situasi ini dialami banyak pekerja, bukan karena penghasilan mereka terlalu kecil, melainkan karena tidak ada porsi yang disisihkan secara sengaja untuk ditabung. Salah satu kebiasaan yang paling sederhana dan paling sering dianjurkan oleh para perencana keuangan adalah menyisihkan 10 persen dari gaji setiap bulan, segera setelah gaji diterima. Angka ini tidak besar, tetapi bila dilakukan konsisten, hasilnya akan terasa dalam jangka panjang. Menabung 10 persen juga memberi ruang untuk membangun dana darurat tanpa harus menunggu sampai semua kebutuhan terpenuhi.
Mengapa 10 persen? Angka ini dianggap realistis bagi pemula: cukup ringan bagi sebagian besar gaji, tetapi cukup bermakna untuk membangun dana darurat dan mencapai tujuan keuangan. Patokan lain yang populer adalah aturan 50/30/20, yaitu sekitar 50 persen penghasilan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan dan pelunasan utang. Bila 20 persen masih terasa berat, mulailah dari 10 persen sebagai langkah awal, lalu naikkan secara bertahap. Yang terpenting bukan besarannya, melainkan kebiasaan menyisihkan yang dilakukan setiap bulan tanpa jeda.

Langkah pertama adalah mengetahui penghasilan bersih dan kebutuhan pokok Anda. Catat gaji setelah dipotong pajak dan iuran, lalu daftarkan pengeluaran wajib seperti kontrakan atau cicilan rumah, listrik, air, transportasi, dan makan sehari-hari. Bila penghasilan bersih Anda misalnya Rp5.000.000 per bulan, maka 10 persennya adalah Rp500.000. Sisa gaji sebesar Rp4.500.000 inilah yang kemudian dibagi untuk kebutuhan, gaya hidup, dan tujuan keuangan lainnya. Dengan cara ini, tabungan tidak lagi mengandalkan sisa uang di akhir bulan yang sering kali tidak pernah ada.
Sisihkan di Awal, Bukan di Akhir
Prinsip terpenting dalam menabung dari gaji adalah menyisihkan uang di awal, bukan di akhir. Begitu gaji masuk, segera pindahkan 10 persen ke rekening tabungan sebelum digunakan untuk keperluan lain. Cara paling mudah adalah memanfaatkan fitur autodebet atau transfer otomatis dari bank, sehingga pemindahan terjadi tanpa perlu diingat setiap bulan. Prinsip ini dikenal sebagai “bayar diri sendiri dulu”: tabungan diperlakukan sama pentingnya dengan tagihan wajib yang harus dibayar.
Pisahkan Rekening Tabungan
Agar tabungan tidak tercampur dengan uang belanja harian, simpanlah di rekening yang berbeda dari rekening gaji. Rekening khusus tabungan sebaiknya tidak dilengkapi kartu debit yang mudah dipakai untuk belanja, agar godaan menggunakannya berkurang. Di era layanan perbankan digital, membuka rekening tambahan kini jauh lebih mudah dan sebagian bank menyediakan layanan tanpa biaya administrasi. Pastikan bank yang digunakan merupakan bank yang berizin dan diawasi oleh OJK agar simpanan Anda terlindungi.
Baca Juga: Cara Membuat Anggaran Belanja Bulanan agar Gaji Tidak Cepat Habis
Buat Anggaran Sederhana dan Dana Darurat
Langkah berikutnya adalah menyusun anggaran yang sederhana dan realistis. Sebagai contoh ilustrasi, dari gaji Rp5.000.000, Anda dapat membaginya menjadi Rp500.000 untuk tabungan, Rp2.500.000 untuk kebutuhan pokok, Rp1.500.000 untuk gaya hidup, dan Rp500.000 untuk dana darurat. Pembagian ini tentu dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Sebelum mengejar tujuan besar seperti membeli kendaraan atau berlibur, prioritaskan dana darurat sebesar tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan. Dana darurat menjadi bantalan ketika terjadi hal tak terduga, seperti sakit atau kehilangan pekerjaan.
Naikkan Persentase secara Bertahap
Setelah terbiasa menabung 10 persen selama tiga hingga enam bulan, cobalah menaikkan persentase menjadi 12 atau 15 persen. Setiap kenaikan gaji atau bonus adalah momen yang tepat untuk menambah porsi tabungan, bukan menambah gaya hidup. Bila penghasilan naik 10 persen, alokasikan sebagian besar kenaikan tersebut untuk tabungan. Kenaikan kecil yang dilakukan berulang akan membuat tabungan tumbuh jauh lebih cepat tanpa terasa membebani.
Kendalikan Pengeluaran dan Utang Konsumtif
Menabung juga berarti mengendalikan pengeluaran yang tidak perlu. Buatlah daftar belanja sebelum ke pasar atau pusat perbelanjaan, batasi jajan dan langganan layanan digital, serta evaluasi pola belanja setiap akhir bulan. Hati-hati pula dengan utang konsumtif seperti pinjaman daring dan cicilan yang menumpuk. Cicilan yang menumpuk dapat menggerus kemampuan menabung. Bila membutuhkan pinjaman, pilih lembaga yang berizin dan diawasi OJK, dan pastikan cicilan tidak melebihi kemampuan bayar.
Baca Juga: Perencanaan Keuangan Keluarga: Anggaran, Dana Darurat, dan Proteksi
Konsisten Lebih Penting daripada Besar
Hasil menabung ditentukan oleh konsistensi, bukan kesempurnaan. Ada bulan ketika kebutuhan mendesak membuat Anda hanya bisa menyisihkan 5 persen, dan itu tetap lebih baik daripada tidak menabung sama sekali. Jika suatu bulan terlewat, jangan menunggu bulan berikutnya untuk memulai kembali, tetapi segera lanjutkan di bulan berjalan. Catat perkembangan tabungan secara berkala agar Anda termotivasi melihatnya tumbuh. Gunakan pengingat otomatis di ponsel bila perlu, dan rayakan pencapaian kecil seperti dana darurat pertama yang berhasil terkumpul.
Penutup
Menyisihkan 10 persen dari gaji setiap bulan adalah langkah kecil yang mudah dimulai siapa saja. Kuncinya terletak pada disiplin: sisihkan di awal, pisahkan rekeningnya, susun anggaran yang realistis, dan naikkan persentase secara bertahap. Dengan konsistensi, kebiasaan ini dapat menjadi fondasi bagi keamanan finansial jangka panjang, tanpa perlu menunggu gaji naik lebih dulu.
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (OJK), portal literasi keuangan Sikapi Uangmu, https://sikapiuangmu.ojk.go.id/, diakses 7 November 2026; Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laman Tugas dan Fungsi, https://www.ojk.go.id/id/tentang-ojk/Pages/Tugas-dan-Fungsi.aspx, diakses 7 November 2026.






