Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Tholabul ilmi faridhotun ala kulli muslim, yang artinya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Namun, kewajiban tersebut tidak berhenti pada sekadar belajar dan menghafal. Hikmah menuntut ilmu akan terasa sepenuhnya bila ilmu dicari dengan ikhlas, semata-mata karena Allah, bukan untuk mengejar pujian, gelar, atau keuntungan dunia semata. Artikel ini merangkum lima hikmah menuntut ilmu bagi Muslim, sebagaimana diuraikan dalam berbagai rujukan keislaman, serta pentingnya menjaga keikhlasan dalam setiap langkah belajar.
Ikhlas menjadi penentu nilai sebuah ilmu. Ilmu yang dicari dengan niat yang lurus akan menjadi cahaya yang menuntun pemiliknya, sedangkan ilmu yang dicari untuk kesombongan justru bisa menjadi beban. Dalam kitab Tanbihul Ghafilin disebutkan bahwa ada tiga amalan utama manusia: menimba ilmu sehingga menjadi kekasih Allah, berjihad sehingga menjadi waliyullah, dan mencari kehidupan sehingga menjadi pengusaha yang takwa. Ketiganya sama-sama mulia bila dilakukan dengan niat yang benar. Karena itu, sebelum membuka buku atau menghadiri majelis ilmu, seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk meluruskan niatnya terlebih dahulu.

5 Hikmah Menuntut Ilmu bagi Muslim
- Menjadi orang yang takut hanya kepada Allah. Allah berfirman dalam QS Fathir ayat 28 bahwa di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama, yaitu orang-orang yang berilmu. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin ia menyadari kebesaran Allah, dan semakin tunduk hatinya kepada-Nya.
- Memudahkan jalan meraih surga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga. Bahkan, penghuni langit dan bumi, sampai ikan di dalam laut, memintakan ampunan bagi orang yang menuntut ilmu.
- Pahala ilmu yang diajarkan mengalir selamanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Ilmu yang diajarkan kepada orang lain terus mengalirkan pahala selama ilmu itu diamalkan, bahkan setelah pemiliknya tiada.
- Derajat diangkat oleh Allah. Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat lebih tinggi. Ilmu menjadi sebab kemuliaan seseorang di sisi Allah, bukan harta atau kedudukan semata. Karena itu, orang yang berilmu hendaknya menjaga ilmunya dengan amal dan akhlak yang baik.
- Kualitas yang berbeda di mata Allah. Allah berfirman dalam QS Az-Zumar ayat 9, Katakanlah, Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui. Ayat ini menegaskan bahwa orang yang berilmu memiliki kedudukan yang berbeda dan lebih mulia di sisi Allah dibandingkan orang yang tidak berilmu.
Menjaga Keikhlasan dalam Menuntut Ilmu
Keikhlasan dalam menuntut ilmu dapat dijaga dengan beberapa cara. Pertama, luruskan niat sebelum belajar: belajar karena Allah, untuk memahami agama dan memberi manfaat bagi orang lain. Kedua, jangan menjadikan ilmu sebagai alat untuk merendahkan orang lain atau mencari pengakuan. Ketiga, amalkan ilmu yang telah dipelajari, sekecil apapun, karena ilmu yang diamalkan akan semakin berkah dan mudah diingat. Keempat, bersabarlah dalam proses belajar, karena ilmu tidak datang seketika, melainkan melalui ketekunan yang panjang. Kelima, bergurulah kepada orang yang berilmu dan berakhlak baik, serta hormatilah guru sebagaimana para ulama terdahulu menghormati guru-guru mereka.
Baca Juga: Buya Hamka: Ulama, Sastrawan, dan Pejuang Kemerdekaan
Baca Juga: Profil KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah
Ilmu yang Bermanfaat dan Diamalkan
Ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Seorang penuntut ilmu yang ikhlas tidak hanya mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Ia menjadi lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli kepada sesama. Ilmu agama membimbingnya dalam beribadah, sedangkan ilmu dunia membantunya mencari nafkah yang halal dan memberi manfaat bagi masyarakat. Keduanya sama-sama bernilai bila diniatkan karena Allah. Sebaliknya, ilmu yang hanya disimpan tanpa diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah: indah dipandang, tetapi tidak memberi manfaat.
Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Anak-anak belajar di sekolah, orang dewasa belajar dari pengalaman dan majelis ilmu, dan orang tua pun tetap bisa belajar hingga akhir hayatnya. Islam tidak membatasi ilmu pada satu bidang saja; ilmu agama dan ilmu dunia sama-sama penting selama diniatkan untuk kebaikan. Yang terpenting adalah menjaga semangat belajar dan keikhlasan di setiap tahapnya. Setiap majelis ilmu yang dihadiri dengan niat yang lurus, setiap buku yang dibaca dengan tujuan memahami kebenaran, dan setiap ilmu yang dibagikan kepada orang lain, semuanya tercatat sebagai amal yang bernilai di sisi Allah.
Semoga kita termasuk orang-orang yang menuntut ilmu dengan ikhlas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, dan menyebarkannya untuk kebaikan. Sebab, ilmu yang ikhlas tidak hanya meninggikan derajat pemiliknya di dunia, tetapi juga menjadi bekal yang terus mengalir pahalanya hingga ke akhirat.
Sumber:
detik Hikmah — 5 Hikmah dan Manfaat Menuntut Ilmu bagi Muslim, Rugi jika Tidak Tahu — https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6539993/5-hikmah-dan-manfaat-menuntut-ilmu-bagi-muslim-rugi-jika-tidak-tahu (29 Januari 2023)






