Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan kejahatan amal kami. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya. Selanjutnya, wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, karena sungguh beruntunglah orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-A’raf [7]: 56).
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, bumi yang kita pijak ini adalah amanah. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, tanah yang menumbuhkan pangan, hutan yang meneduhkan, dan laut yang memberi rezeki, semuanya adalah nikmat dari Allah yang menopang kehidupan kita. Menjaga lingkungan bukan sekadar urusan teknis atau urusan pemerintah semata; ia adalah bagian dari syukur dan takwa. Orang yang bersyukur tidak merusak nikmat yang diterimanya, melainkan merawatnya agar tetap bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.
Ayat yang baru kita dengar melarang dengan tegas perbuatan merusak di bumi setelah Allah menciptakannya dengan baik. Kerusakan itu bermacam-macam bentuknya. Membuang sampah sembarangan, mencemari sungai dan selokan, menebang pohon tanpa menanam penggantinya, membakar lahan, memboroskan air dan energi, serta membiarkan limbah merusak lingkungan tetangga, semuanya termasuk perbuatan yang dilarang ayat ini. Islam mengajarkan bahwa kebebasan manusia ada batasnya: kebebasan itu berhenti ketika mulai merugikan orang lain dan merusak bumi bersama.
Kerusakan lingkungan pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri. Ketika sungai tersumbat sampah, banjir datang dan merendam rumah warga. Ketika udara tercemar, anak-anak dan orang tua yang paling mudah jatuh sakit. Ketika hutan gundul, tanah longsor mengancam permukiman di bawahnya. Yang paling menderita akibat kerusakan lingkungan biasanya justru mereka yang paling lemah dan paling sedikit menikmatinya. Karena itu, menjaga lingkungan adalah bentuk kasih sayang kepada sesama, terutama kepada mereka yang tidak berdaya membela dirinya.
Amanah terhadap lingkungan dimulai dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan setiap hari. Memilah sampah dan membuangnya pada tempatnya, menghemat air dan listrik, menanam pohon di pekarangan, merawat tanaman di sekitar rumah dan masjid, tidak membuang minyak atau sampah ke selokan, serta menjaga kebersihan tempat ibadah dan lingkungannya. Satu orang yang menjaga kebersihan mungkin tampak kecil, tetapi ketika satu kampung melakukannya bersama, sungai menjadi bersih, udara menjadi segar, dan lingkungan menjadi nyaman untuk semua.
Baca Juga: Peran Karang Taruna bagi Pemuda dan Lingkungan Desa dan Gotong Royong di Lingkungan Kita: Modal Sosial yang Menjaga Kerukunan Warga.
Menjaga lingkungan juga berarti berlaku adil. Jangan sampai kita menikmati hasil bumi sambil membiarkan orang lain menanggung limbah dan kerusakannya. Para pengusaha dan pengelola usaha perlu mengelola limbahnya dengan benar, para petani dan nelayan perlu menjaga tanah dan laut tempat mereka mencari nafkah, dan setiap warga perlu menghormati hak tetangganya: tidak membakar sampah yang asapnya mengganggu, tidak membuang limbah ke sungai yang dipakai bersama, dan tidak menimbulkan kebisingan yang meresahkan. Pengelolaan sumber daya bersama harus dimusyawarahkan dengan baik, agar manfaatnya dirasakan semua pihak dan kerugiannya tidak ditimpakan kepada yang lemah.
Anak-anak kita pun perlu dididik untuk mencintai alam sejak dini. Ajaklah mereka menanam, menyiram, merawat hewan, dan menghargai air sebagai nikmat Allah. Anak yang terbiasa melihat orang tuanya membuang sampah pada tempatnya akan tumbuh menjadi warga yang bertanggung jawab. Generasi yang mencintai alam akan menjaga amanah ini jauh lebih baik daripada generasi yang hanya diajari teori tanpa teladan. Masjid, sekolah, dan keluarga dapat bekerja sama menanamkan kepedulian ini melalui kegiatan yang nyata dan menyenangkan.
Sebagai penutup Khutbah I, marilah kita bertobat dari kelalaian kita terhadap lingkungan. Mulailah dari rumah sendiri, dari pekarangan sendiri, dari selokan di depan rumah sendiri. Jangan menunggu orang lain berubah, sementara kita sendiri masih membuang sampah sembarangan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang berbuat baik, yang dekat dengan rahmat-Nya, dan yang meninggalkan bumi dalam keadaan lebih baik daripada saat kita menerimanya.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: Segala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya, dan syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai pengagungan terhadap keagungan-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak kepada keridaan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya. Selanjutnya, wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan sebagai orang-orang Islam. Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, sebelum kita menutup khutbah ini, marilah kita berdoa untuk kaum muslimin di mana pun berada, untuk bangsa Indonesia yang kita cintai, dan untuk para pemimpin kita agar diberi petunjuk dalam menjaga amanah bumi dan mensejahterakan rakyatnya. Semoga Allah menurunkan hujan yang bermanfaat, menjaga negeri ini dari bencana, melapangkan rezeki para petani, nelayan, dan pekerja, serta menjadikan anak-anak kita generasi yang saleh, cerdas, dan peduli terhadap lingkungannya. Marilah kita pulang dari masjid ini dengan tekad baru: menjaga kebersihan, menghemat sumber daya, menanam kebaikan, dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Semoga Allah menerima amal kita dan mengumpulkan kita dalam rahmat-Nya.
Sumber:
- Quran.com, Surah Al-A’raf Ayat 56