Berikut teks khutbah Jumat tentang syukur atas nikmat Allah, lengkap dengan khutbah pertama dan khutbah kedua. Khutbah ini mengingatkan kita bahwa nikmat Allah tidak terhitung jumlahnya, dan bahwa syukur adalah jalan untuk menambah nikmat sekaligus menjaga keberkahannya.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ. Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Nikmat Allah kepada kita tidak terhitung jumlahnya. Allah sendiri berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 18, bahwa jika kita menghitung nikmat Allah, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Nikmat penglihatan, pendengaran, kesehatan, keluarga, rezeki, dan kesempatan hidup adalah nikmat yang setiap hari kita rasakan, tetapi jarang kita renungkan. Dan nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan Islam, yang menjadi bekal keselamatan di dunia sampai akhirat.
Apa hakikat syukur itu? Para ulama menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga wujud. Pertama, syukur dengan hati: mengakui dengan sepenuh hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah, bukan semata karena usaha kita sendiri. Kedua, syukur dengan lisan: mengucapkan alhamdulillah dan menceritakan nikmat Allah dengan penuh rasa terima kasih. Ketiga, syukur dengan perbuatan: menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan. Mata yang bersyukur dipakai untuk membaca Al-Qur’an, telinga yang bersyukur dipakai untuk mendengar kebaikan, harta yang bersyukur disalurkan untuk sedekah dan membantu sesama.
Baca Juga: Hikmah Bersyukur atas Nikmat Kecil: Ketika yang Sederhana Justru Paling Berharga
Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi orang yang bersyukur. Janji ini ditegaskan dalam ayat yang kita baca tadi: jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Sebaliknya, mengingkari nikmat adalah jalan menuju murka Allah. Kufur nikmat bukan hanya mengucapkan bahwa Allah tidak memberi nikmat, tetapi juga bisa berupa menggunakan nikmat untuk bermaksiat, atau menganggap nikmat itu semata hasil kerja keras sendiri tanpa campur tangan Allah.
Syukur juga mencakup bagaimana kita memperlakukan sesama manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Man lam yasykurin-nas lam yasykurillah”, yang artinya, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR Tirmidzi). Maka orang yang bersyukur adalah orang yang mudah mengucapkan terima kasih, mudah menghargai kebaikan orang lain, dan tidak menganggap kebaikan sesama sebagai hal yang biasa.
Syukur juga tampak dalam kehidupan sehari-hari yang paling sederhana. Orang yang bersyukur tidak menghabiskan waktu membandingkan rezekinya dengan rezeki orang lain, karena ia memahami bahwa setiap orang menerima bagiannya masing-masing. Ia menikmati makan sederhana tanpa mengeluh, menghargai pekerjaan yang dimiliki, dan mensyukuri rumah serta keluarga yang Allah titipkan. Sikap ini membuat hati tenang, karena sumber ketenangan bukanlah banyaknya harta, melainkan rasa cukup yang lahir dari syukur. Sebaliknya, orang yang tidak bersyukur selalu merasa kurang, betapa pun banyak yang ia miliki, karena hatinya tidak pernah puas.
Bersyukur tidak hanya dilakukan saat lapang dan berkecukupan. Justru dalam keadaan sulit, syukur menjadi ujian iman. Sakit mengajarkan kita betapa berharganya sehat, kehilangan mengajarkan betapa berharganya yang pernah kita miliki, dan kesulitan mengajarkan kita untuk tetap melihat nikmat yang masih ada. Orang yang bersyukur tetap menemukan alasan untuk mengucapkan alhamdulillah, bahkan di tengah ujian, karena ia yakin Allah tidak mengambil sesuatu kecuali untuk menggantinya dengan yang lebih baik.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Aku berkata demikian, dan aku memohon ampunan Allah Yang Maha Agung untukku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah kita tutup khutbah ini dengan tekad untuk menjadi hamba yang bersyukur. Bersyukurlah dengan hati yang mengakui nikmat Allah, dengan lisan yang senantiasa mengucapkan alhamdulillah, dan dengan perbuatan yang menggunakan nikmat untuk kebaikan. Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya pandai meminta, tetapi lupa berterima kasih kepada Pemberi nikmat.
Baca Juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Shalat Berjamaah dan Memakmurkan Masjid
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka.
Sumber:
Quran NU Online, Surat Ibrahim Ayat 7, https://quran.nu.or.id/ibrahim/7
