Marah adalah emosi manusiawi, tetapi kata yang keluar saat marah bisa meninggalkan luka lebih lama daripada amarah itu sendiri. Karena itu, menjaga lisan saat marah adalah latihan penting dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah pertama adalah memberi jeda. Saat emosi memuncak, diam sejenak, tarik napas, dan tunda respons. Jeda singkat itu memberi waktu bagi akal untuk mengambil alih kendali dari emosi.
Setelah tenang, sampaikan perasaan dengan bahasa yang jujur tetapi tidak menyerang. Gunakan kalimat tentang diri sendiri, misalnya “Saya merasa kecewa karena…”, bukan tuduhan yang membuat lawan bicara defensif.
Baca Juga: Adab Berbicara di Media Sosial: Menjaga Lisan di Ruang Digital yang Cepat Panas dan Adab Menjaga Amanah di Tempat Kerja: Jujur, Tepat Waktu, dan Bisa Dipercaya
Jika percakapan sudah terlalu panas, tidak apa-apa untuk menundanya. Katakan dengan sopan bahwa Anda ingin melanjutkan pembicaraan saat kedua pihak sudah lebih tenang.
Menjaga lisan juga berarti menghindari kata-kata yang merendahkan, mengungkit masa lalu, atau mempermalukan orang lain di depan umum. Kritik yang disampaikan dengan adab lebih mudah diterima dan lebih mungkin mengubah keadaan.
Pada akhirnya, lisan yang terjaga saat marah bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan. Ia melindungi hubungan, menjaga harga diri orang lain, dan membuat hati sendiri lebih damai.
Sumber
- NU Online — NU Online
- Kementerian Agama RI — Kementerian Agama RI
