Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen pada Oktober 2026

Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20 sampai 21 Oktober 2026. Keputusan ini diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Selain BI-Rate, Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga Fasilitas Pinjaman pada 6,50 persen, sementara suku bunga Fasilitas Simpanan dinaikkan menjadi 5,00 persen. Kombinasi ini mencerminkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memberi ruang likuiditas domestik.

Bacaan Lainnya

Keputusan menahan suku bunga ini menjadi yang keempat berturut-turut, setelah pengetatan sebesar 100 basis poin pada Mei sampai Juni. Dalam jajak pendapat, sebagian besar ekonom memperkirakan tidak ada perubahan, sementara sebagian lainnya mengantisipasi kenaikan setidaknya 25 basis poin.

Inflasi konsumen pada September tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan, naik dari 3,19 persen pada Agustus, tetapi masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 sampai 3,5 persen. Inflasi inti tercatat 2,84 persen, sedangkan inflasi pangan bergejolak naik menjadi 5,03 persen.

Bank Indonesia juga mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2026 pada kisaran 4,9 sampai 5,7 persen, setelah ekonomi tumbuh 5,29 persen pada kuartal kedua. Keputusan ini diharapkan memberi kepastian bagi pelaku usaha dan masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Keputusan yang diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026 itu mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 5,75 persen, setelah Rapat Dewan Gubernur pada 20 sampai 21 Oktober 2026. Selain BI-Rate, suku bunga Fasilitas Pinjaman dipertahankan pada 6,50 persen, sementara suku bunga Fasilitas Simpanan dinaikkan menjadi 5,00 persen, dan kombinasi ini mencerminkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memberi ruang likuiditas domestik.

Penahanan suku bunga ini menjadi yang keempat berturut-turut, setelah pengetatan sebesar 100 basis poin pada Mei sampai Juni, dan dalam jajak pendapat, sebagian besar ekonom memperkirakan tidak ada perubahan, sementara sebagian lainnya mengantisipasi kenaikan setidaknya 25 basis poin. Dari sisi harga, inflasi konsumen pada September tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan, naik dari 3,19 persen pada Agustus, tetapi masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 sampai 3,5 persen, dengan inflasi inti tercatat 2,84 persen dan inflasi pangan bergejolak naik menjadi 5,03 persen, sementara perkiraan pertumbuhan ekonomi 2026 dipertahankan pada kisaran 4,9 sampai 5,7 persen, setelah ekonomi tumbuh 5,29 persen pada kuartal kedua, sehingga keputusan ini diharapkan memberi kepastian bagi pelaku usaha dan masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga: Biosolusi Diproyeksikan Lampaui Ekspor Kopi, Sumbang Ekonomi hingga Rp 36 Triliun

Sumber:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *