Siapa pun yang pernah berenang di laut pasti pernah merasakan airnya yang asin, bahkan sedikit saja air yang tertelan terasa sangat berbeda dengan air tawar. Rasa asin itu bukan kebetulan dan bukan karena seseorang menaburkan garam ke laut. Air laut memang mengandung garam terlarut dengan kadar sekitar 3,5 persen, artinya setiap satu liter air laut mengandung kira-kira 35 gram garam. Pertanyaannya, dari mana garam sebanyak itu berasal, dan mengapa garam itu tidak pernah habis atau berkurang?
Garam dalam air laut bukan satu jenis saja. Kompas Skola merinci kandungannya: klorida sekitar 55 persen, natrium sekitar 31 persen, sulfat sekitar 8 persen, dan magnesium sekitar 4 persen, ditambah sejumlah kecil kalsium, kalium, dan unsur lainnya. Kombinasi natrium dan klorida inilah yang kita kenal sebagai garam dapur, dan keduanya mendominasi rasa asin air laut. Sebenarnya, air itu sendiri tidak harus asin; air bisa terasa tawar seperti air sungai dan air hujan. Rasa asin muncul karena air tersebut telah melarutkan garam dalam perjalanan panjangnya.

Sumber Pertama: Hujan dan Pelapukan Batuan
Sumber utama garam laut adalah daratan, dan perantaranya adalah hujan. Ketika air laut terkena panas matahari, airnya menguap naik dan membentuk awan, sedangkan garamnya tertinggal di laut. Setelah butiran air dalam awan membesar, butiran itu jatuh sebagai hujan. Saat jatuh, air hujan bercampur dengan karbon dioksida dari udara sehingga menjadi sedikit asam. Air hujan yang sedikit asam ini mengikis batuan dan memecah mineral serta ion yang terkandung di dalamnya. Kandungan mineral dan ion tersebut kemudian terbawa aliran sungai hingga akhirnya bermuara ke laut. Proses ini berlangsung sangat lama dan terus berulang, sehingga tanpa kita sadari, mineral dari daratan terus menumpuk di laut selama jutaan tahun.
Baca Juga: Mengapa Kita Melihat Bintang di Malam Hari? Penjelasan Sederhana dan Mengapa Kucing Suka Tidur Seharian? Penjelasan Sederhana
Sumber Kedua: Cairan Hidrotermal di Dasar Laut
Sumber garam yang kedua berasal dari dasar laut itu sendiri, melalui cairan hidrotermal. Di dasar samudra terdapat ventilasi, yakni celah tempat air laut merembes hingga ke kerak samudra. Di sana, air tersebut mendapatkan pemanasan vulkanik dari panas inti Bumi, sehingga terjadi reaksi kimia dengan batuan di sekitarnya. Air yang telah diperkaya mineral itu kemudian kembali ke laut, membawa garam dan mineral terlarut bersamanya. Dengan dua jalur ini, hujan dari atas dan ventilasi dari bawah, laut terus menerima pasokan garam.
Mengapa Laut Tetap Asin, sedangkan Sungai Tetap Tawar
Jika sungai terus membawa garam ke laut, mengapa air sungai sendiri tetap tawar? Jawabannya adalah waktu dan aliran. Air sungai mengalir terus dan hanya singgah sebentar, sehingga garam tidak sempat menumpuk. Laut sebaliknya adalah penampung akhir: air yang masuk ke laut hanya bisa keluar lewat penguapan, dan penguapan hanya mengangkat air murni, bukan garamnya. Karena itu, garam yang sudah sampai di laut akan tinggal di sana. Kadar garam laut pun relatif stabil karena garam yang masuk kira-kira seimbang dengan garam yang mengendap menjadi sedimen dan batuan di dasar laut.
Mengapa Ada Laut yang Lebih Asin daripada yang Lain
Tidak semua laut sama asinnya. Laut di daerah tropis yang panas dan kering cenderung lebih asin karena penguapannya tinggi, sedangkan laut di sekitar kutub lebih tawar karena banyak menerima air tawar dari es yang mencair dan curah hujan. Contoh ekstremnya adalah Laut Mati, yang sebenarnya danau tertutup tanpa aliran keluar: penguapan tinggi membuat garamnya menumpuk hingga kadarnya berkali-kali lipat dari laut biasa, sehingga hampir tidak ada makhluk yang bisa hidup di dalamnya.
Bisakah Air Laut Diminum?
Jawaban singkatnya: tidak. Ginjal manusia tidak mampu membuang garam sebanyak yang terkandung dalam air laut tanpa membutuhkan air tawar tambahan, sehingga minum air laut justru mempercepat dehidrasi. Satu-satunya cara mengubah air laut menjadi air minum adalah desalinasi, yakni proses penyulingan atau osmosis balik yang memisahkan garam dari air. Teknologi ini sudah dipakai di banyak negara kering, tetapi biayanya mahal dan membutuhkan energi besar, sehingga air tawar dari alam tetap jauh lebih murah dan mudah didapat.
Mengukur Keasinan Air Laut
Para ilmuwan mengukur keasinan air laut dengan satuan salinitas, yang dinyatakan dalam gram garam per kilogram air laut atau dalam satuan praktis PSU. Rata-rata salinitas laut dunia adalah sekitar 35, yang berarti 35 gram garam dalam setiap kilogram air laut. Pengukuran ini penting untuk memahami arus laut, karena air yang lebih asin dan lebih dingin cenderung lebih berat sehingga tenggelam dan menggerakkan sirkulasi laut dalam yang memengaruhi iklim dunia. Dengan kata lain, garam laut bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal mesin iklim planet ini.
Asinnya air laut ternyata adalah kisah panjang tentang air, batu, dan waktu: hujan yang mengikis daratan, sungai yang mengangkut mineral, ventilasi dasar laut yang menambah garam, dan matahari yang menguapkan air murni sambil meninggalkan garamnya. Setiap tetes air laut yang Anda rasakan asin adalah jejak perjalanan mineral yang sudah berlangsung miliaran tahun.
Sumber: Kompas.com Skola, “Mengapa Air Laut Terasa Asin?”, https://www.kompas.com/skola/read/2023/03/21/220000669/mengapa-air-laut-terasa-asin- (21 Maret 2023, oleh Yopi Nadia, editor Serafica Gischa).





