Pernahkah Anda melihat langit siang tiba-tiba meredup padahal bukan mendung, atau Bulan purnama yang perlahan menghilang lalu berubah kemerahan? Peristiwa itu disebut gerhana, salah satu fenomena langit yang paling memukau sekaligus paling sering membuat orang bertanya-tanya. Sejak zaman dahulu, gerhana kerap dikaitkan dengan berbagai mitos, padahal penjelasannya sesungguhnya sederhana dan sepenuhnya bisa dipahami lewat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan.
Secara sederhana, gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika sebuah benda angkasa bergerak masuk ke dalam bayangan benda angkasa lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal dua jenis gerhana yang bisa diamati dari Bumi, yaitu gerhana Bulan dan gerhana Matahari. Keduanya terjadi karena posisi ketiga benda langit itu sedang berada dalam satu garis lurus, tetapi dengan susunan yang berbeda. Artikel ini menjelaskan keduanya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Sebelum membahas masing-masing jenisnya, ada satu hal penting yang perlu dipahami: gerhana tidak terjadi setiap bulan, meskipun Bulan mengelilingi Bumi kira-kira setiap 29,5 hari. Gerhana hanya terjadi pada saat-saat tertentu, ketika Matahari, Bumi, dan Bulan benar-benar berada dalam posisi sejajar. Di luar momen itu, bayangan yang terbentuk tidak jatuh tepat pada benda langit yang seharusnya tertutup, sehingga tidak terjadi gerhana.
Gerhana Bulan: Ketika Bumi Menutupi Cahaya Matahari
Gerhana Bulan terjadi ketika kedudukan Bulan, Bumi, dan Matahari sejajar, dengan Bumi berada di tengah-tengah. Pada posisi ini, cahaya Matahari yang seharusnya sampai ke Bulan terhalangi oleh Bumi, sehingga Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi. Karena itu, gerhana Bulan hanya mungkin terjadi pada malam hari, saat Bulan sedang purnama, yaitu ketika Bulan berada di sisi Bumi yang berlawanan dengan Matahari.
Prosesnya berlangsung perlahan dan bisa dinikmati dengan mata telanjang. Bulan yang semula bulat sempurna akan tertutup sedikit demi sedikit oleh bayangan Bumi, kemudian menghilang ke dalam bayangan tersebut, lalu muncul kembali secara bertahap, dari bentuk sabit hingga kembali menjadi purnama. Tidak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan aman untuk dilihat langsung tanpa alat pelindung khusus, sehingga banyak orang menikmatinya bersama keluarga.
Tiga Jenis Gerhana Bulan
Gerhana Bulan tidak selalu tampak sama. Ada tiga jenisnya, tergantung seberapa dalam Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi. Pertama, gerhana Bulan total, ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi (umbra). Pada fase total ini, Bulan tidak menjadi hitam pekat, melainkan tampak kemerahan. Karena itulah gerhana Bulan total sering disebut blood moon atau Bulan darah. Warna merah itu muncul karena cahaya Matahari yang terbiaskan oleh atmosfer Bumi masih mencapai Bulan, dan warna biru tersaring sehingga yang tersisa adalah rona merah.
Kedua, gerhana Bulan sebagian atau parsial, ketika hanya sebagian permukaan Bulan yang masuk ke dalam bayangan inti Bumi. Dari Bumi, kita akan melihat Bulan purnama yang seperti “tergigit” di salah satu sisinya. Ketiga, gerhana Bulan penumbra, ketika Bulan hanya melewati bayangan samar Bumi (penumbra). Jenis ini paling sulit dikenali, karena Bulan hanya tampak sedikit lebih redup dari biasanya, tanpa perubahan bentuk yang jelas.
Gerhana Matahari: Ketika Bulan Menutupi Matahari
Gerhana Matahari adalah kebalikan dari gerhana Bulan. Peristiwa ini terjadi ketika Bulan menutupi Matahari, dengan posisi Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu garis lurus. Karena Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi dan menutupi sebagian wilayahnya. Gerhana Matahari terjadi pada siang hari, saat Bulan berada dalam fase bulan baru atau bulan mati.
Prosesnya pun berurutan: piringan Matahari yang semula bulat penuh akan tertutup sedikit demi sedikit oleh Bulan, hingga mencapai puncaknya, lalu terbuka kembali secara perlahan. Namun, berbeda dengan gerhana Bulan, gerhana Matahari tidak boleh dilihat dengan mata telanjang tanpa pelindung yang sesuai. Cahaya Matahari yang sangat kuat tetap berbahaya bagi mata, bahkan ketika sebagian besar piringannya sudah tertutup Bulan.
Baca Juga: Mengapa Kita Melihat Bintang di Malam Hari? Penjelasan Sederhana dan Mengapa Kucing Suka Tidur Seharian? Penjelasan Sederhana
Empat Jenis Gerhana Matahari
Gerhana Matahari total adalah jenis yang paling langka sekaligus paling memukau. Pada gerhana ini, Bulan menutupi Matahari sepenuhnya, sehingga siang hari berubah menjadi gelap selama beberapa menit dan korona Matahari bisa terlihat. Bagi sebagian orang, menyaksikan gerhana Matahari total adalah pengalaman sekali seumur hidup, karena jalur bayangan intinya hanya melewati wilayah-wilayah tertentu di Bumi. Meski indah, fase ini tetap membahayakan mata bila dilihat langsung tanpa pelindung yang tepat, kecuali pada saat-saat totalitas yang sangat singkat dan dengan panduan ahli.
Jenis kedua adalah gerhana Matahari sebagian atau parsial, ketika Bulan hanya menutupi sebagian piringan Matahari. Pengamat yang berada di wilayah penumbra Bulan akan melihat Matahari seperti sabit. Jenis ketiga adalah gerhana Matahari cincin, yang terjadi ketika Bulan berada pada titik terjauhnya dari Bumi. Pada posisi ini, kerucut bayangan inti Bulan tidak cukup panjang untuk menutupi Bumi sepenuhnya, sehingga pengamat yang berada di wilayah antumbra akan melihat Matahari berbentuk cincin yang bercahaya di sekeliling siluet Bulan.
Jenis keempat adalah gerhana Matahari hibrida atau campuran, yaitu gerhana yang berubah jenis di sepanjang jalurnya, misalnya diawali sebagai gerhana cincin lalu menjadi gerhana total, atau sebaliknya. Jenis ini sangat jarang terjadi dan menjadi buruan para pemburu gerhana di seluruh dunia.
Mengapa Gerhana Begitu Istimewa?
Gerhana terasa istimewa bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena kelangkaannya. Dibutuhkan keselarasan posisi yang tepat antara tiga benda langit raksasa untuk menghasilkan satu peristiwa gerhana. Itulah sebabnya gerhana Bulan total atau gerhana Matahari total di satu wilayah bisa hanya terjadi bertahun-tahun sekali, dan orang rela bepergian jauh hanya untuk menyaksikannya selama beberapa menit.
Bagi kita, gerhana juga bisa menjadi pengingat tentang keteraturan alam semesta. Matahari, Bumi, dan Bulan bergerak dalam orbitnya masing-masing dengan ritme yang bisa dihitung, sehingga para ilmuwan bahkan dapat memprediksi kapan gerhana berikutnya akan terjadi jauh-jauh hari. Jadi, lain kali Anda mendengar kabar akan terjadi gerhana, Anda sudah tahu ceritanya: semua bermula dari tiga benda langit yang sedang berada dalam satu garis lurus, dan bayangan yang jatuh tepat pada sasarannya.
Sumber
Kompas.com Skola, “Gerhana Bulan dan Matahari: Pengertian, Jenis, dan Proses Terjadinya”, https://www.kompas.com/skola/read/2022/08/05/163000369/gerhana-bulan-dan-matahari–pengertian-jenis-dan-proses-terjadinya (5 Agustus 2022, diakses 5 November 2026)





