Adab Makan dalam Islam: Sunnah Rasulullah yang Perlu Diteladani

Adab Makan dalam Islam: Sunnah Rasulullah yang Perlu Diteladani

Makan adalah kebutuhan setiap manusia, tetapi dalam Islam makan bukan sekadar mengisi perut. Rasulullah SAW mengajarkan adab-adab makan yang mengandung nilai ibadah, kesopanan, dan kesehatan. Adab-adab ini tampak sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan manfaat yang nyata bagi kehidupan sehari-hari.

Apa saja adab makan yang diajarkan dalam Islam? Artikel ini membahas adab sebelum, saat, dan setelah makan berdasarkan sunnah Rasulullah SAW, beserta hikmah di baliknya.

Adab Makan dalam Islam: Sunnah Rasulullah yang Perlu Diteladani
Adab makan dalam Islam: makan bersama dengan sopan dan penuh syukur sesuai sunnah Rasulullah. (Foto: Pexels)

Adab Sebelum Makan

Sebelum makan, umat Islam dianjurkan untuk mencuci tangan. Kebersihan tangan penting untuk kesehatan dan mencegah kuman masuk ke dalam tubuh bersama makanan. Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk membaca basmalah sebelum makan: “Bismillah”. Membaca basmalah adalah bentuk pengakuan bahwa makanan adalah rezeki dari Allah dan memohon keberkahan atas makanan tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah. Jika ia lupa menyebut nama Allah di awalnya, hendaklah ia mengucapkan: Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan menyebut nama Allah, di awal dan di akhirnya).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Jika seseorang makan tanpa membaca basmalah, setan dikatakan ikut makan bersamanya, berdasarkan hadis yang diriwayatkan Muslim.

Sebelum makan juga dianjurkan untuk berdoa. Doa sebelum makan yang umum dibaca adalah: “Allahumma barik lana fima razaqtana waqina ‘adzaban nar” (Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan lindungilah kami dari siksa api neraka). Doa ini mengandung permohonan keberkahan atas rezeki yang diterima.

Adab Saat Makan

Saat makan, terdapat beberapa adab yang diajarkan Rasulullah SAW. Pertama, makan dengan tangan kanan. Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu dan minumlah dengan tangan kananmu, karena setan makan dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim). Bagi orang yang kidal, tetap diupayakan makan dengan tangan kanan, meskipun dalam kondisi tertentu terdapat kelonggaran menurut para ulama.

Kedua, makan dari bagian yang terdekat. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menasihati seorang anak yang makan dengan tangan yang bergerak ke sana kemari: “Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu.” Adab ini mengajarkan kesopanan saat makan bersama agar tidak mengambil makanan yang menjadi bagian orang lain.

Ketiga, tidak mencela makanan. Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan; apabila beliau menyukainya beliau memakannya, dan apabila tidak menyukainya beliau meninggalkannya tanpa mencela. (HR. Bukhari dan Muslim). Sikap ini adalah wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap nikmat Allah.

Keempat, makan secukupnya dan tidak berlebihan. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada wadah yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menguatkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Adab ini memiliki manfaat kesehatan yang telah dibuktikan oleh ilmu kedokteran modern.

Adab Setelah Makan

Setelah makan, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa setelah makan sebagai wujud syukur kepada Allah. Doa yang diajarkan adalah: “Alhamdulillahi ladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana minal muslimin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk orang-orang Islam).

Selain berdoa, setelah makan dianjurkan untuk mencuci tangan kembali, terutama jika tangan berminyak atau berbau. Membersihkan sisa-sisa makanan dari mulut dan gigi juga dianjurkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan mulut.

Baca Juga: Doa Setelah Makan: Arab, Latin, dan Artinya

Makan Bersama dan Memuliakan Tamu

Islam menganjurkan makan bersama, karena makan bersama dapat mempererat hubungan keluarga dan mendatangkan keberkahan. Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu akan diberkahi.” (HR. Abu Dawud). Di dalam rumah, makan bersama keluarga adalah momen yang baik untuk berkumpul, berbincang, dan saling mendoakan.

Memuliakan tamu dengan hidangan yang baik juga merupakan bagian dari adab makan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika menjadi tamu, seseorang hendaknya makan dengan sopan, tidak berlebihan, dan mendoakan tuan rumah setelah makan.

Hikmah Adab Makan dalam Islam

Adab makan dalam Islam mengajarkan bahwa setiap aktivitas, termasuk makan, dapat bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai sunnah. Membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, makan secukupnya, dan bersyukur setelah makan adalah amalan-amalan kecil yang mendatangkan pahala.

Dari sisi kesehatan, adab makan seperti makan secukupnya dan tidak berlebihan sudah terbukti bermanfaat. Dari sisi sosial, makan bersama dan tidak mencela makanan mempererat hubungan antarmanusia. Adab-adab ini adalah bagian dari kesempurnaan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk hal yang paling sederhana seperti makan.

Kesimpulannya, adab makan dalam Islam meliputi membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, makan dari yang terdekat, tidak mencela makanan, makan secukupnya, dan berdoa setelah makan. Dengan mengamalkan adab-adab ini, makan menjadi aktivitas yang diberkahi, sehat, dan bernilai ibadah.

Baca Juga: Doa Setelah Adzan: Arab, Latin, dan Artinya

Sumber: Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi (https://sunnah.com/bukhari).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *