Di saat sebagian besar manusia terlelap, ada hamba-hamba Allah yang justru bangun untuk berdiri di hadapan-Nya. Itulah shalat tahajud, shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari setelah tidur. Meski hukumnya sunnah, keutamaannya sangat besar: ia disebut dalam Al-Qur’an, dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan menjadi waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya.
Tahajud berasal dari kata hajada yang berarti bangun dari tidur pada malam hari. Shalat ini dikerjakan setelah shalat Isya dan setelah tidur terlebih dahulu, kemudian ditutup dengan witir. Jumlah rakaatnya tidak dibatasi secara kaku, tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan sebelas rakaat, sebagaimana diceritakan Aisyah radhiyallahu anha dalam Sahih al-Bukhari nomor 1123.

Perintah Tahajud dalam Al-Qur’an
Allah subhanahu wa taala berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 79: Dan bangunlah pada sebagian malam untuk mengerjakan shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. Ayat ini menunjukkan bahwa tahajud adalah ibadah tambahan yang istimewa, dengan janji kedudukan yang terpuji bagi orang yang mengerjakannya. Ayat yang sama juga dikutip sebagai pembuka bab tentang shalat tahajud dalam kitab Sahih al-Bukhari.
Sepertiga Malam Terakhir: Waktu yang Paling Mustajab
Keutamaan terbesar tahajud terletak pada waktunya. Dalam Sahih al-Bukhari nomor 1145, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir, seraya berfirman: adakah yang berdoa kepada-Ku sehingga Aku kabulkan, adakah yang meminta kepada-Ku sehingga Aku beri, dan adakah yang memohon ampunan kepada-Ku sehingga Aku ampuni. Inilah sebabnya sepertiga malam terakhir disebut waktu yang paling mustajab untuk berdoa.
Baca Juga: Keutamaan Menjaga Silaturahmi dalam Islam dan Konsultasi: Bolehkah Shalat Qabliyah Subuh Dikerjakan Setelah Shalat Fardhu?
Teladan Rasulullah dalam Tahajud
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah teladan utama dalam shalat malam. Dalam Sahih al-Bukhari nomor 1120, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, disebutkan bahwa ketika Nabi bangun pada malam hari untuk mengerjakan tahajud, beliau mengucapkan doa pujian kepada Allah, Penguasa langit dan bumi beserta isinya, Yang Mahabenar, yang janji-Nya benar, surga-Nya benar, neraka-Nya benar, dan para nabi-Nya benar. Doa ini mengajarkan bahwa tahajud dimulai dengan pengagungan kepada Allah sebelum memanjatkan permohonan.
Dalam riwayat lain, Al-Mughirah radhiyallahu anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berdiri shalat malam hingga kedua kakinya bengkak, dan ketika ditanya mengapa beliau bersusah payah padahal dosanya telah diampuni, beliau menjawab bahwa beliau ingin menjadi hamba yang bersyukur. Kisah ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 1130. Inilah kadar kesungguhan yang patut direnungkan: tahajud bukan sekadar rutinitas, melainkan ungkapan syukur dan cinta kepada Allah.
Ketenangan yang Dirasakan di Sepertiga Malam
Mengapa tahajud menenangkan hati? Karena pada waktu itu dunia sedang hening: tidak ada kesibukan pekerjaan, tidak ada hiruk-pikuk media sosial, dan tidak ada tuntutan manusia. Seorang hamba berdiri sendirian di hadapan Allah, mengadukan beban yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Dalam kesunyian itulah hati menemukan ketenangannya, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Rad ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Memulai Tahajud Secara Bertahap
Bagi yang belum terbiasa, tahajud bisa dimulai secara bertahap agar istiqamah. Pertama, tidurlah lebih awal setelah Isya agar tubuh cukup istirahat. Kedua, pasang alarm dan bangunlah setengah jam sebelum Subuh, lalu kerjakan dua rakaat dan witir. Ketiga, jaga konsistensi meski sedikit, karena amalan yang sedikit tetapi terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amalan banyak yang terputus. Keempat, sertai dengan doa dan istigfar, terutama pada sepertiga malam terakhir, karena itulah waktu yang paling mustajab sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.
Menutup Malam dengan Witir dan Istiqamah
Rangkaian shalat malam umumnya ditutup dengan shalat witir yang rakaatnya ganjil. Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan sebelas rakaat pada malam hari, dan witir menjadi penanda penutup rangkaian tersebut sebelum datang waktu Subuh. Dengan witir, malam yang dimulai dengan tahajud ditutup dengan sempurna.
Yang terpenting setelah memulai adalah istiqamah. Ketika Masruq bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha amalan apa yang paling dicintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau menjawab: amalan yang dilakukan terus-menerus, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 1132. Maka, dua rakaat yang dikerjakan setiap malam jauh lebih baik daripada banyak rakaat yang hanya dikerjakan sesekali lalu ditinggalkan. Bangunlah sedikit demi sedikit, nikmati ketenangannya, dan biarkan tahajud menjadi kebiasaan yang menenangkan, bukan beban.
Tahajud adalah hadiah malam bagi siapa saja yang mau bangun. Ia tidak mengharuskan kesempurnaan, hanya kesungguhan untuk hadir di hadapan Allah ketika dunia sedang tidur. Semoga Allah memudahkan kita untuk menghidupkan sepertiga malam terakhir dengan shalat, doa, dan istigfar, dan semoga ketenangan yang dijanjikan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.
Sumber:
- Quran.com, Surah Al-Isra Ayat 79
- Sunnah.com, Sahih al-Bukhari, Kitab Prayer at Night (Tahajjud) (hadis nomor 1120, 1123, 1130, 1132, dan 1145)





