Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Gigi yang putih sering dianggap sebagai tanda gigi yang sehat. Padahal, warna gigi bukanlah tolok ukur kesehatan mulut. Di balik gigi yang tampak putih, bisa saja tersembunyi gusi yang meradang atau keseimbangan mikroba yang terganggu. Sebaliknya, gigi yang warnanya tidak seputih kertas bisa jadi justru sehat dan terawat dengan baik.

Pesan ini disampaikan Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof drg Suryono, S.H., M.M., PhD, dalam artikel detikHealth. Menurutnya, masyarakat kadang salah kaprah menilai kesehatan gigi dan mulut dari penampakan fisik. Merawat gigi kini memang menjadi bagian dari tren self-care, dengan produk pemutih dan alat pembersih gigi yang ramai dipromosikan dengan janji yang sama: gigi putih. Tetapi putih dan sehat adalah dua hal yang berbeda.

Bacaan Lainnya
Wanita muda menyikat gigi di dalam ruangan. Foto: Helena Lopes / Pexels.

Yang Menentukan Sehat Justru Tidak Terlihat

Kesehatan mulut tidak bisa dinilai dari warna gigi saja. Warna gigi dipengaruhi faktor alami, seperti ketebalan lapisan email dan warna dentin di bawahnya, yang berbeda-beda pada setiap orang. Yang lebih menentukan adalah isi rongga mulut itu sendiri, yang dihuni banyak jenis mikroorganisme. Di dalam rongga mulut, ada sekitar 700 jenis kuman atau lebih, belum termasuk yang belum teridentifikasi.

Tidak semua mikroba itu berbahaya. Sebagian justru merupakan bagian normal dari ekosistem mulut. Masalah muncul ketika keseimbangannya terganggu. Ketika mikroba yang merugikan berkembang lebih banyak, risiko gigi berlubang, penyakit gusi, dan bau mulut meningkat. Karena tidak kasat mata, gangguan keseimbangan ini sering tidak disadari sampai gejalanya terasa, misalnya gusi berdarah saat menyikat gigi atau bau mulut yang tidak kunjung hilang.

Dua Langkah Sederhana Menjaga Keseimbangan Mulut

Kabar baiknya, menjaga keseimbangan ekosistem mulut tidak rumit. Menurut Prof Suryono, cukup dengan dua cara sederhana. Pertama, menyikat gigi dengan cara yang tepat. Kedua, mengonsumsi makanan sehat, sedapat mungkin yang memerlukan pengunyahan, seperti sayur dan buah. Dengan cara yang sederhana itulah keseimbangan mikrobioma rongga mulut dapat dijaga, sehingga kesehatan mulut terjaga secara menyeluruh.

Makanan yang kaya serat dan membutuhkan pengunyahan merangsang produksi air liur, yang membantu membersihkan sisa makanan dan menetralkan asam di dalam mulut. Anjuran ini sejalan dengan hasil riset: sebuah kajian yang terbit di jurnal Nutrients (2023) merangkum sejumlah uji coba pada manusia dan menyimpulkan bahwa pola makan kaya serat baik bagi kesehatan mulut. Meski begitu, buah tidak bebas risiko bagi gigi. Buah dan minuman yang asam bisa mengikis enamel bila dikonsumsi berlebihan atau terlalu sering.

Baca Juga: Manfaat Jalan Kaki 30 Menit Setiap Hari bagi Kesehatan Jantung dan Tubuh

Menyikat Gigi yang Tepat: Kapan dan Bagaimana?

Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg Tari Tritarayati, menyebut menyikat gigi sebaiknya dilakukan dua kali sehari, yakni pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Waktu pagi setelah sarapan lebih tepat daripada sebelum sarapan, karena sisa makanan sarapan ikut dibersihkan. Sementara menyikat gigi malam sebelum tidur penting karena selama tidur aliran air liur berkurang, sehingga kuman lebih leluasa berkembang.

Para ahli menyarankan menyikat gigi selama 2 sampai 3 menit dengan pasta gigi berfluoride. Fluoride membantu memperkuat email gigi dan mencegah gigi berlubang. Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan ganti sikat secara berkala, terutama bila bulunya sudah mekar. Sikatlah dengan gerakan yang lembut dan menyeluruh, termasuk bagian gigi belakang yang sering terlewat. Menyikat terlalu keras justru bisa melukai gusi dan mengikis email.

Makanan yang Baik dan yang Perlu Diwaspadai

Selain sayur dan buah, air putih adalah teman terbaik bagi kesehatan mulut. Air putih membantu membilas sisa makanan dan menjaga kelembapan mulut. Makanan yang renyah seperti apel dan wortel juga baik karena membantu membersihkan permukaan gigi secara alami saat dikunyah.

Di sisi lain, makanan dan minuman manis yang lengket, seperti permen, cokelat, dan minuman bersoda, menjadi makanan bagi kuman penghasil asam. Semakin lama gula menempel di gigi, semakin besar risikonya. Bila terpaksa mengonsumsi makanan manis, segera berkumur dengan air atau menyikat gigi setelahnya. Kebiasaan mengemil manis sepanjang hari lebih berbahaya daripada makan manis sekali dalam jumlah besar saat jam makan.

Baca Juga: Jalan Kaki Setiap Hari: Langkah Ringan untuk Tubuh Lebih Bugar

Kenali Tanda yang Sering Diabaikan

Karena kondisi mikrobioma tidak terlihat, tubuh biasanya memberi sinyal lain yang sering diabaikan. Gusi yang berdarah saat menyikat gigi, bau mulut yang menetap meski sudah menyikat gigi, gigi yang ngilu saat minum dingin, dan sariawan yang tak kunjung sembuh adalah tanda untuk segera memeriksakan diri ke dokter gigi.

Jangan menunggu sampai sakitnya parah. Pemeriksaan rutin ke dokter gigi membuat masalah kecil bisa ditangani sebelum menjadi masalah besar yang membutuhkan perawatan lebih mahal. Dokter gigi juga bisa membersihkan karang gigi yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan menyikat gigi di rumah. Perawatan yang dilakukan sejak dini selalu lebih ringan daripada perawatan setelah kerusakan terjadi.

Merawat gigi dan mulut pada akhirnya bukan soal membuat gigi tampak putih, melainkan soal menjaga keseimbangan ekosistem di dalamnya. Menyikat gigi dengan cara yang tepat dua kali sehari, mengonsumsi makanan sehat yang memerlukan pengunyahan, serta memeriksakan diri ke dokter gigi bila ada tanda yang mencurigakan, adalah langkah sederhana yang dampaknya bertahan seumur hidup. Senyum yang sehat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Sumber:
detikHealth, Gigi Putih Memang Menarik, Bersih dan Sehat soal Lain, Ni’matun Mutmainah, S.H.G., Rabu, 7 Oktober 2026, https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8695712/gigi-putih-memang-menarik-bersih-dan-sehat-soal-lain

Pos terkait