Mengenal Literasi Keuangan untuk Pelajar

Bagi seorang pelajar, uang biasanya datang dalam bentuk yang sederhana: uang saku dari orang tua, hadiah dari keluarga, atau penghasilan kecil dari usaha sampingan. Meski jumlahnya tidak besar, cara mengelolanya menentukan banyak hal: apakah uang itu habis tanpa bekas di tengah minggu, atau justru cukup sampai akhir bulan dan masih tersisa untuk ditabung. Kemampuan inilah yang disebut literasi keuangan, yaitu kemampuan memahami dan mengelola uang secara bijak, mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan hingga mengenali produk dan layanan keuangan yang aman.

Pentingnya literasi keuangan bagi pelajar juga ditekankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam siaran persnya pada 22 Januari 2024, OJK menyatakan bahwa pelajar menjadi sasaran prioritas program edukasi keuangan sesuai Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021–2025. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2022, indeks literasi keuangan pelajar sebesar 47,56 persen dan indeks inklusi keuangannya 77,80 persen, keduanya masih di bawah indeks nasional yang masing-masing sebesar 49,68 persen dan 85,10 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masih banyak pelajar yang perlu dibekali pemahaman keuangan sejak dini.

Pemuda tersenyum memasukkan koin ke celengan
Pemuda tersenyum memasukkan koin ke celengan. Foto ilustrasi umum: Dany Kurniawan / Pexels.

Mengenali Uang: Kebutuhan, Keinginan, dan Godaan

Langkah pertama literasi keuangan adalah mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah hal-hal yang memang diperlukan untuk belajar dan hidup sehari-hari, seperti makan siang, ongkos transportasi, dan perlengkapan sekolah. Keinginan adalah hal-hal yang menyenangkan tetapi tidak mendesak, seperti jajan berlebihan, aksesori fesyen terbaru, atau top-up gim setiap ada promo. Tidak ada yang salah dengan keinginan, tetapi ketika keinginan selalu didahulukan, uang saku akan cepat habis dan tidak ada sisa untuk keperluan yang lebih penting.

Di era digital, godaan terhadap pelajar semakin beragam. OJK mengingatkan pelajar untuk tidak mudah tergiur gaya hidup yang tidak produktif serta waspada terhadap penawaran investasi ilegal yang sering mengiming-imingi imbal hasil tinggi, pinjaman online ilegal, dan praktik judi online. Tawaran yang terlihat menguntungkan dalam waktu singkat sering kali justru menjadi jebakan yang merugikan. Prinsip sederhananya: bila suatu tawaran uang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, patut dicurigai dan didiskusikan dulu dengan orang tua atau guru.

Kebiasaan Kecil yang Membentuk Literasi Keuangan

Literasi keuangan tidak dibangun dalam sehari, melainkan lewat kebiasaan kecil yang dilakukan berulang. Pertama, catatlah pengeluaran, meski hanya di buku kecil atau aplikasi catatan di ponsel. Dengan mencatat, pelajar bisa melihat ke mana uangnya pergi dan kebiasaan apa yang paling banyak menghabiskan uang. Kedua, sisihkan uang untuk ditabung di awal, bukan dari sisa belanja. Prinsip ini berlaku untuk uang saku sebesar apa pun: begitu menerima uang, pisahkan sebagian untuk tabungan sebelum mulai membelanjakan sisanya.

Ketiga, kenali produk keuangan yang sesuai untuk pelajar. Dalam kegiatan edukasi OJK di Jakarta Selatan pada Januari 2024, salah satu produk yang diperkenalkan adalah Tabungan Simpanan Mahasiswa dan Pemuda (SiMuda), dan secara simbolis produk tabungan itu diserahkan kepada lima perwakilan pelajar. Selain itu, OJK menyediakan Learning Management System Edukasi Keuangan (LMSKU), sistem pembelajaran berbasis situs web yang memadukan animasi interaktif dan permainan. Hingga 31 Desember 2023, pengguna LMSKU telah mengakses 48.934 modul pembelajaran dan menyelesaikan 39.291 sertifikat kelulusan modul. Sarana seperti ini menunjukkan bahwa belajar keuangan kini bisa dilakukan dengan cara yang fleksibel dan menyenangkan.

Baca Juga: 5 Cara Mengatur Gaji Bulanan agar Tidak Habis di Tengah Bulan dan 7 Cara Menabung untuk Biaya Pendidikan Anak

Belajar dari Kesalahan Kecil

Setiap pelajar pasti pernah salah mengelola uang: membeli barang yang ternyata tidak terpakai, ikut-ikutan tren yang cepat berlalu, atau kehabisan uang sebelum akhir minggu. Kesalahan seperti itu adalah bagian dari proses belajar, asalkan dievaluasi. Luangkan waktu di akhir pekan untuk melihat kembali catatan pengeluaran: pembelian mana yang terasa bermanfaat dan mana yang sebenarnya bisa ditunda. Dengan cara ini, pelajar belajar mengambil keputusan berdasarkan pengalaman sendiri, bukan sekadar larangan dari orang lain.

Peran orang tua dan guru juga penting. Orang tua dapat memberi uang saku secara bertahap dan memberi ruang bagi anak untuk mengatur sendiri, sambil tetap mendampingi lewat diskusi ringan tentang prioritas. Guru dapat mengaitkan pelajaran matematika atau ekonomi dengan contoh nyata dari kehidupan sehari-hari, sehingga konsep anggaran, bunga, dan tabungan tidak terasa abstrak. Lingkungan yang mendukung akan membuat pelajar berani bertanya tentang uang, bukan malu atau takut membicarakannya.

Literasi Keuangan sebagai Bekal Masa Depan

Pada kegiatan edukasi di Jakarta Selatan itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan pesan yang layak diingat setiap pelajar: apa pun cita-citanya, belajar literasi keuangan adalah suatu keharusan, karena hal itu sangat membantu dalam menyiapkan masa depan dan terhindar dari jebakan-jebakan berbahaya yang bisa memengaruhi cita-cita tersebut. Kegiatan itu sendiri dihadiri 1.500 peserta, terdiri dari 500 pelajar SMA yang hadir tatap muka dan 1.000 peserta daring, dengan materi seputar pengenalan OJK, kewaspadaan terhadap investasi dan pinjaman online ilegal, produk dan layanan jasa keuangan, perencanaan keuangan, hingga personal branding.

Pada akhirnya, literasi keuangan bukan tentang menjadi kaya sejak muda, melainkan tentang menjadi bijak dalam setiap keputusan kecil tentang uang. Pelajar yang terbiasa mencatat, menabung di awal, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta waspada terhadap tawaran yang mencurigakan sedang membangun fondasi yang akan berguna seumur hidup. Mulailah dari uang saku hari ini, karena masa depan keuangan yang sehat selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Sumber:

Pos terkait