Foto: Gunung, via Unsplash.
Gunung Rinjani bukan hanya tujuan pendakian, melainkan sumber kehidupan bagi masyarakat di sekelilingnya. Mata air yang mengalir dari lerengnya mengairi sawah, mengisi sungai, dan menopang kehidupan sehari-hari. Karena itu, cara kita berwisata di Rinjani menentukan apakah gunung itu tetap memberi kehidupan atau justru kehilangan daya dukungnya.
Ekowisata menawarkan jalan tengah. Wisatawan tetap dapat menikmati keindahan danau kawah, padang savana, dan hutan tropis, tetapi dengan aturan yang menjaga alam. Jumlah pendaki yang dibatasi, jalur yang dijaga, dan sampah yang dibawa kembali adalah bentuk tanggung jawab yang sederhana namun berdampak besar.
Konservasi mata air menjadi kunci. Hutan di lereng gunung berfungsi seperti spons raksasa yang menyerap hujan dan melepaskannya perlahan sebagai mata air. Jika hutan rusak, air hujan mengalir cepat, membawa tanah, dan menyebabkan banjir di musim hujan serta kekeringan di musim kemarau. Menanam pohon dan menjaga hutan, seperti yang diupayakan dalam berbagai program konservasi, adalah investasi air untuk generasi berikutnya.
Masyarakat lokal adalah penjaga pertama Rinjani. Pemandu, porter, petani, dan pelaku usaha kecil di desa-desa penyangga hidup dari gunung ini, sekaligus paling memahami perubahan musim, jalur, dan sumber air. Ekowisata yang baik memastikan mereka mendapat manfaat ekonomi yang adil, bukan hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri.
Baca Juga: Festival Indonesia Timur di Jakarta: Panggung bagi UMKM dan Budaya yang Menyatukan | Wisata Kuliner Malam: Ketika Kota Tetap Hidup Setelah Matahari Terbenam
Bagi wisatawan, etika pendakian adalah bagian dari pengalaman. Bawalah perlengkapan yang memadai, patuhi aturan jalur dan zona, jangan mengambil tumbuhan atau mengganggu satwa, dan bawalah kembali semua sampah, termasuk sampah kecil yang mudah tertinggal. Gunung yang bersih adalah tanda pendaki yang beradab.
Pendakian juga perlu persiapan fisik dan mental. Ketinggian, cuaca yang cepat berubah, dan medan yang berat menuntut latihan, perlengkapan yang tepat, dan keberanian untuk kembali jika kondisi tidak aman. Keselamatan selalu lebih penting daripada puncak.
Di luar pendakian, wisata di kaki gunung menawarkan pengalaman lain: desa wisata, air terjun, sawah berundak, dan kuliner lokal. Wisata yang tersebar ini membantu ekonomi desa tanpa membebani satu jalur pendakian saja, dan memberi wisatawan gambaran yang lebih utuh tentang kehidupan di sekitar Rinjani.
Pada akhirnya, Rinjani mengajarkan bahwa wisata dan konservasi tidak harus bertentangan. Dengan pendaki yang bertanggung jawab, masyarakat yang diberdayakan, dan hutan yang dijaga, gunung ini dapat terus menjadi sumber air, sumber penghidupan, dan sumber kekaguman untuk waktu yang lama.
Sumber:
