Ada kota-kota yang sejarahnya hanya bisa dibaca di buku, dan ada kota yang sejarahnya masih bisa disentuh, didengar, dan dijalani setiap hari. Fez, kota di pedalaman utara Maroko, termasuk yang kedua. Di kota ini, gang-gang sempit kota tuanya masih dipadati kehidupan: para pengrajin bekerja di bengkel-bengkel kecil, aroma rempah memenuhi pasar, dan suara azan bersahutan dari masjid-masjid tua. Fez bukan museum yang beku, melainkan kota yang sudah hidup lebih dari dua belas abad dan masih berdenyut hingga hari ini.
Fez, yang juga dieja Fès atau Fas, adalah kota terbesar ketiga di Maroko dan ibu kota wilayah Fès-Meknès. Kota ini terletak sekitar 206 kilometer di tenggara Tangier, 246 kilometer dari Casablanca, dan 189 kilometer di timur Rabat. Menurut sensus tahun 2014, penduduknya mencapai sekitar 1,15 juta jiwa. Namun, yang membuat Fez istimewa bukan ukurannya, melainkan kedudukannya sebagai pusat ilmu dan spiritualitas Islam di Maroko selama berabad-abad.

Kota yang Didirikan pada Tahun 789
Sejarah Fez bermula pada tahun 789, ketika Idris I, pendiri dinasti Idrisiyah, mendirikan kota ini. Pada awalnya, Fez terdiri dari dua permukiman terpisah di kedua sisi Sungai Fez. Kedua permukiman itu kemudian disatukan oleh Yusuf bin Tasyfin dari dinasti Murabithun, sehingga terbentuklah kawasan yang kini dikenal sebagai Fes el-Bali atau Fez Tua. Pada tahun 1276, Sultan Abu Yusuf Yaqub dari dinasti Marinid mendirikan kawasan baru di sebelahnya, Fes Jdid atau Fez Baru, yang menjadi pusat pemerintahan.
Masa keemasan Fez terjadi pada abad ke-13 hingga ke-15 di bawah dinasti Marinid, ketika kota ini kembali menjadi ibu kota kerajaan dan menggantikan Marrakesh. UNESCO mencatat bahwa Fez mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-13 hingga ke-14 di bawah Marinid, dan sebagian besar bangunan penting di kota tuanya, seperti madrasah, fondouk atau penginapan pedagang, istana, rumah tinggal, masjid, dan air mancur, berasal dari masa ini. Meskipun ibu kota politik Maroko kemudian dipindahkan ke Rabat pada tahun 1912, Fez tetap mempertahankan kedudukannya sebagai pusat budaya dan spiritual negara itu.
Universitas Al-Qarawiyyin: Kampus Tertua yang Masih Berdenyut
Di jantung kota tua Fez berdiri Masjid Al-Qarawiyyin, yang didirikan pada tahun 859 oleh Fatimah al-Fihri. Di sekeliling masjid inilah tumbuh Universitas Al-Qarawiyyin, yang menurut UNESCO dan Guinness World Records merupakan lembaga pemberi gelar tertua di dunia yang masih beroperasi hingga kini. Selama berabad-abad, para ulama dan pelajar dari berbagai penjuru dunia Islam datang ke Fez untuk belajar ilmu agama, bahasa, hukum, dan ilmu pengetahuan. Tradisi keilmuan inilah yang membuat Fez dijuluki sebagai pusat ilmu Islam, dan pengaruhnya terasa hingga hari ini melalui madrasah-madrasah bersejarah yang masih berdiri di kota tua.
Medina: Kota Tua yang Masih Dihuni
Kota tua Fez, yang terdiri dari Fes el-Bali dan Fes Jdid, ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1981, menjadikannya situs pertama di Maroko yang masuk daftar tersebut. UNESCO menggambarkannya sebagai salah satu kota bersejarah terbesar dan terpelihara terbaik di dunia Arab-Muslim. Kawasan ini juga sering disebut sebagai zona pejalan kaki tertua di dunia, karena gang-gangnya yang sempit memang tidak bisa dilalui mobil, sehingga kehidupan berjalan kaki, keledai pengangkut barang, dan pasar tradisional masih menjadi pemandangan sehari-hari.
Salah satu tempat paling terkenal di medina adalah penyamakan kulit Chouara, yang didirikan pada abad ke-11 dan termasuk salah satu penyamakan kulit tertua di dunia. Dari tempat-tempat tinggi di sekitarnya, pengunjung dapat menyaksikan para pengrajin bekerja di bak-bak warna-warni, dengan cara yang tidak banyak berubah selama berabad-abad. Pemandangan ini menjadi pengingat bahwa di Fez, tradisi bukan sekadar tontonan, melainkan mata pencaharian yang masih hidup.
Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Sejarah di Jawa Timur yang Layak Dikunjungi dan Wisata Religi yang Menenangkan: Ziarah dengan Adab dan Persiapan Matang
Dari Nama hingga Pasar: Jejak yang Masih Terasa
Nama Fez sendiri menyimpan cerita. Menurut Wikipedia, nama kota ini berasal dari kata Arab fa’s yang berarti beliung, dan sebuah legenda menyebutkan bahwa Idris I memakai beliung dari emas dan perak saat mendirikan kota. Kisah seperti ini menunjukkan betapa dalamnya kota ini melekat pada ingatan kolektif penduduknya. Di pasar-pasar Fez, pengunjung masih bisa menemukan kerajinan tembaga, keramik, tekstil, dan perhiasan yang dibuat dengan teknik turun-temurun, berdampingan dengan kehidupan modern di kawasan Ville Nouvelle atau kota baru yang dibangun pada masa kolonial.
Menjelajahi Fez dengan Bijak
Bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Fez, berjalan kaki adalah cara terbaik untuk menjelajahi medina, karena hanya dengan berjalan kaki gang-gang kecil dan sudut-sudut tersembunyi kota tua bisa benar-benar dinikmati. Menggunakan pemandu lokal yang memahami sejarah kota akan sangat membantu, mengingat medina Fez terkenal luas dan mudah membuat pendatang tersesat. Berpakaianlah sopan, terutama saat mengunjungi kawasan di sekitar masjid dan madrasah, hormati privasi penduduk yang tinggal di kota tua, dan sempatkan waktu untuk sekadar duduk di kedai teh sambil memperhatikan kehidupan yang berjalan di depan mata.
Fez mengajarkan bahwa pusat ilmu Islam bukan hanya soal bangunan tua, melainkan tentang tradisi belajar, berdagang, dan beribadah yang terus hidup dari generasi ke generasi. Dari Universitas Al-Qarawiyyin yang didirikan pada tahun 859 hingga penyamakan kulit Chouara dari abad ke-11, kota ini membuktikan bahwa peradaban Islam pernah, dan masih, menjadi denyut kehidupan sehari-hari. Bagi siapa pun yang ingin memahami wajah Islam yang berakar pada ilmu dan tradisi, Fez adalah kota yang layak dikunjungi, dipelajari, dan dihormati.
Sumber:
- Wikipedia bahasa Indonesia, Fez (terakhir diubah 2 Oktober 2026)
- UNESCO World Heritage Centre, Medina of Fez (Warisan Dunia sejak 1981)