Buletin Islam — Hampir semua orang pernah bermimpi. Ada yang bermimpi terbang, ada yang bermimpi dikejar, ada pula yang bermimpi bertemu dengan orang yang sudah lama tidak dijumpai. Mimpi bisa terasa sangat nyata, lucu, menakutkan, atau justru aneh dan tidak masuk akal. Mengapa kita bermimpi? Apakah mimpi memiliki arti tertentu? Ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu saraf, kini dapat menjelaskan mengapa mimpi terjadi dan apa yang sebenarnya berlangsung di dalam otak saat kita bermimpi.
Secara ilmiah, mimpi adalah fenomena biologis yang terjadi saat kita tidur. Mimpi bukanlah pesan gaib atau pertanda masa depan, melainkan hasil dari aktivitas otak yang sedang bekerja memproses informasi. Para peneliti di McGovern Institute, di antaranya Robert Desimone dan Dheeraj Roy, meneliti bagaimana otak menghasilkan mimpi dan mengapa mimpi sering kali terasa aneh. Berikut ini penjelasan ilmiah tentang mimpi yang mudah dipahami.

Untuk memahami mimpi, kita perlu memahami dulu apa yang terjadi di otak saat tidur. Otak kita menghasilkan gelombang otak dengan berbagai frekuensi, yaitu gelombang alfa, beta, theta, delta, dan gamma. Saat kita terjaga dan aktif berpikir, gelombang beta dan gamma mendominasi. Ketika kita mulai mengantuk dan beralih ke tidur, gelombang beta menurun dan gelombang alfa meningkat. Perubahan gelombang inilah yang menandai peralihan dari kondisi sadar ke kondisi tidur.
Baca Juga: Mengapa Bulan Terlihat Berbeda Setiap Malam? Penjelasan 8 Fase Bulan yang Mudah Dipahami | Mengapa Terjadi Gerhana? Penjelasan Sederhana Gerhana Bulan dan Matahari
Korteks Prefrontal yang Kurang Aktif
Salah satu kunci mengapa mimpi terasa aneh terletak pada korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang bertugas untuk berpikir logis, merencanakan, dan menilai apakah sesuatu masuk akal atau tidak. Saat kita bermimpi, korteks prefrontal menjadi kurang aktif, sementara terjadi lonjakan gelombang theta. Akibatnya, kemampuan otak untuk berpikir kritis menurun, sehingga mimpi yang aneh dan tidak masuk akal pun terasa wajar-wajar saja saat kita mengalaminya.
Inilah alasan mengapa di dalam mimpi kita bisa terbang tanpa sayap, berbicara dengan orang yang sudah meninggal, atau berada di dua tempat sekaligus tanpa merasa ada yang janggal. Baru setelah bangun, korteks prefrontal kembali aktif dan kita menyadari bahwa mimpi tersebut tidak masuk akal. Jadi, keanehan mimpi bukan karena ada sesuatu yang salah, melainkan karena bagian otak yang bertugas menilai logika sedang beristirahat.
Mimpi dan Proses Memori
Mimpi juga berkaitan erat dengan cara otak mengolah memori. Saat kita tidur, otak tidak berhenti bekerja. Ia justru sedang sibuk menstabilkan memori baru ke dalam memori jangka panjang. Pengalaman, pikiran, emosi, tempat, dan orang yang kita temui sepanjang hari diproses dan disimpan. Potongan-potongan memori yang acak ini kemudian dirangkai oleh otak menjadi skenario mimpi.
Itulah sebabnya sebagian besar mimpi terdiri dari hal-hal yang pernah kita alami atau pikirkan, meskipun dalam bentuk yang sudah berubah. Misalnya, seseorang yang seharian memikirkan ujian bisa bermimpi sedang mengerjakan soal di ruangan yang asing. Otak mengambil potongan memori tentang ujian, lalu menggabungkannya dengan potongan memori lain secara acak. Hasilnya adalah mimpi yang terasa familiar sekaligus aneh.
Apakah Mimpi Meramalkan Masa Depan?
Banyak orang percaya bahwa mimpi adalah pertanda masa depan. Namun, menurut penjelasan ilmiah, mimpi hanya mencerminkan proses biologis otak, bukan ramalan tentang apa yang akan terjadi. Mimpi memang dapat mengungkapkan apa yang sedang kita pikirkan atau khawatirkan, tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa mimpi dapat memprediksi kejadian di masa depan.
Sebagai contoh, seseorang yang sedang cemas tentang pekerjaannya mungkin bermimpi dipecat. Mimpi itu mencerminkan kecemasannya, bukan kenyataan yang pasti akan terjadi. Memahami hal ini membantu kita menyikapi mimpi dengan lebih tenang: mimpi yang menakutkan tidak perlu ditakuti, dan mimpi yang menyenangkan tidak perlu dijadikan patokan.
Mengapa Kita Sering Lupa Mimpi?
Sebagian besar mimpi terlupakan dalam waktu singkat setelah kita bangun. Hal ini juga berkaitan dengan aktivitas otak saat tidur. Memori mimpi tidak selalu dipindahkan ke memori jangka panjang, sehingga mudah hilang. Mimpi yang paling mudah diingat biasanya adalah mimpi yang terjadi sesaat sebelum kita bangun, atau mimpi yang disertai emosi yang kuat, seperti mimpi yang sangat menakutkan atau sangat membahagiakan.
Jika Anda ingin mengingat mimpi, cobalah untuk langsung mencatatnya begitu bangun tidur, sebelum melakukan aktivitas lain. Cara ini sering digunakan oleh para peneliti mimpi untuk mempelajari isi mimpi seseorang.
Mimpi adalah bagian alami dari tidur dan proses kerja otak. Dengan memahami penjelasan ilmiahnya, kita dapat menyikapi mimpi dengan lebih bijak: bukan sebagai pertanda yang harus ditakuti, melainkan sebagai cermin dari apa yang sedang diproses oleh otak kita. Tidur yang cukup dan berkualitas akan membuat proses ini berjalan dengan baik, sehingga kita bangun dengan tubuh dan pikiran yang segar.
Sumber: detikEdu — Mengapa Kita Bisa Bermimpi Saat Tidur? Ini Penjelasan Ilmiahnya — https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7616181/mengapa-kita-bisa-bermimpi-saat-tidur-ini-penjelasan-ilmiahnya






