Bersin adalah pengalaman yang sangat akrab: hidung terasa gatal, tarikan napas menjadi dalam, lalu udara keluar dengan kuat dan tiba-tiba. Meski sering dianggap sepele, bersin sebenarnya adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang sangat penting. Melalui bersin, tubuh membersihkan hidung dan tenggorokan dari debu, serbuk sari, kuman, dan berbagai partikel lain yang tidak seharusnya berada di sana. Memahami mengapa kita bersin membantu kita menyikapinya dengan lebih tenang dan lebih peduli pada kebersihan.
Menurut Cleveland Clinic, bersin adalah semburan udara yang tidak disengaja dari paru-paru melalui hidung dan mulut, yang biasanya terjadi ketika debu, serbuk sari, atau virus mengiritasi selaput lendir yang melapisi hidung dan tenggorokan. Bersin jarang menjadi tanda kondisi yang serius, tetapi ia adalah tanda bahwa sistem pertahanan tubuh sedang bekerja. Artikel ini menjelaskan proses bersin dengan bahasa sederhana, penyebab-penyebabnya, dan etika bersin yang baik.

Apa yang Terjadi Saat Kita Bersin?
Proses bersin dimulai ketika saraf-saraf di dalam hidung mendeteksi adanya iritan, yaitu benda asing yang mengganggu. Sinyal itu dikirim ke otak, tepatnya ke pusat bersin di batang otak, yang kemudian mengoordinasikan serangkaian gerakan: otot-otot perut dan dada berkontraksi, pita suara menutup sejenak, lalu udara dikeluarkan dengan kecepatan tinggi melalui hidung dan mulut. Mata biasanya ikut tertutup secara refleks, karena itu adalah bagian dari gerakan yang sama. Seluruh rangkaian ini terjadi begitu cepat sehingga kita tidak sempat mengendalikannya.
Tujuan utama proses ini adalah mengeluarkan iritan tersebut. Bayangkan hidung sebagai pintu masuk udara: ketika ada debu atau serbuk sari yang menempel di selaput lendir, tubuh tidak ingin partikel itu masuk lebih jauh ke paru-paru. Bersin menjadi cara cepat untuk “menyapu” keluar partikel tersebut. Karena itu, menahan bersin justru tidak disarankan oleh Cleveland Clinic, sebab tekanan yang tertahan dapat menimbulkan masalah seperti kerusakan pembuluh darah kecil, vertigo, pecahnya gendang telinga, atau gangguan pendengaran.
Apa Saja Penyebab Bersin?
Penyebab bersin yang paling umum adalah alergi, misalnya terhadap debu, jamur, bulu hewan, atau serbuk sari pada musim tertentu. Infeksi virus seperti flu dan pilek juga sering diawali atau disertai bersin, karena virus mengiritasi selaput hidung. Selain itu, bersin dapat dipicu oleh makanan pedas, perubahan suhu yang mendadak, menghirup obat semprot hidung tertentu, bahkan oleh emosi yang kuat dan stres, karena stres dapat meningkatkan kadar histamin dalam tubuh. Ada pula orang yang bersin ketika melihat cahaya terang, misalnya sinar matahari; kondisi yang diwariskan ini dialami sekitar satu dari tiga orang yang dapat memicu bersin dengan cahaya terang.
Bersin yang sesekali terjadi umumnya normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, bersin yang terjadi terus-menerus disertai gejala lain seperti demam, mual dan muntah, sesak napas, biduran, mata gatal dan berair, atau diare, sebaiknya diperiksakan, karena gejala-gejala tersebut dapat menandakan alergi berat atau infeksi. Pada bayi yang baru lahir, bersin yang sering juga umumnya normal, kecuali disertai demam, batuk, hidung tersumbat, atau perubahan pola tidur dan makan.
Baca Juga: Mengapa Kita Menguap? Penjelasan Sederhana tentang Tubuh yang Lelah | Mengapa Daun Berwarna Hijau? Penjelasan Sederhana untuk Keluarga
Mengapa Bersin Bisa Menular?
Bersin tidak hanya mengeluarkan iritan, tetapi juga menyebarkan ribuan tetesan kecil ke udara dan permukaan di sekitar. Cleveland Clinic menyebutkan bahwa bersin dapat menyebarkan hingga 40.000 tetesan kecil dari mulut dan hidung. Jika tetesan itu mengandung virus atau bakteri, orang di sekitar dapat tertular penyakit seperti pilek, flu, radang tenggorokan, infeksi RSV, pneumonia, dan penyakit meningokokus, meski yang terakhir lebih jarang. Karena itu, etika bersin sangat penting: tutupi hidung dan mulut dengan tisu atau siku bagian dalam, bukan dengan telapak tangan, buang tisu segera, dan cuci tangan setelahnya.
Mitos yang Perlu Diluruskan
Ada anggapan bahwa jantung berhenti saat seseorang bersin. Menurut Cleveland Clinic, hal itu tidak benar, meskipun bersin dapat mempercepat atau memperlambat detak jantung untuk waktu yang sangat singkat. Anggapan lain adalah bahwa bersin dengan mata terbuka akan membuat bola mata keluar; hal ini juga tidak benar, karena menutup mata saat bersin hanyalah refleks otomatis, dan sebagian orang bahkan dapat bersin dengan mata terbuka. Meluruskan mitos-mitos ini membantu kita menyikapi bersin secara wajar, tanpa takut berlebihan dan tanpa mengabaikan kebersihan.
Bagaimana Mengurangi Bersin karena Alergi?
Jika bersin disebabkan oleh alergi, beberapa langkah sederhana dapat membantu: gunakan filter udara pada pendingin ruangan dan ganti secara berkala, pertimbangkan pemurni udara untuk mengurangi debu dan alergen di dalam rumah, dan perhatikan pemicu di sekitar, misalnya hewan peliharaan tertentu. Menjaga rumah tetap bersih, mencuci seprai secara teratur, dan menghindari paparan debu berlebihan juga dapat mengurangi frekuensi bersin. Jika keluhan tidak membaik atau sangat mengganggu aktivitas, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat, termasuk kemungkinan tes alergi.
Penutup
Bersin adalah bukti bahwa tubuh memiliki sistem pertahanan yang bekerja secara otomatis dan cepat. Ia membersihkan saluran napas, memberi peringatan tentang adanya iritan, dan mengingatkan kita untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dengan memahami prosesnya, menutup hidung dan mulut saat bersin, serta memperhatikan gejala penyerta, kita dapat bersikap lebih bijak: tidak panik karena bersin yang sesekali, tetapi juga tidak abai ketika bersin menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang perlu diperiksa.
Sumber:
- Cleveland Clinic, Sneezing: Causes and How To Make It Stop, terakhir diperbarui 2 April 2024, diakses 4 November 2026